
Semua orang di kotaku panik, mereka semua keluar rumah. Anak-anak, orang tua, ibu, kakak, nenek, mbah Poniran, sampai hansip Jupri juga tampak terkejut atas apa yang terjadi. Semua orang menengadah ke atas. Ke arah langit. Ya, aku juga diantara mereka. Aku satu diantara kerumunan orang-orang dewasa. Aku melihat benda besar, bulat, pipih dan berhenti tepat di atas lapangan bola. Bunyinya seperti desingan motor matic milik Kak Marcell yang sudah dimodifikasi.
“UFO!”
“Bukan, itu antena parabola pak Sardi!”
“Nggak mungkin, itu di atas lapangan bola, kok!”
“Lha, trus itu apa?”
“Masa sih UFO?”
Benda besar bulat pipih itu menghentikan bunyi desingannya. Bagian bawahnya membuka. Beberapa orang terpekik. Bahkan, tidak jarang yang lantas melarikan diri, berlari sekuatnya, sampai menabrak yang lain. Aku masih terdiam, memandangi dengan takjub fenomena aneh itu. Mungkin saja, ini akan jadi hari paling bersejarah dalam hidupku.
Bagian bawah itu seperti pintu, kini telah terbuka sepenuhnya. Kemudian keluar darinya beberapa sosok yang meluncur dengan papan seperti skateboard. Mereka berjumlah belasan, yah, setidaknya demikian yang bisa aku lihat. Beberapa orang makin histeris. Mereka seolah kehilangan akal sehat. Menabrak, menginjak dan menerjang siapapun yang menghalangi langkah mereka. Mbah Poniran ikut lari sambil terkencing-kencing, hansip Jupri langsung pingsan, ibu Rena yang sedang hamil sampai-sampai tersandung tubuh gempal si hansip dan terjatuh.
Sosok-sosok itu meluncur makin menuju bumi. Aku bisa melihat mereka yang berwarna keunguan. Tubuh itu memantulkan sinar saat terkena sinar matahari. Pantulan-pantulan itu terlihat berwarna-warni. Aku suka.seperti pelangi. Aku tidak pernah melihat pelangi, padahal ayahku sering bercerita tentang pelangi. Ia sering bercerita tentang Yume Oi Bito, lelaki yang memegang pelangi. Ayah bilang kalau sekarang pelangi enggan muncul, karena sibuk dengan urusannya sendiri, ayahku hanya sering menggambarkan di buku gambarku akan pelangi. Sekarang, aku benar-benar melihatnya.
Sosok-sosok itu mendekati orang-orang yang berlarian. Belum sempat aku memperhatikan apa yang terjadi pada mereka, satu sosok mendekat. Tepat didepan wajahku. Sosok itu berkilauan, dengan wajah mirip manusia pada umumnya. Dia seolah bingung melihatku yang malah tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum?”, tanyanya.
“Karena aku melihat warna. Aku melihat pelangi,” jawabku riang.
“Kenapa tidak ikut lari?”
Aku menggelengkan kepalaku. Lalu tanpa disadari tanganku terjulur sambil mulutku berkata, “Bawalah aku.”
***
Jakarta, 14 Juli 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar