Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

26/06/08

Main Hati Dengan Siti Main Hati Dengan Siti Main Hati Dengan Siti

Aku menangis ketika akad nikah seminggu yang lalu. Semua menenangkan dan ikut terharu. Padahal aku menangis karena Siti, kekasihku yang dulu.

Malam pertama aku lalui dengan gemetar, karena baru kali itu aku melaluinya, dengan selain Siti. Aku mematikan lampu, istriku menyangka bahwa aku terlampau gugup atau malu. Padahal sebenarnya aku hanya bisa bercinta dengan membayangkan tubuh Siti-ku.

Seminggu berlalu tanpa cumbu. Yang ada hanya istriku yang terus merayu. Namun apa daya, hatiku tak mampu menepis cinta yang terlanjur membiru pada kekasihku yang dulu.

Dua puluh satu menit yang lalu aku menelpon Siti. Aku bilang kalau aku ingin kawin lagi. Tentunya dengan Siti. Siti menolak dengan alasan aku terlampau bodoh untuk kembali.

Lima menit yang lalu aku bicara dengan istri. Aku mengakui kalau aku sudah main hati, dengan Siti. Di luar perkiraanku yang seharusnya istri marah, ternyata malah tersenyum. Ia menyuruhku kawin lagi. Tapi, ia yang pergi.


***
Jakarta, 21 Juni 2008

Siti Naik Kereta

Siti sampai di stasiun Jakartakota siang itu. Ia rupanya ingin kembali bernostalgia. Biasanya ia diantar supir, namun karena ini adalaah hari ulang tahunnya, maka ia memutuskan untuk naik kereta ekonomi saja. Jangan tanya pada saya apa hubungan antara ulang tahun dengan kereta, itu hanya Siti yang tahu. Sempat saya mencuri dengar ketika Siti berbicara dengan Stephanie, Situ selalu teringat akan aroma tubuh Pongky yang mendekapnya dalam kereta ekonomi. Maka itu, kini ia kembali naik kereta. Ah, kenapa jadi bertele-tele, ya? Sudahlah.

Siti tertegun ketika ia memasuki peron. Banyak sekali orang yang menunggu kereta. Lalu keretanya mana? Belum ada satu pun batang hidung kereta-kereta itu. Panjang umur, beberapa menit kemudian satu kereta jurusan Bekasi tiba. Kereta orange-biru itu langsung diserbu calon penumpang. Penumpang banyak yang membawa kardus-kardus besar, sepeda dan tas punggung. Beberapa orang menyenggol tubuh Siti, entah sengaja atau tidak, menuju arah kereta tersebut. Siti terhuyung, lalu merasa lehernya perih. Kalungnya telah dicuri. Siti tidak berteriak, karena ia tahu tidak akan ada gunanya. Ia hanya menyeka sedikit darah dengan tissue.

Kereta tujuan Bogor akhirnya tiba. Kereta itu bahkan diserbu calon penumpang yang dua kali lipat banyaknya. Siti terpaksa mengikuti arus masuk ke gerbong dua. Jangankan duduk, berdiri pun susah. Lampu di dalam gerbong yang tidak menyala membuat para penumpang berkeluh kesah. Tiba-tiba, bokong Siti serasa ada yang menjawil. Kali ini Siti teriak. Namun percuma, karena suara penjual pita rambut lebih keras dari teriakan Siti.

Turun di stasiun Tebet, wujud Siti sudah tidak karuan. Rambutnya berantakan dan pakaiannya pun jadi lecek. Lehernya perih dan bokongnya dijawil. “Lain kali aku naik kereta sama Mas Pongky aja,” batinnya. Jangan tanya saya kenapa dia punya konklusi demikian, karena saya bukan Mas Pongky.


***
Jakarta, 26 Juni 2008

21/04/08

RI 10

“Kamu tahu RI 10 itu siapa?”
“Tidak. Kenapa?”
“Hampir menabrakku di Lenteng Agung. Mentang-mentang pejabat, seenaknya aja kalau di jalan umum. Padahal kalo dipikir-pikir, semua orang juga punya kepentingan.”
“Oh.”
“Kok cuma ‘oh’?”
“Ya dimaklumi saja, ayahku memang begitu.”


***
Jakarta, 21 April 2008

18/04/08

Gantung

Charger itu kini meracau pada Compo dan Hair Dryer, karena dirinya yang sudah tidak disentuh lagi oleh pemiliknya.

“Sial, kalau sudah tidak mau ya bilang saja. Jangan didiamkan seperti ini!” ucap Charger setengah berteriak.


“Yah, jangan protes sama saya dong. Kalau mau, bikin aja korslet listrik di rumah ini. Biar terbakar dan…” sahut Hair Dryer terpancing emosinya.


“Dan kita juga meleleh, mati. Mau?” timpal Compo.


Semuanya terdiam. Charger dan Hair Dryer mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Padahal, kalau kalian tahu, aku juga sakit hati karena tidak pernah digunakan. Kalian pikir enak cuma dibuat alas kipas angin atau alat make up? Kita ini sama-sama digantung, tidak jelas mau diapakan. Kita cuma menunggu, tanpa tahu menunggu apa sebenarnya,” Compo berbicara dengan lirih, suaranya pun agak serak.


Tak lama, pemilik barang-barang elektronik itu masuk ke dalam kamar. Ia mengangkat charger. Charger senang karena dirinya merasa akan benar-benar digunakan kali ini. Tapi ternyata, pemilik itu malah memasukkannya ke dalam kardus, begitu juga dengan compo dan hair dryer.


“Sayang, buruan dibuang. Barang-barang rusak gitu kok tetep disimpan sih?” ucap seorang perempuan dari ruangan lain.


Lelaki itu mencium charger, compo dan hair dryer dengan khidmat, sebelum ia menghibahkannya ke tukang loak yang menunggu di depan pagar rumah.





***
Jakarta, 15 April 2008

14/04/08

Sisir Biru

Sisirku tergeletak pasrah di meja dekat lemari baju. Tampaknya ia menunggu untuk kusentuh. Aku tahu, dengan dua minggu lebih mengacuhkan mungkin membuatnya sakit hati. Selama itu pula aku tidak menggunakan sisir sama sekali. Sebenarnya ini tidak perlu terjadi seandainya saja ia tidak mengecewakanku. Coba bayangkan, di depan perempuan yang kutaksir selama tujuh bulan terakhir itu, sisirku keluar dari saku belakang ketika aku berdiri. Ia membawa serta gumpalan-gumpalan ketombe… dan jatuh di meja cafĂ©. Tepat di depan matanya. Hancur harapanku, sekarang aku bahkan tidak dapat menghubungi perempuan itu lagi. Mungkin karena lantaran aku terlalu jorok di matanya. Sekarang, aku pun berlaku sama pada sisir biruku. Aku membiarkannya tergeletak tanpa pernah kusentuh lagi.

Mungkin sebentar lagi aku buang.


***
Jakarta, 14 April 2008

10/04/08

Kembali Kanak-Kanak

Kamu tahu, ketika Peterpan kembali ke Neverland, dia mendapati dirinya yang terlalu dewasa. Keceriaan masa kecil itu sempat hilang, hingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa mengingatnya, mengembalikannya. Menyesalkah Peterpan mengetahui itu semua? Mungkin. Tapi satu yang pasti, ia senang kembali ke Neverland. Bertemu kawan-kawan semasa kecil sungguhlah menyenangkan. Di sana, ia tidak takut melanggar aturan, karena mereka sendiri yang membuat semua aturan.

Beberapa saat kemudian, Peterpan kembali terseret ke dunia nyata. Ternyata hanya mimpi ia kembali ke Neverland. Kenyataan memang tak semanis yang ia pikirkan, tapi juga tidak begitu pahit jika dirasakan. Maka, dengan lemas ia pergi ke toilet, untuk buang air kecil. Lalu berkaca di cermin, hendak mencukur kumis dan jenggotnya yang selalu tumbuh lebat. Betapa terkejutnya ia, melihat bayangan dirinya di cermin yang kembali muda.

Dan Tinkerbell pun mengintip tersenyum di balik pintu.


***
Jakarta, 23 Maret 2008

25/03/08

Berdiri Di Tengah Hujan

Bulir-bulir hujan tadi kini berubah menjadi derai-derai air mata langit yang turun deras menerpa kepalaku. Aku tahu benar bagaimana rasanya dibohongi, diperlakukan semena-mena dan diberi minum air sabun. Bahkan, aku tahu benar bagaimana caci maki menjadi menu utamaku setiap pagi. Aku mencoba sabar, berharap esok akan lebih baik dan semua ketakutanku akan terbayar dengan senyuman. Tapi kenyataannya, hari ini kau pergi. Aku sendiri kau tinggalkan tanpa secarik pesan kecil berisi kata-kata kasar di lemari pendingin seperti kemarin atau kemarinnya lagi.

“Ia akan baik-baik saja,” ujar seorang bertubuh gempal di sebelahku yang sama sekali tak kukenal. Ia menggunakan payung besar warna merah untuk menahan hujan. Aku menjadi teduh karenanya.

“Tidak, aku yang akan baik-baik saja, bukan?”

“Yah, itu juga,” ia tersenyum.

Aku memang akan baik-baik saja, tapi aku pasti akan sangat rindu denganmu nanti. Seorang perempuan di tandu tak berdaya menuju ambulance.

Tempat ini kemudian menjadi sangat ramai dan terdengar beberapa gunjingan tentang bagaimana ibu menganiaya aku. Ya, hanya aku. Itu dia yang membuatku tak habis pikir. Dan aku menjawabnya hari ini.

“Selamat tinggal ibu,” ucapku lirih.


***

Jakarta, 20 Maret 2008

18/03/08

Lari Untuk Menang

Sejenak, di sela-sela batang rerumputan basah, seekor jangkrik bersembunyi dari kejaran beberapa anak manusia. Jantungnya berdegup kencang. Ia memang berhasil melarikan diri, tapi anak-anak manusia itu sudah terbiasa menangkap para jangkrik. Setelah ditangkap, biasanya jangkrik akan diadu dengan sesamanya. Atau paling beruntung, jangkrik-jangkrik itu dimasukkan ke dalam kandang bambu sekedar untuk dipelihara dan didengar suaranya, sampai mati. Namun jangkrik yang satu ini tidak mau menerimanya, ia tidak rela nyawanya disabung dengan cara seperti itu. Sekedar untuk meninggikan martabat? Atau karena ia merasa punya hak untuk hidup lebih lama? Tidak. Lalu apa alasannya? Jangkrik ini hanya tidak ingin harga dirinya diinjak-injak dan tunduk pada manusia yang katanya makhluk superior itu.

Seketika, jangkrik pemberani ini menemukan cara untuk lari, bukan dari masalah, tapi ke arah sebaliknya. Jangkrik ini berlari mencari perhatian anak-anak manusia itu. Ya, anak-anak manusia itu melihatnya, lalu mengejar dengan suara yang ramai. Jangkrik terus berlari, melompat dan melesat, ke arah semak berduri. Dari kejauhan, terdengar suara teriakan-teriakan mengaduh beberapa anak manusia.


***

Jakarta, 14 Februari 2008

HATIMU TAK LAGI DI SINI

Ketika kau pergi, yang kurasa hanya tiada. Bahkan hatiku tak juga kehilangan meski sebenarnya aku ingin merasakan itu. Jangan bertanya mengapa aku tidak merasakannya, tapi tanyalah pada dirimu sendiri mengapa aku sampai tidak memikirkanmu sama sekali.

Kenyataan bahwa kau meninggalkanku tanpa alasan adalah salah satunya. Kau membuatku berpikir bahwa itu salahku. Kau tahu, aku sampai berhari-hari membiarkan tubuh ini dimakan rayap. Rapuh. Sampai hampir rebah mencium tanah.

"Maaf..."

"Untuk apa minta maaf?"

"Karena telah membuatmu dimakan rayap."

Begitu ujarmu. Aku pun tersenyum dengan senyum paling sempit seluruh dunia.

"Bukan, aku dimakan rayap bukan karena dirimu, tapi karena pilihanku sendiri."

"..."

Kau diam. Aku sarkastik.



***

Jakarta, 12 Maret 2008

19/01/08

Dear Reyna

Dear Reyna,

Apa kabarmu di sana? Rindukah kamu padaku? Pada lelaki yang telah menyesap peluhmu dalam-dalam dan memelukmu dalam diam? Ya, aku masih mengingatnya. Masih sangat mengingatnya. Hingga terkadang untuk tidur pun sulit, karena tersiksa dengan kenangan tentangmu.

Hampir sepanjang hari ini, aku tidak melihat matahari. Padahal kau tahu, aku sangat suka dengan matahari. Dia membuatku merasa hidup dan berpeluh ditengah segala kebisingan kota tempatku tinggal. Apa lacur, banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Banyak ide yang harus kucurahkan, bahkan terkadang aku memerasnya demi sebuah kata.

Kamu terus mencoba menghubungiku, tapi seringkali aku abaikan. Aku minta maaf. Aku hanya berusaha bersikap adil, dengan dirimu dan dirinya. Kau tahu? Itu berat sekali rasanya. Berat untuk membagi rata hatiku menjadi dua.

Semalam aku bermimpi, mendengar desah suaramu, merasai tubuhmu dan melihat kau berjalan anggun ke arahku. Tapi hanya itu. Setelahnya, aku tidak ingat lagi. Kau mengingatkan aku sekali lagi tentang malam itu, tentang malam dimana sinar rembulan menyusup melalui kegelapan daun-daun lontar dan jatuh tepat di wajahmu yang merona. Bibirmu pun terbasahi embun yang jatuh perlahan dalam hitungan waktu. Hmm... aku rindu padamu... sangat.

***

24 mei 2007

19/12/07

Yume Oi Bito


Semua orang di kotaku panik, mereka semua keluar rumah. Anak-anak, orang tua, ibu, kakak, nenek, mbah Poniran, sampai hansip Jupri juga tampak terkejut atas apa yang terjadi. Semua orang menengadah ke atas. Ke arah langit. Ya, aku juga diantara mereka. Aku satu diantara kerumunan orang-orang dewasa. Aku melihat benda besar, bulat, pipih dan berhenti tepat di atas lapangan bola. Bunyinya seperti desingan motor matic milik Kak Marcell yang sudah dimodifikasi.

“UFO!”

“Bukan, itu antena parabola pak Sardi!”

“Nggak mungkin, itu di atas lapangan bola, kok!”

“Lha, trus itu apa?”

“Masa sih UFO?”

Benda besar bulat pipih itu menghentikan bunyi desingannya. Bagian bawahnya membuka. Beberapa orang terpekik. Bahkan, tidak jarang yang lantas melarikan diri, berlari sekuatnya, sampai menabrak yang lain. Aku masih terdiam, memandangi dengan takjub fenomena aneh itu. Mungkin saja, ini akan jadi hari paling bersejarah dalam hidupku.

Bagian bawah itu seperti pintu, kini telah terbuka sepenuhnya. Kemudian keluar darinya beberapa sosok yang meluncur dengan papan seperti skateboard. Mereka berjumlah belasan, yah, setidaknya demikian yang bisa aku lihat. Beberapa orang makin histeris. Mereka seolah kehilangan akal sehat. Menabrak, menginjak dan menerjang siapapun yang menghalangi langkah mereka. Mbah Poniran ikut lari sambil terkencing-kencing, hansip Jupri langsung pingsan, ibu Rena yang sedang hamil sampai-sampai tersandung tubuh gempal si hansip dan terjatuh.

Sosok-sosok itu meluncur makin menuju bumi. Aku bisa melihat mereka yang berwarna keunguan. Tubuh itu memantulkan sinar saat terkena sinar matahari. Pantulan-pantulan itu terlihat berwarna-warni. Aku suka.seperti pelangi. Aku tidak pernah melihat pelangi, padahal ayahku sering bercerita tentang pelangi. Ia sering bercerita tentang Yume Oi Bito, lelaki yang memegang pelangi. Ayah bilang kalau sekarang pelangi enggan muncul, karena sibuk dengan urusannya sendiri, ayahku hanya sering menggambarkan di buku gambarku akan pelangi. Sekarang, aku benar-benar melihatnya.

Sosok-sosok itu mendekati orang-orang yang berlarian. Belum sempat aku memperhatikan apa yang terjadi pada mereka, satu sosok mendekat. Tepat didepan wajahku. Sosok itu berkilauan, dengan wajah mirip manusia pada umumnya. Dia seolah bingung melihatku yang malah tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum?”, tanyanya.

“Karena aku melihat warna. Aku melihat pelangi,” jawabku riang.

“Kenapa tidak ikut lari?”

Aku menggelengkan kepalaku. Lalu tanpa disadari tanganku terjulur sambil mulutku berkata, “Bawalah aku.”


***


Jakarta, 14 Juli 2007

Bulan Separuh


Nanda adalah anak tetanggaku. Tetanggaku yang bekerja sebagai tukang tambal ban. Ia seringkali merasa tidak pede dengan pekerjaan ayahnya. Berkali-kali aku melihat Nanda ribut dengan ayahnya. Entah itu karena minta dibelikan sepeda atau karena ingin minta tambah uang jajan sekolahnya.

Hmm, bisa sekolah saja sudah suatu keuntungan besar buat kamu, batinku suatu ketika.

Ayah Nanda yang paruh baya itu kondisi fisiknya makin lemah dari hari ke hari. Kemarin sore bahkan kulihat ia berpegangan pada pintu pagar ketika hendak berangkat menambal ban. Ia memegang gagang pagar itu cukup lama. Wajahnya tertunduk. Bahunya naik turun. Aku pun berusaha menghampirinya.

“Ada apa Pak Prawiro?”

“Ah, eh.. tidak apa-apa kok, Nak.”

“Bener, Pak?”

“Bener, Nak Friska. Cuma pusing sedikit saja, kok.”

Lantas, ia menegapkan badannya dan kembali melangkah. Ia tersenyum padaku, lalu menaiki sepeda tuanya. Aku masih memperhatikannya sampai tikungan pertama. Ia menghilang.

Sore itu, ketika aku baru saja pulang bermain dari rumah temanku. Aku melihat Nanda sedang marah-marah. Sampai keluar ke jalan. Siapa lagi yang dimarahi kalau bukan ayahnya. Walau ia cuma hidup berdua dengan ayahnya, tapi ia tak sedikitpun merasa sayang. Entah kenapa.

Para tetangga berusaha melerai. Namun Nanda berontak. Walaupun masih kelas lima SD, Nanda memang bertubuh gemuk. Tenaganya pun besar. Aku saja pernah melihatnya memukul ayahnya, hingga pipi sang ayah memar.

Pertengkaran sore itu berakhir dengan Nanda yang membanting pintu pagar bambu dan Pak Prawiro yang menangis tertunduk di mulut pintu rumah. Di dekat Pak Prawiro, ada raport Nanda. Raport dengan banyak angka merah. Rupanya, menurut tetangga, Pak Prawiro kecewa dengan hasil belajar anaknya. Tapi yang ada, mlah Nanda yang memarahi balik ayahnya karena kurang memperhatikan dan memberi uang jajan sedikit dan sebagainya... dan sebagainya.

Malam terang. Bulan hampir purnama. Aku duduk di loteng rumah sambil membayangkan bisa terbang ke bulan. Sayup-sayup aku mendengar seorang tetangga yang berteriak, “Pak Prawiro... Pak Prawiro!!”

Aku turun, aku melihat tetangga ramai. Pak Prawiro digotong masuk ke dalam rumah. Lelaki tua itu meninggal dunia. Entah dimana Nanda sekarang.


***

Jakarta, 3 Juli 2007

13/12/07

Suatu Siang di Perempatan Kota


Helios berdiri sendiri. Di tengah keriuhan kota dan kini menatap tajam ke arah puncak bangunan tertinggi yang dikaguminya. Saat itu pukul dua belas siang, sudah waktunya ia melakukan apa yang harus dilakukan. Hal itu sudah lama ia simpan, ia rahasiakan, ia jaga, dari siapapun atau apapun yang mencoba mencurinya.

Sudah waktunya, batin Helios mantap. Maka ia pun menghembuskan nafas kuat-kuat, lalu melangkah dalam riuh keseharian kota.

Ia bukannya tidak memiliki orang yang sanggup untuk berbagi rahasia, ia bahkan memiliki sahabat-sahabat terdekat yang tak terhitung jumlahnya. Terlebih lagi dengan Wulan, dara itu bahkan telah mengisi hati dan jiwanya selama lebih dari tiga masa terakhir. Ia banyak menggantungkan cita-cita serta beberapa keinginan, bahkan yang mustahil sekalipun padanya. Begitu berharganya, Helios tidak sampai hati untuk menyentuhnya sedikitpun. Sebuah asa serta jawaban atas do’anya selama ini dan ia tidak berani memberitahukan rahasianya.

Begitu berartinya rahasia itu, sampai paksaan dan derita ia alami untuk tetap mempertahankannya. Begitu besarnya rahasia tersebut, sampai ia sendiri merasa terbebani dan memutuskan untuk mengungkapkan pada semuanya siang ini. Sempat ia hampir mengurungkan niatnya, berulang-ulang kali sebelumnya bahkan, namun ia sudah merasa lelah terdesak musuh-musuhnya. Ia memilih pukul dua belas, sesuai dengan angka keberuntungan yang selama ini dipegangnya.

Helios tidak membawa apa-apa selain rahasia itu, polos dan utuh, tidak seperti yang terbayang mengenai figur seorang pembawa rahasia besar yang akan mengubah dunia.

Dan Helios akhirnya memberitahu rahasianya. Pernyataan dan kenyataan bahwa ia bukan lahir dari rahim ibunya, serta jumlah udara yang bisa bersamanya tak lama lagi. Maka, semua orang berpikir dan merenung tentangnya. Enam puluh kaki, Helios melihat ke bawahnya.

***

13 Juli 2005

07/12/07

Kucingku Namanya Kucing


Kucingku namanya Kucing. Ia suka sekali menggigit-gigit ujung bantal tempat tidurku. Sampai robek-robek karenanya. Dulu, kucing itu aku ambil dari bak sampah. Waktu itu bulunya berwarna abu-abu cokelat. Setelah aku bersihkan, ia jadi berwarna abu-abu cerah dengan belang putih. Kucing sangat lucu. Aku suka. Tiap pulang sekolah ia selalu menghampiriku di pintu pagar. Mengeong sejenak, lalu menggesek-gesekkan punggungnya di kakiku. Ia dengan setia menungguku selesai makan siang, entah itu untuk menunggu tulang ikan atau sekedar menjilati piring makanku.

Malam hari, Kucing tidur denganku. Tapi tentunya tidak satu tempat tidur. Ia aku buatkan tempat tidur khusus yang aku buat sendiri dari kardus bekas. Cukup nyaman kurasa. Aku menambahinya dengan kain-kain perca sisa jahitan ibu. Kucing memang dasarnya nakal, tetap saja kain-kain itu robek-robek habis ia gigit.

Tubuhnya kini bertambah besar, ia mulai mengasah kedua kuku kakinya di kaki meja belajarku. Aku sering memarahinya. Pernah aku memukul kepalanya dengan penggaris plastik. Tapi setelah itu aku dimarahi oleh ibu, katanya tidak baik memukul binatang. Aku menyesal. Aku juga disuruh oleh ibu meminta maaf pada Kucing. Tapi dasar kucing, ia malah melengos pergi saat aku membungkuk untuk meminta maaf.

Suatu ketika, aku pulang sekolah mendapati kaki kiri belakang Kucing terluka. Ayah memberi tahu bahwa tadi Kucing terlindas sepeda si Arif. Huh, aku sebal dengan cowok itu. Ia selalu bertindak kasar. Mungkin ia satu-satunya teman di komplek rumahku yang aku jauhi. Katanya, ia baru mendapat sepeda baru hadiah ulang tahun pemberian pamannya. Tapi kalau digunakan untuk yang tidak terpuji, buat apa? Aku buru-buru membantu ayahku membalut luka Kucing. Kucing itu seolah meringis saat aku lumuri obat merah. Aku tersenyum. Kata ayah, binatang tahu kalau kita berbuat kebaikan untuknya. Ayahku yang memang dokter selalu memberi penjelasan menarik tentang banyak hal, khususnya yang berbau kesehatan.

Hmm, aku berharap Kucing akan selalu menemaniku, saat ujian sekolah beberapa hari lagi, saat aku masuk SMP, selama aku duduk di bangku SMU, bahkan sampai kuliah, kalau perlu sampai aku tua. Tapi akankah seperti itu? Aku melihat ayahku hanya menggeleng sambil tersenyum padaku. Selesai diobati, Kucing melompat ke arah meja makan. Ya, kami akan makan bersama, karena sekarang sudah saatnya makan siang.


***

4 Juli 2007

Pelajaran Batu


Ketika pulang sekolah, kaki Rina tersandung batu. Ia meringis kesakitan. Lutut kanannya berdarah. Sisi dan Rayni mengantarnya pulang. Sisi dan Rayni memang teman sekelas Rina di sekolah dasar. Rina pulang dengan kaki terpincang-pincang. Sesampainya di rumah, ibu segera membasuh luka dan mengobati Rina.

“Uuh, kenapa sih harus kesandung?”

“Yah, itu namanya sudah qodar dari yang di atas, Rina,” jawab Ibu memberi pengertian.

“Tapi sakit, Bu,” tangis Rina kembali tumpah.

“Sabar, ya. Beberapa hari lagi juga sembuh.”

“Rina nggak mau sekolah besok!”

“Kenapa?”

“Kaki Rina sakit banget, Bu.”

Ibu Rina tersenyum dan mengusap kepala Rina sekali.

