
Sebuah zebra cross di persimpangan jalan. Pagi ini hampir tak terlihat, samar oleh lalu lalang kendaraan bermotor yang penuh asap.
Kemarin siang, seorang lelaki penarik gerobak terserempet oleh bus patas yang berjalan cukup cepat. Penarik gerobak itu terjatuh. Tapi ia berdiri dengan susah payah dan memaki dengan keras, walau ia tahu bahwa bus itu sudah menghilang di hadapannya. Kasihan, lututnya terluka dan mengeluarkan sedikit darah bercampur debu. Air matanya keluar dan membasahi pipinya yang sudah keriput. Tidak, ia tidak menangis karena luka di lututnya, tapi ia menangis karena luka di hatinya. Tapi ia bisa apa lagi? Selain menyumpah dan memendam dendam pada setiap bus patas.
Kemarin sore, giliran ibu kawanku yang tertimpa sial. Ketika pulang dari pasar, dengan belanjaan di tangan kanan dan kirinya, ia tertabrak motor bebek. Dasar anak muda, si pengendara motor itu malah memarahi perempuan paruh baya itu, dengan alasan menyebrang tidak pada tempatnya. Padahal, jelas-jelas ia menyebrang di atas garis-garis putih yang bernama ZEBRA CROSS itu. Lengan ibu kawanku itu patah dan hampir semua belanjaannya berantakan tak tentu arah. Tapi menurutku, yang salah adalah si motor bebek. Kenapa ia hanya bisa membebek sampai akhir laju-nya? Sungguh-sungguh kurang ekor!
Kemarin lusa, terjadi sebuah insiden kecil. Rombongan pengantar jenazah yang berjalan kaki, menyebrang di ZEBRA CROSS tersebut dan hampir saja tertabrak oleh iring-iringan kendaraan bermotor yang juga sedang membawa jenazah. Masing-masing pihak tidak mau disalahkan, karena masing-masing merasa berhak melintas di jalan itu dan sama-sama merasa harus menguburkan jenazah mereka secepat mungkin. Mereka pun beradu mulut, hingga akhirnya sebuah bendera kuning terciprat merah. Jenazah pun tertunda penguburannya. Apa kata jenazah itu, ya? Mungkin mereka berdua sama-sama merasa semakin panas dan resah. Ataukah mereka malah menertawai yang terjadi?
BRAKK!!… BUM!!… DHUARR!!… JEGHERR!!… DASH!!… PRANG!!…
Pas dan tepat ketika aku menuliskan ini sambil memandangi ZEBRA CROSS itu, detik ini, sebuah tabrakan beruntun terjadi. Sebelumnya, beberapa anak sekolah dasar menyebrang dengan melambaikan tangan. Mungkin karena dalam kecepatan tinggi, sebuah mobil sedan mengerem mendadak. Disusul oleh mobil van, angkot, truk, bajaj dan dua sepeda motor yang saling menempelkan diri dengan keras.
Aneh ya, ZEBRA CROSS ini selalu meminta korban. Padahal waktu peresmiannya disaksikan oleh Pak Lurah dan beberapa pejabat setempat, bahkan para pemuka agama. Apakah jumlah garisnya tidak sesuai dengan ketetapan presiden? Atau letaknya yang kurang sesuai dengan feng shui? Atau para pekerja pembuatnya tidak ikhlas dengan upah gaji mereka?
Ah… aku tidak peduli dengan semua itu, masa bodoh. Sekarang, ya sekarang! Aku tak tahu apakah ada yang terluka atau tidak, sebaiknya aku memeriksanya sekarang.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar