Tampilkan postingan dengan label resensi film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi film. Tampilkan semua postingan

27/05/08

JUNO; Berpikir Positif Aja!

Bagaimana jika mengetahui dirimu hamil sebelum menikah? Juno (Ellen Page) mengalami hal ini, tanda positif di alat test pack muncul berkali-kali dalam setiap pemeriksaannya. Dia pun panik dan shock, karena perbuatan ‘iseng-iseng’ di atas kursi dengan teman sekolahnya, Paulie Bleeker (Michael Cera), membuahkan hasil. Berawal dari keingintahuan besar juno terhadap sex, maka ia pun melakukan hubungan intim bersama Paulie Bleeker, teman satu sekolah dan satu band. Akibatnya, Juno yang masih berusia 16 tahun itu mengalami kehamilan yang sama sekali tidak dikehendakinya.

Juno sempat berpikir untuk melakukan aborsi, tapi berkat tukar pikiran dengan sahabatnya, Leah (Olivia Thirlby), Juno akhirnya mengurungkan niatnya. Mereka mencari iklan di koran dan mendapatkan ada sebuah pasangan kaya yang ingin adopsi anak. Berbagai permasalahan pun datang dan ledakan emosi terjadi secara apik.

Awalnya saya mengira bahwa yang selanjutnya terjadi adalah konflik antara Juno dengan Bleeker atau Juno dengan orangtuanya, tetapi ternyata yang terjadi diluar prediksi. Luapan emosi yang umumnya terjadi karena kesalahan fatal itu tidak terjadi di sini. Pendeknya, emosi yang keluar sangat lembut, sehingga jantung penonton tidak harus berdetak cepat saat melihat konflik.

Warna-warni yang cemerlang sepanjang film, juga permainan grafis yang menerangkan pergantian musim tampak membuat film makin menarik. Tampaknya, inilah konsep yang hendak disampaikan oleh para pembuatnya; sebuah film yang mengharuskan orang berpikir jernih seberat apapun masalahnya.

Akting semua pemainnya pun cukup bagus dan natural. Ellen Page dipuji banyak orang karena aktingnya. Michael Cera juga pas memerankan karakter cowok yang lugu. Komposisi pemain tampak sangat dipikirkan hati-hati oleh Jason Reitman selaku sutradara, yang juga pernah menggarap Thank You For Smoking.

Juno berhasil meraup penghasilan komersil US$ 213 juta di seluruh dunia dan sekaligus mendapat Best Original Screenplay di ajang Academy Award 2008. Ada yang tahu mengapa diberi judul Juno? For your info, Juno adalah salah satu istri dewa Zeus. Nah, ada yang bisa mengaitkannya sekarang? [heripurwoko]

25/03/08

3:10 TO YUMA, Ketika Hati Bicara

Saya menangis di menit-menit terakhir. Adegan Dan Evans (Christian Bale) ketika ‘melarikan’ Ben Wade (Russel Crowe) menuju stasiun kereta api. Mereka harus melewati terjangan peluru yang bertubi-tubi ke arah mereka. Film yang disutradarai oleh James Mangold ini sungguh menghadirkan efek psikologis yang menghentak di diri saya.

Film ini bererita tentang tertangkapnya buronan bernama Ben Wade yang sering ‘menyusahkan’ orang-orang berduit. Bersama beberapa anak buahnya yang kejam, mereka merampok sana-sini. Suatu ketika ia tertangkap dan dirinya terancam hukuman gantung di penjara Yuma. Seorang veteran perang Dan Evans yang kini menjadi petani berniat untuk mengawal dan memastikan Wade sampai ke stasiun Yuma pukul 3:10 esok hari. Ya, sebuah kereta akan tiba dan kemudia mengantarkan buronan itu ke penjara. Tidak hanya Evan sendiri, ada beberapa orang lain yang juga menjadi 'pengantar' Wade. Bukan apa-apa, namun sekedar untuk berjaga-jaga memastikan bahwa tidak ada anak buah Wade yang mengacau rencana mereka di tengah jalan.

Di dalam perjalanan, Evan dan Wade saling mengenai satu sama lain. Dua karakter yang berbeda itu kini tengah menyelami sisi psikis lawannya. Sementara itu, satu-persatu rekan seperjalanan mereka gugur satu persatu. Berhasilkah Evan memenuhi janjinya untuk membahagiakan keluarganya dengan uang yang di dapat dari pekerjaan ini?

Selain adegan baku tembak khas koboi dan pemandangan alam Amerika yang gersang pada masa itu, kita juga dihadapkan pada sisi psikologis para tokoh utamanya. Hal inilah yang mungkin tidak dieksplorasi di film-film dengan genre sejenis. Ketenangan karakter Wade yang dimainkan oleh Russel Crowe membuat lawan mainnya, Evan, menjadi penuh waspada. Kewaspadaan itulah yang membuat perbenturan karakter antar keduanya menjadi terbangun. Siapa yang menyangka dibalik keberanian Evan yang luar biasa, ia menyimpan kerapuhan dan permasalahan keluarga.