“Ibu dulu juga beberapa kali terluka. Waktu belajar naik sepeda, lutut ibu juga sempat berdarah. Tapi, itu nggak menjadikan ibu kapok belajar sepeda. Ibu malah makin semangat. Karena di dalam luka ada pelajaran. Nah, pengalaman seperti itulah yang membuat kita tahu dan tidak mengulangi kesalahan.”

Rina mengusap air matanya. “Tapi kan, sakit.”

“Buktinya sekarang ibu bisa naik sepeda, malah bisa mengantar kamu ke sekolah naik sepeda.”

Rina tersenyum, ibunya mengangkat sebelah alis sambil membalas senyum Rina.

“Umm, Qodar itu apa, sih, Bu?”

“Qodar itu ketentuan Allah yang harus kita jalani. Dari situ kita diuji apakah kita bisa melaluinya atau tidak.”

“Kalau tidak?”

Ibunya menggeleng ringan. “Kita pasti bisa melaluinya, sayang.”

Rina kini tersenyum.

“Nah, gitu, dong. Kalau anak ibu senyum gitu kan manis. Eh, ibu ada es krim di kulkas. Kamu mau?”

“Rasa coklat, Bu?”

Ibu mengangguk mengedipkan sebelah matanya.


***


Depok, 11 September ‘07

Gandari


Malam semakin beranjak dewasa. Sang rembulan mulai tertatih menyelamatkan malam, terserang berkali-kali oleh barisan kabut kelabu. Sementara, bintang gemintang laksana glitter yang berkelap-kelip di hamparan beludru hitam. Nun jauh di ufuk, mulai terlihat semburat-semburat tipis cahaya fajar. Ya, segera saja malam akan semakin tergusur, berganti tugas dengan surya yang menyirami semesta dengan sinarnya.

Gandari masih terjaga, bahkan ia belum tidur semenjak kemarin. Rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai. Sementara, matanya tampak lelah dan kuyu. Ia menatap semburat fajar yang semakin meraja, dari jendela yang menghadap ke timur. Entah sudah berapa lama ia terduduk di sebuah kursi kayu berukir naga tersebut. Tidak ada apa-apa di ruang yang desebut sebagai ruang perenungan itu, ruang yang biasa dipakai untuk memutuskan masalah pelik yang sering menimpa keluarganya, kecuali dua kursi kayu silinder berukir naga tadi dan sebuah cermin besar di salah satu sudut ruangan.

Suram, begitulah kesan pertama yang ia rasakan ketika pertama kali memasuki ruang tersebut. Hanya ada satu pintu masuk yang juga terbuat dari kayu ukiran yang sangat berat untuk dibuka, juga sebuah jendela yang menghadap ke timur. Dinding merah bata yang tampak telah terselimuti sarang laba-laba di keempat sudutnya, membuat sedikit ciut nyalinya ketika awal ia memasukinya. Tetapi, Gandari memang tidak pernah dididik manja oleh orangtuanya. Sebaliknya, ia diajarkan bagaimana menjadi mandiri dengan kekuatan sendiri.

Akibat kekalahan Sangkuni, kakaknya, melawan Pandu Dewanata dalam sebuah duel adu kesaktian, Gandari pun harus rela diserahkan pada Pandu. Untuk itu, Gandari harus bersaing dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Jadi total, ada tiga calon yang akan menjadi istri Pandu. Sebetulnya, ia tidak keberatan menjadi pendamping Pandu, bahkan merasa peluang kekuasaan telah singgah di pelupuk matanya. Tetapi kemudian, Pandu mempersilahkan Destarastra untuk memilih satu dari tiga calonnya tersebut. Itu artinya, salah satu dari ketiga calon tersebut akan menjadi istri Destarastra, kakak Pandu yang buta.

“Ah, buat apa menjadi istri orang buta. Tidak bisa menjadi penguasa,” ucap Gandari pada Sangkuni.

Sakit kepalanya memikirkan semua ini. Ia bingung. Gelisah. Tujuannya hanya satu, sebagai perempuan cantik ia pastinya ingin mempunyai suami yang menjadi dambaan setiap perempuan; gagah, tinggi, rupawan dan mempunyai jabatan pentig di kerajaan. Seringkali ia berandai-andai menjadi permaisuri seorang raja dari negeri seberang, dengan segala kemewahan, perhiasan dan kehormatan. Ya, hal-hal itulah yang membuatnya selalu merasa sebagai perempuan penting.

Gandari semakin hanyut dalam perasaan rasa penyesalan yang terdalam. Ia lalu berdiri dan mengepalkan tinjunya pada tepian dinding, hingga membuat tengannya sedikit berdarah. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan itu, mungkin hanya saja rasa depresi dan kekesalan yang sudah memuncak. Ketika fajar sudah benar-benar menyala, Gandari pun berteriak dan seketika ruang tersebut tersapu angin, membuat sarang-sarang laba-laba itu terhempas berterbangan.

Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia benci dengan keadaan ini.


***

Jakarta, 26 September 2004





04/12/07

Bayi



Sudah hampir dipastikan aku kurang menyukai anak kecil. Mungkin karena kenakalan mereka dan segala kemanjaan yang menurutku sangat tidak masuk akal.

Pernah suatu ketika aku sedang tiduran di atas ranjang kamarku di suatu hari libur, keponakanku yang baru berumur tujuh tahun, Dimas, datang dan menghambur ke arahku yang sedang menguap. Seketika dadaku menjadi sesak seiring dengan keterkejutanku. Maka, dengan gerakan refleks, aku menyingkirkan anak ingusan itu hingga ia terpental ke pintu keluar. Ia menangis. Ibuku memarahiku, tapi aku cuek dan berlalu. Ya, itulah balasan yang setimpal bagi anak kurang ajar.

Suatu ketika, kekasihku mengajakku bertandang ke rumahnya. Aku pun dikenalkan pada orangtua dan beberapa saudaranya. Seingatku, ada satu orang yang menggendong anak kecil.

“Winna, siapa nama cowokmu?” tanya kakak perempuan Winna yang sedang memangku anaknya.

“Restu”

“Hai restu...” katanya sambil menggerak-gerakkan tangan kanan anaknya yang masih balita. Akupun membalas lambaian itu dengan terpaksa dan sangat dibuat-buat.

Entah kenapa, tiba-tiba hanya tinggal aku satu-satunya lelaki yang ada di ruangan itu. Bayi itu menangis. Ibunya baru saja pergi mengambil makanan di dapur beberapa detik yang lalu.

“Coba Res, siapa tahu sama kamu mau diem...” ujar Winna.

Dengan perasaan bingung sekaligus gelisah aku mendekati si bayi. Ragu. Sampai ketika si ibu datang sambil membawa loyang panas berisi muffin. “Nah, tolong gendong sebentar ya Res.”

Tanganku bergerak perlahan sampai akhirnya menyentuh si bayi. Beberapa orang tampaknya tidak ada satupun yang memperhatikanku. Aku pun semakin cuek dan coba mengangkatnya. Tapi tangisnya makin keras dan tubuhnya mencoba berontak.

“Dinyanyiin aja,” kata ibu Winna.

“Nyanyi apa?”

“Apa aja, dia pasti suka.”

“Pelangi-pelangi, alangkah indah...”

Tangis bayi itu makin keras.

“Mungkin suara kamu agak fals kali,” ujar salah seorang saudara laki-laki yang baru saja masuk sambil terkekeh.

Aku menghentikan nyanyian bodohku. Bayi itu berusaha berontak, kemudian ia mengencingi kemejaku. Aku terpekik kesal dan tanpa sengaja melepas gendonganku. Kini giliran semua orang yang terpekik histeris.


***

Jakarta, 5 April 2007

Dongeng Sebelum Tidur



Dulu, ayahku selalu mendongeng sebelum aku tidur. Dengan sabar, ia menceritakan kisah kancil, putri tidur atau Abu Nawas padaku. Di tempat tidurku yang berwarna hijau itu, ayahku pun sering didongengkan oleh kakekku semasa ia kecil. Sekarang, umurku menginjak dua puluh tujuh, seminggu lagi aku akan menikah. Menikah dengan kekasihku yang sangat mencintaiku. Tapi, pertanyaanku adalah, apakah nanti suamiku akan mendongeng untuk anak kami? Ketakutan itu seringkali muncul belakangan ini, terlebih ketika aku menaiki tempat tidur seperti malam ini.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam dan aku masih belum juga merasakan kantuk. Aku mencoba menghitung domba, tapi setelah domba-domba itu melintasi kepalaku dan menyentuh angka hampir seratus, nyatanya aku masih terjaga. Aku tiba-tiba merasakan ingin didongengi. Aku rindu cerita-cerita ayah, kisah fabelnya, kisah nabi-nabi, dan terkadang diselipi cerita masa kecil ayah yang menurutku sempurna. Dimana ayah sekarang? Ibu bilang, ayah hanya pergi sebentar, mungkin untuk membeli rujak. Ya, kala itu ibuku sedang ngidam dibelikan rujak. Tapi, sampai hari ini ayahku belum juga kembali. Setiap aku tanya, ibu selalu menjawab hal yang sama, ayah pergi mencari rujak buat ibu.


Akhirnya, malam itu aku tertidur. Aku bermimpi bertemu ayah. Ayah tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Ayah menaiki seekor gajah yang besar. Wah, aku suka sekali gajah. Ayah memang pernah bilang kalau ia akan mendongeng tentang seekor gajah bernama Bima yang menjadi penyelamat para pengembara dan penebang kayu kalau mereka kesasar atau menemui masalah di hutan.


Ayah segera menghampiriku dan memintaku naik. Aku melihat wajah ayah semakin jelas. Wajahnya dipenuhi brewok. Ia tampak lama tidak bercukur. Tapi, senyum itu masih sama. Senyum termanis. Bahkan lebih indah dari ibuku. Maaf ya, Ibu.


“Bima, ini namanya Saras.”


Gajah itu segera mengeluarkan bunyi terompet kecil dari belalainya, disertai gemuruh riang dari perutnya. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan. Belalai itu lalu menyambut tanganku dan menyemburku dengan cairan kental, lengket serta bau. Aku bangun dengan tubuh berkeringat. Keningku diusap oleh ayah. Masih di dalam mimpikah? Aku melihat ayahku tersenyum. Wajahnya dipenuhi brewok. Ia tersenyum. Senyum termanis.


