
“Woi! Jangan pada berantem mulu. Malu ama tetangga!”
Teriakan Mama menghentikan gerakan Adit yang sedang menjambak rambut Nita, sedangkan Nita juga menghentikan gerakannya menendang kepala Adit. Keduanya freeze, diam tak bergerak, kayak film yang kita pause. Adit dan Nita menunjukkan ekspresi serius, penuh dendam. Wuih, serem amat!
Hitungan beberapa detik kemudian, keduanya kembali normal. Maksudnya, nggak “beku” kayak tadi lagi. Mereka sok akrab, pura-pura nggak terjadi apa-apa.
Mama berdiri di hadapan mereka, bertolak pinggang. Tangan kanannya memegang sendok sayur, sedangkan tangan kirinya memegang pacul, eh, panci maksudnya. Rambut mama yang keriting tampak semakin mekar kayak kerupuk, karena lama berada di ruang dapur yang panas. Matanya yang merah dan tajam memandang Adit dan Nita yang saling menyikut pelan.
“Kalian ini mau jadi apa? Tiap hari berantem, nggak siang nggak malem...,” ujar Mama penuh wibawa.
“Pok ame-ame, belalang kupu-kupu...,” pancing Adit.
“...kalo siang makan nasi, kalo malam minum susu,” sambung Mama latah, namun setelah itu kembali tersadar dan mengacungkan sendok sayurnya ke kepala Adit. Adit melakukan pose bertahan dan menangkis. Sementara, Nita senyum-senyum pada Adit yang juga senyum-senyum.
“Kalian bisa nggak, sopan sedikit sama mama. Mama malu kalo kalian berdua selalu ngelatahin mama, apalagi di depan umum,” kata Mama, yang sok jaim di depan kedua anaknya tersebut dan tanpa sadar telah mengalihkan pokok omelan.
Iya, latah mama memang sudah bisa dibilang tingkat siaga satu. Bahaya bin dangerous. Latahan yang keluar dari mulut mama bisa cuma satu huruf, bisa juga sampai satu paragraf. Beruntunglah latahnya nggak pernah yang jorok. Maksudnya nggak pernah latah menyebut kata “jorok” (he...he...he...).
Tapi bener lho, latah yang keluar selalu kata-kata mutiara, kalimat bijak dan pancasilais-nasionalis. Pernah suatu waktu, ketika ada acara arisan di rumah. Dimana ada arisan, disitu pasti ada makan-makan... eh salah, harusnya ramai orang-orang. Adit yang memang jahil (dalam bahasa Arab, artinya bodoh) mengagetkan mama yang sedang terlibat pembicaraan seru tentang pelestarian hutan (???) bersama teman-temannya. Adit muncul tiba-tiba dari balik rok Tante Rika dengan menunjukkan foto Bung Karno.
“Proklamasi!” pancing Adit tanpa dosa.
“... Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” Mama secara refleks menyahut dengan lancar dan panjang lebar.
Bisa ditebak, muka mama langsung merah, kayak tomat mateng yang dijual Mang Sobri, tukang sayur langganan mama. Teman-teman mama pun tertawa, kecuali Tante Rika yang tanpa sepengetahuan Adit, mukanya pun jadi merah... jambu. Gimana bisa tau, Adit kan masih di dalam roknya.
Seketika itu juga, muncullah dua tanduk di kepala mama. Gigi-giginya berubah menjadi taring-taring tajam, setajam mata pisau cukur. Mama kelihatan marah besar, terlihat api-api yang memancar keluar dari tubuhnya. Mama kali itu beda banget, pokoknya. Serem abis!
“Adiiit!! Dasar anak kurang sejajar, eh...kurang ajar. Berani-beraninya ngerjain mama, ya! Lagian kamu ngapain di situ? Keluar kamu dari rok Tante Rika. Sekaraaang!!”
Adit gelagapan. Bocah kurus yang berusia sepuluh tahun itu, belum pernah melihat mamanya bisa berubah menjadi makhluk aneh macam itu sebelumnya. Adit bergerak cepat, menyingkap rok Tante Rika dan berlari masuk kamar, melewati rok tante-tante yang lain. Dasar Adit!
Perlahan amarah mama surut dan ia mulai canggung memperhatikan orang-orang sekitarnya.
“Maafkan anak saya, Jeng Rika,” rayu Mama dengan senyum terpaksa, takut kalo Tante Rika mencak-mencak atas perlakuan anaknya.
Tanpa disangka tanpa diduga, Jeng Rika tersenyum pada mama. Wajah cantik Tante Rika malah jadi terlihat blo’on karena ekspresi malu-malunya yang kayak dinosaurus dikelitikin kemoceng.
“Oh, nggak pa-pa, kok, Mbak Dewi. Maklum anak-anak emang suka iseng, hiperaktif, bahkan kadang melakukan hal-hal yang kurang sopan. Tapi emang begitulah mereka, untung masih kecil, daripada nanti masuk rok saya kalo malah udah gede?” ujarnya sambil mesem-mesem.
Ternyata hal itu memang no problemo buat Tante Rika, tapi tidak dengan Mama. “Tak cincang si dendeng itu, nanti,” rencana Mama dalam hati, lengkap dengan logat Jogja-nya yang masih terasa.
Sementara Adit, dengan tanpa bersalahnya, membuka pintu kulkas dan melahap es krim, coklat black forest, agar-agar, ayam broiler, daging sapi mentah, cumi-cumi beku, tulang-tulang kambing buat sop,.... (lho, ini Adit atau Sumanto?!).
Itulah sekilas tentang Adit yang jahil dan mama yang latah, tapi nggak mau dilatahin. Iya lah, mana ada orang latah yang mau dilatahin, kalo nggak ada duitnya, he...he...he....
Tentang Nita, kembaran Adit itu, nggak ada yang istimewa dengannya, kecuali sifatnya yang agak kecowok-cowokan. Itu dia yang bikin Adit sering berantem dengan berbagai jurus dan gaya, apalagi kalo abis nonton film-film action kayak The One, Hero, Gladiator, Doraemon, Pokemon, Dragon Ball, Teletubbies,... Lho, kok? Iya dong, bukankah setiap film itu ada action-nya? Kalo nggak, bukan film namanya.
Seperti sekarang ini, Adit dan Nita masih menunduk saat mendengar omelan mama yang panjang dan sambung-menyambung kayak rel kereta api. Dari masalah berantem sampe latah, dari soal sikap sampe menyinggung masa lalu, dari soal biaya hidup sampe harga cabe sekilo.
Mama emang akhir-akhir ini lagi sensi berat. Ini semua bermula dari minggu lalu, saat mama dan papa merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-sebelas. Tidak dirayakan memang, tetapi beberapa keluarga dan teman dekat mama-papa menyempatkan datang ke rumah, minta traktiran. Beberapa lagi mengucapkan selamat melalui telepon, SMS, dan tagihan bon!
Mama dan papa otomatis senang sekali karena diperhatikan oleh orang-orang terdekat mereka. Tapi sekaligus sedih, karena harus mentraktir setiap orang yang menuntutnya.
Lalu apa yang membuat mama kesal? Rupanya Oom Woko. Bujang yang merasa dirinya kece padahal umurnya sudah tiga puluhan asal Jogja dan baru dua minggu jadi ilustrator majalah remaja itu, menyempatkan datang ke rumah pada hari H dan memberi hadiah. Lalu? Adik mama yang plonga-plongo itu memberi seekor ayam jago, satu-satunya milik dan kesayangannya. The one and only...
“Tolong jaga dia, seperti mbakyu menjaga perkawinan dengan mas Dewo. Namanya Muhammad Ali. Liat saja lehernya yang gede dan jenggernya yang merah menyala,” kata Oom Woko dengan logat Jawa yang kental dan sambil senyum (sama sekali nggak manis, malah menyedihkan).
“Lehernya gondokan kali, makanya gede,” tuduh Mama dengan raut jijay-bajay ketika memegang keranjang tempat Muhammad Ali yang lumayan kotor dan bau..
“Enak wae, ayam ini sehat wal’afiat. Sudah teruji secara klinis di departement-departement store terkemuka di seluruh babad tanah Jawa,” bela Oom Woko tentang ayam pemberiannya. Mama pun mengangguk nggak ngeh.
Selama jangka waktu seminggu itu pula, mama merasa tersiksa. Bagaimana tidak, jam dua pagi tuh ayam udah berkokok, “Kukuruyuk... kukuruyuk”. Jam tiga pagi, berkokok lagi, “Kukuruyuk... kukuruyuk... kukuruyuk”. Persis kayak jam wekernya Nita yang bawel. Jadi selama seminggu ini, mama tidak bisa tidur nyenyak, kalo di istilah medis namanya amnesia... (Btw, bagus amnesia atau insomnia?!).
Itu belum seberapa. Muhammad Ali ini ternyata ayam modern, walaupun asalnya dari kampung, karena mungkin kebanyakan gaul ama turis di tempat asalnya dulu. Muhammad Ali nggak suka makan beras, gabah, pur, dedak, apalagi nasi sisa. Ayam funky ini nolak kalo diberi semua itu, ia lebih tertarik dengan makanan manusia. Terbukti ketika Adit sedang makan burger di teras depan, Muhammad Ali menghampiri dan mematok-matok burger di tangan Adit. Ketika papa sedang makan sup jagung, Muhammad Ali pun ikutan nimbrung. Saat Nita makan ayam goreng, Muhammad Ali dengan sukses mencurinya pergi. Masa ayam makan ayam?
Mama senewen, semua masakannya dimakan ayam. Belum lagi perilaku Muhammad Ali yang sok manusia. Ia suka nonton telenovela, sama kayak mama. Pernah beberapa hari yang lalu, saat mama sedang menangis karena adegan telenovela, ia mengira yang duduk di sebelahnya adalah papa. Saat tangis mencapai puncak, mama memeluk Muhammad Ali sambil sesenggrukan. Cieeh... shoulder to cry on nih, ceritanya. Tetapi betapa terkejutnya mama, ketika mengetahui yang ia peluk ternyata adalah si Ali. Sedangkan, yang dipeluk malah senyum-senyum dan malu-malu ayam (bukan kucing).
“Pantesan, baunya kayak ayam!” ujar Mama saat cerita sama papa.
“Gimana rasanya meluk ayam. Enak? Anget?” tanya Papa penuh rasa cemburu.
Sedangkan ayam bongsor itu, kini semakin merasa menjadi anggota keluarga Adit; mulai berani masuk-masuk kamar mandi kalo kebelet, ke dapur kalo mama lagi masak, tidur di kamar Nita, jalan-jalan di genteng, nonton berita gosip di tv, ngemil kembang mama di ruang tamu, de-el-el.
* * *
Akhirnya omelan mama selesai juga. Adit dan Nita menghapus peluh di dahi dan ketiak mereka. Adit menaruh tangannya yang basah keringat ke mulut Nita. Nita megap-megap dan meninju perut Adit keras-keras.
Baru saja mereka hendak mulai pertarungan lagi, datanglah si Muhammad Ali. Dengan cueknya, ia melintas di antara mereka. Adit dan Nita melongo kesal. Nita yang memang lebih gampang emosian, mengambil sendal jepitnya dan menimpa keras-keras ke arah Muhammad Ali. Sendal jepit Nita tepat mengenai kepala si Ali, membuat ayam cuek itu tersungkur ke depan.
Adit dan Nita sempat terkejut juga karena tembakannya yang tepat. Muhammad Ali kembali berdiri dengan sedikit oleng, kayak habis minum jus tape campur deterjen. Ayam itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menyadarkan dirinya. Lalu dengan cueknya kembali berjalan, menuju dapur. Ia sempat melirik sesaat ke arah Nita dengan tatapan sinis.
“Adiit! Keluarin nih ayam, nggangguin aja,” teriak Mama protes dari dalam dapur.
“Kalo mama kesel, panggang aja...”
Belum selesai Adit mengajukan saran, mama menggiring Muhammad Ali dengan sapu menuju keluar, melewati Adit dan Nita. Muhammad Ali berjalan tergesa-gesa karena didorong-dorong dengan sapu, tapi sempat melirik ke arah Adit. Tatapan yang sama. Adit dan Nita beradu pandangan, bahu mereka kemudian terangkat dan memberi gestur “masa bodoh”.
Keesokan harinya, mama bangun menjelang pukul setengah enam. Ia kaget dan langsung membangunkan suaminya untuk kerja, lalu berlari ke kamar Adit dan Nita untuk membangunkan mereka sekolah. Sementara yang lain mandi dan bersiap, mama menyiapkan sarapan sambil ngantuk-ngantuk ria. Sempat mama hampir nyusruk ke dalam tempayan, saking ngantuknya.