Satu hal yang unik adalah, jadwal kereta di sana sangat tepat. Saya jadi membandingkan dengan kereta Bogor-Jakarta saat ini, sangat miris.

THE SPIDERWICK CHRONICLES, Jangan Abaikan Larangan Yang Ada

Akankah The Spiderwick Chronicles menjadi jawara dalam jajaran box office? Semoga saja nasibnya tidak seperti The Golden Compass atau The Seeker yang terpuruk belakangan ini. Memang pasca Harry Potter dan The Lord of The Ring, genre adventure-fantasy seakan dihidupkan kembali. Namun, tidak semua berhasil mengungguli kedua film raksasa tersebut.

Harapan positif sebenarnya banyak muncul untuk film The Spiderwick Chronicles, termasuk saya. Ceritanya cukup sederhana dan kemasannya juga menarik. Berawal dari keluarga Grace yang pindah ke sebuah rumah milik buyut mereka, Arthur Spiderwick. Si kembar Jared dan Simon Grace (Freddie Highmore), Mallory (Sarah Bolger) dan ibu mereka, Helen Grace (Marie Louise Parker) memang sengaja pindah ke rumah tersebut setelah perceraian yang terjadi antara Helen dengan sang suami.

Jared yang sering dianggap pembuat masalah, segera menjelajahi rumah. Ia mendapati sebuah buku yang disegel di dalam sebuah peti besar. Ketika ia membukanya, beberapa kejadian aneh dan berbahaya pun segera memburu mereka. Awalnya Simon dan Mallory tidak percaya, lebih-lebih karena Jared terkenal sering membuat onar, namun ketika kenyataan bahwa mereka diserang secara fisik oleh makhluk-makhluk tak kasat mata bernama Goblin, mereka barulah percaya. Selanjutnya sudah bisa ditebak, perjuangan melawan kekuatan para makhluk fantasi berlangsung hebat. Kunci dari itu semua ternyata ada di buku yang Jared ambil, yang merupakan tulisan Arthur Spiderwick. Buku yang mengungkap berbagai makhluk fantasi yang luput dari perhatian manusia.

Film ini diambil dari buku dengan judul yang sama, The Spiderwick Chronicles, karya Toni DiTerlizzi dan Holly Black yang diterbitkan dalam beberapa seri. Bukunya unik, saya suka, dengan banyak gambar yang menjelaskan cerita itu sendiri. Filmnya sendiri dengan taat mengikuti cerita dan alur di buku, tampaknya para filmmaker ini tidak mau mengambil spekulasi yang aneh-aneh, mengingat resiko yang cukup telak bila gagal.

Khusus untuk permainan Freddie Highmore, ia tampak apik bermain sebagai dua karakter si kembar jared dan Simon. Aktor pemeran Charlie di film Charlie and The Chocolate Factory ini juga mengakui di sebuah wawancara bahwa ia senang bermain di film terbarunya ini, ia juga berkata bahwa untuk bertemu dengan makhluk fantasi, anak-anak tidak perlu harus bermimpi. [heripurwoko]

19/03/08

LIONS FOR LAMBS

Apa jadinya kalau kita terperangkap di tengah sebuah keadaan yang menjemukan, di mana kita tidak bisa merubah keadaan itu. Stuck. Bahkan, tidak jarang kita akan merasakan frustasi atau depresi. Hal inilah yang menjadi tema Lions For Lambs garapan Robert Redford. Redford yang juga duduk di kursi sutradara mengatakan bahwa inilah yang dapat ia lakukan untuk Amerika Serikat. Ia sangat mencintai negaranya tersebut. Ia ingin membuat perubahan dan melempar fakta bahwa ada sekelompok kecil orang di negara itu yang ingin merubah paradigma buruk Amerika di mata dunia. Namun sekali lagi, mereka terperangkap dalam sistem. Yup, selamat datang di lingkaran setan.

Lions For Lambs bercerita tentang tiga peristiwa. Dua mahasiswa Universitas West Coast, Arian (Derek Luke) dan Ernest (Michael Pena) terjun ke medan perang di Afghanistan. Mereka tampaknya terinspirasi oleh dosen mereka, Dr. Malley (Robert Redford), yang dulu sempat berlaga di perang Vietnam. Arian dan Derek adalah mahasiswa cerdas dan bertekad ingin membuat perubahan. Setidaknya, menurut versi mereka, jika mereka bisa kembali dari Afghanistan, status mereka akan meningkat. Nah, kalau sudah begitu, omongan serta perlaku mereka bisa dihargai oleh bangsa Amerika. Mereka yakin hanya dengan cara itulah suara hati mereka bisa didengar.