“Ayah, aku ingin didongengkan. Tapi tolong jangan bercerita tentang Bima. Aku tidak suka.”



* * *

8 Juli 2007

Pohon Ek Tua


Sheila kecil memandangi pohon ek itu tepat dari bawahnya. Pohon ek yang berumur ratusan tahun itu telah ada di sana sejak ayahnya masih kecil, begitu kata ayah suatu ketika. Sheila memandang kagum dan tersenyum. Seekor burung gereja tiba di salah satu ranting. Burung itu membawa sebatang rumput kecil entah dari mana. Rupanya ia sedang membuat sarang. Senyum Sheila melebar. Ia bisa membayangkan anak-anak burung itu bercicit menunggu ibu mereka memberi makan.

Angin perlahan membelai wajahnya, membuat beberapa helai rambut Sheila menari-nari kecil. Sheila ingat bagaimana ayahnya sangat menginginkan agar pohon itu tetap berada di sana. Bahkan, ibunya juga sempat menghalangi seorang pembangun real estate untuk menebangnya. Dan ibunya berhasil. Nyatanya, pohon ek itu masih berdiri tegak hingga saat ini. Batang utamanya kuat dan diameternya selebar rentangan empat orang dewasa. Ranting-ranting di atasnya juga tumbuh kuat. Dua utas tali terpasang di salah satu rantingnya, berfungsi sebagai ayunan. Ya, sebuah ayunan dari ban bekas yang biasa Sheila naiki.

Beberapa dedaunan kering itu gugur. Perlahan melayang jatuh ke tanah. Satu lembar daun jatuh menuju wajahnya dan Sheila menangkap daun itu. Dalam hati ia berkata pada pohon ek tua itu, akankah ada hari esok untuknya?

Beberapa meter di belakangnya, ayah dan ibu Sheila memandangi putri mereka, mereka bisa merasakan kesedihannya. Tampak Sheila yang berdiri bersama pohon ek, dua buah traktor di kanan mereka, segunung tanah merah yang baru saja diturunkan dari truk besar dan beberapa pekerja yang membuat kolom pondasi dengan belasan pasak bumi tak jauh dari mereka.


***

Jakarta, Oktober 2007

And The Night Goes On


Joe, si tikus kecil, berjalan sendiri di pinggir trotoar jalan yang mulai sepi. Ia merasa telah dikhianati oleh istrinya yang main gila dengan tikus lain. Maka, jadilah ia sendiri malam itu. Padahal ia sangat cinta terhadap istrinya yang baru dua minggu ia nikahi dalam sebuah pesta perkawinan sederhana nan sakral. Tapi sekarang? Yah, this is live... Welcome to the jungle baby...

Rintik hujan yang pertama mulai turun. Joe merasakannya. Rintik kedua jatuh tepat di sudut mata, saat ia menengadah ke atas. Perih rasanya. Ia lantas buru-buru mengucek matanya. Hujan makin deras dan Joe membiarkan dirinya sendiri didera air hujan yang menambah kelamnya malam.

Pagi itu, ia sebagai tikus rumahan mulai aktif mencari remah-remah di dapur. Ia seketika mendengar suara tikus lain yang mencicit keras. Rupanya Bobby, kucing berbulu abu-abu itu mengejar seekor tikus. Tikus rumahan juga, sama seperti Joe. Hanya saja, Joe belum pernah melihatnya. Joe mengikuti dengan matanya bagaimana tikus yang ternyata perempuan itu berlari, berkelok dan melompat kecil demi lolos dari cengkeraman Bobby. Joe masih terpaku.... ia terpesona. Sampai akhirnya, sebuah goresan kuat kuku Bobby mengenai punggung tikus perempuan itu. Dengan cepat, Joe berlari menerjang dan mengabaikan keberadaan Bobby, kemudian ia menarik buntut si tikus dan mengajaknya menghindar. Sejak saat itu, Joe dan Na, begitu nama si tikus perempuan, selalu kemana-mana berdua. Sampai akhirnya menikah.

Terkesiap, Joe menyadari dirinya basah kuyup diguyur hujan. Ia melihat ke arah tikus got berlari melintasi jalan. Ia juga melihat tikus got lain masuk ke sela trotoar. Satu lagi, ia melihat sosok tikus yang baru saja terlindas mobil yang lewat. Bau amis menyergap udara lembab. Ia sedikit mengenali wajah si tikus yang hampir seluruhnya remuk itu. Joe terkejut sesaat. Tebak, apa yang dilihatnya? Ia mengenalinya lewat carut melintang di moncongnya yang kini penuh darah. Itu adalah tikus yang mencuri hatiku. Mampus...!!, ucap lirih Joe dalam riuh hujan. Dimana Na? Entahlah. Yang pasti Joe tidak akan kembali padanya. Sudah cukup. Cukup atas semua permintaan maaf Na yang selalu berbuah candu. Cukup atas semua kesabaran yang telah ia berikan.

And the night goes on....

Joe menggigil. Ia bergegas menuju sebuah lubang besar di dinding. Ia melihat sebuah mobil kembali lewat dan melindas sisa jasad si tikus malang yang menjadi hancur dan sebagian terbawa arus air hujan hingga masuk ke selokan.

And the night still goes on....

***

Jakarta, 10 Juni 2007