07/12/07

Kucingku Namanya Kucing


Kucingku namanya Kucing. Ia suka sekali menggigit-gigit ujung bantal tempat tidurku. Sampai robek-robek karenanya. Dulu, kucing itu aku ambil dari bak sampah. Waktu itu bulunya berwarna abu-abu cokelat. Setelah aku bersihkan, ia jadi berwarna abu-abu cerah dengan belang putih. Kucing sangat lucu. Aku suka. Tiap pulang sekolah ia selalu menghampiriku di pintu pagar. Mengeong sejenak, lalu menggesek-gesekkan punggungnya di kakiku. Ia dengan setia menungguku selesai makan siang, entah itu untuk menunggu tulang ikan atau sekedar menjilati piring makanku.

Malam hari, Kucing tidur denganku. Tapi tentunya tidak satu tempat tidur. Ia aku buatkan tempat tidur khusus yang aku buat sendiri dari kardus bekas. Cukup nyaman kurasa. Aku menambahinya dengan kain-kain perca sisa jahitan ibu. Kucing memang dasarnya nakal, tetap saja kain-kain itu robek-robek habis ia gigit.

Tubuhnya kini bertambah besar, ia mulai mengasah kedua kuku kakinya di kaki meja belajarku. Aku sering memarahinya. Pernah aku memukul kepalanya dengan penggaris plastik. Tapi setelah itu aku dimarahi oleh ibu, katanya tidak baik memukul binatang. Aku menyesal. Aku juga disuruh oleh ibu meminta maaf pada Kucing. Tapi dasar kucing, ia malah melengos pergi saat aku membungkuk untuk meminta maaf.

Suatu ketika, aku pulang sekolah mendapati kaki kiri belakang Kucing terluka. Ayah memberi tahu bahwa tadi Kucing terlindas sepeda si Arif. Huh, aku sebal dengan cowok itu. Ia selalu bertindak kasar. Mungkin ia satu-satunya teman di komplek rumahku yang aku jauhi. Katanya, ia baru mendapat sepeda baru hadiah ulang tahun pemberian pamannya. Tapi kalau digunakan untuk yang tidak terpuji, buat apa? Aku buru-buru membantu ayahku membalut luka Kucing. Kucing itu seolah meringis saat aku lumuri obat merah. Aku tersenyum. Kata ayah, binatang tahu kalau kita berbuat kebaikan untuknya. Ayahku yang memang dokter selalu memberi penjelasan menarik tentang banyak hal, khususnya yang berbau kesehatan.

Hmm, aku berharap Kucing akan selalu menemaniku, saat ujian sekolah beberapa hari lagi, saat aku masuk SMP, selama aku duduk di bangku SMU, bahkan sampai kuliah, kalau perlu sampai aku tua. Tapi akankah seperti itu? Aku melihat ayahku hanya menggeleng sambil tersenyum padaku. Selesai diobati, Kucing melompat ke arah meja makan. Ya, kami akan makan bersama, karena sekarang sudah saatnya makan siang.


***

4 Juli 2007

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kucing nya stress yaaa
atau majikannya yang stres