Sepulang sekolah, Adit dan Nita mendapati mamanya yang sedang menangis di sofa ruang tamu.
“Muhammad Ali... Muhammad Ali...,” histeris mama.
“Kenapa dengan Muhammad Ali, Ma?” tanya Adit dan Nita berbarengan.
“Muhammad Ali... Muhammad Ali...”
“Iya tau nama ayam itu Muhammad Ali. Emangnya kenapa? Kalo kangen ke kandangnya aja, Ma.”
“Dia mati...,” jawab Mama.
“Ko’it?” tanya Adit dan Nita, masih berbarengan.
“Tewas.”
“Gugur?”
“Mangkat.”
“Tiada?”
“Meninggal!”
“Innalillahi wa innalillahi roji’un,” Adit dan Nita mengelus dada turut prihatin. Tapi beberapa saat kemudian, mereka tampak terkejut dan saling berpandangan cemas.
Pasalnya, mereka teringat atas tindakan mereka kemarin sore. Gara-gara kesal karena dipelototin Muhammad Ali, mereka menaruh racun tikus di makanan malamnya. Padahal Nita sempat menanyakan, ”Nggak apa-apa nih? Ntar mati, nggak?”
“Gak mungkin, tikus aja gak mempan, apalagi si Muhammad Ali,” ucap Adit yakin seratus satu persen.
Tapi sekarang, kenyataannya? Keringat dingin membasahi tubuh mereka berdua. Terlebih lagi setelah mereka betul-betul menyaksikan jenazah Muhammad Ali. Tubuhnya kaku dan matanya melotot, seolah menatap sengit ke arah Adit dan Nita.
“Mama harus bilang apa nanti sama Oom Woko?” tangis mama.
Adit dan Nita merasa bersalah. Mereka memeluk mama untuk menghiburnya. Jadilah mereka berpelukan dan menangis bersama, kayak Teletubbies.
“Nggak apa-apa ya, Ma. Oom Woko juga pasti ngerti. Mungkin sebetulnya dia juga gak suka sama ayam itu, jadi dikasih ke kita,” hibur Nita.
“Tapi mama merasa bersalah, karena gak nepatin janji buat jaga Muhammad Ali.”
“Kan Adit udah bilang, mending dipanggang aja...”
“Kalo tau kayak gini, mama juga mau jadiin sate ayam,” sesal Mama, yang disambut senyum lega si kembar nakal.
“Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, kan, Ma?”
“Tapi namanya Muhammad Ali, bukan Hikmah.”
“Ya udah deh, terserah mama. Sekarang kita masuk ke dalam yuk. Adit sama Nita udah laper berat nih, Ma.”
“Yuk, mama juga laper. Dari tadi pagi belum makan”
“Gara-gara Muhammad Ali?”
“Bukan, emang Mama lagi males masak.”
“Yaaa, trus sekarang kita makan apa dong?”
Mereka bertiga saling beradu pandang, lalu menoleh ke belakang, melihat Muhammad Ali yang terbujur kaku. Mama, Adit dan Nita tersenyum licik.
Malam harinya, kembar badung itu berbicara empat mata di dalam kamar. Adit dan Nita menyesal, mereka telah berbohong pada mama. Mereka juga telah membunuh makhluk ciptaan Tuhan. Sekarang mereka merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk jujur saja pada mama.
Mereka pun keluar kamar dan menghampiri mama dan papa yang lagi nonton televisi. Mereka jujur dan terus terang.
Maka, malam itu terungkaplah semua. Mama pastinya shock, tinggal papa yang berusaha menenangkannya. “Apa??! Jadi kalian? Pokoknya nggak ada uang jajan selama sebulan, titik!” Mama pun mengetuk palu hukumannya.
“Pake koma, deh, Ma,” rayu Adit.
“Nggak! Titik. Just titik.”
Yah, semua kejadian memang ada hikmahnya, setiap perbuatan memang ada pertanggungjawabannya. Tapi jujur dan ikhlas memang menjadi satu kunci dari semuanya, sebaiknya.
Jakarta, 1 Desember 2003

Tidak ada komentar:
Posting Komentar