Dr. Malley sendiri kini menghadapi seorang mahasiswa berandal bernama Todd (Andrew Garfield), yang dinilai cukup cerdas, pandai berbicara dan mengemukakan pendapat, tetapi tidak disiplin. Todd ditegur sekaligus diberi peringatan oleh Malley supaya melanjutkan kuliah atau ia akan mendapat nilai tanpa harus ikut kuliah lagi. Todd ber-argumen bahwa untuk apa ia belajar jika sistem pemerintahan yang ada sangat tidak patut dicontoh. Todd sangat tidak respect terhadap pemimpin di Amerika yang beranggapan bahwa Amerika adalah polisi dunia dan bertanggungjawab terhadap perdamaian dunia. Todd tidak menganggap itu sebagai tindakan seorang manusia dewasa, tidak lebih dari sekedar ego dan ambisi semata. Mahasiswa dan dosen itu terlibat perdebatan serius, mulai dari Plato-Socrates sampai George W. Bush.

Di sisi lain, seorang jurnalis senior televisi bernama Janine Roth (Meryl Streep) mendapatkan wawancara ekslusif dengan Senator Jasper Irving (Tom Cruise). Irving yang mengincar kursi yang lebih bagus di pemerintahan, ingin agar media meng-ekspose perkembangan Afghanistan. Karena Amerika telah mengirim tim kecil untuk menaklukkan negara (yang menurut mereka) teroris tersebut. Janine dan Irving beradu pandangan mengenai kondisi Amerika kini. Irving mengungkapkan betapa bangganya ia kalau bisa membentuk perdamaian, walaupun dengan cara perang dan dibenci sebagian orang. Irving selalu beranggapan bahwa yang Amerika lakukan untuk kebaikan. Namun Janine tidak melihat sisi tersebut, ia justru berpendapat bahwa pemerintah terlalu tergesa-gesa dan ceroboh dalam melakukan tindakan. Perang bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan pride. Janine sebagai perwakilan media diharap bisa membantu pemerintah dalam menentukan opini publik. Hal itulah yang menjadi dilema bagi Janine kini.


Film ini sangat kuat dari segi tema, namun terasa terlalu banyak dialog. Kita seperti menonton acara dialog yang penuh perdebatan. Redford tampaknya mengeluarkan energi yang sangat banyak untuk film ini. Terlihat dari intens dan semangatnya di lokasi syuting, juga fokusnya pada naskah. Overall, Lions For Lambs menjadi alternatif yang layak diperhitungkan, terlebih lagi tema yang diangkat sangat up to date. Tetapi masalahnya, saya merasa ini adalah sebuah sisi kesia-siaan, pesimistik dan hanya sekedar pelemparan masalah ke tengah-tengah audience. Tidak ada nilai patriotik atau setitik cahaya harapan bagi Amerika.

Lions For Lambs mungkin hanya sebuah potret mengenai sebuah negara besar bernama Amerika yang terjerat oleh rantai sistem masa lalu yang tidak mungkin mereka pecahkan. Konklusi ini dapat saya rasakan setelah mengetahui ending cerita. Kita akan melihat bagaimana akhir dari scene Todd, Janine dan Arian-Derek. Kita akan melihat bagaimana hasil akhir usaha mereka untuk sebuah perubahan. [hp]

JUMPER


"Seharusnya hanya Tuhan yang punya kemampuan seperti kalian, berada di mana-mana dalam satu waktu," kata Roland sebelum membunuh salah seorang jumper di Asia.

Petikan kata-kata di atas menurut saya merupakan inti dari film Jumper, arahan sutradara Doug Liman. Jika anda tahu Doug Liman yang pernah membuat 'Bourne Identity' dan 'Mr & Mrs. Smith' ini, pasti sudah terbayang bagaimana style-nya dalam menyutradarai. Di film Jumper, permainan special efek dan teknik penceritaannya saya acungi jempol. Tidak berlebihan menurut saya, karena memang itu yang saya rasakan ketika menonton film berdurasi 88 menit ini.

Cerita berawal dari David Rice muda yang tenggelam di sungai, beberapa saat kemudian, ia sudah berada di perpustakaan dalam keadaan basah kuyup. David awalnya tidak mengerti hal tersebut, sampai kemudian ia mengalaminya lagi. Ayahnya yang berang mengejar David sampai ke kamarnya, seketika David sudah berada di tempat lain. Rupanya ia mengerti, ia bisa melakukan teleport, berpindah tempat dalam sekejap.

David muda lalu mempunyai pikiran nakal yang kenyataannya akan membawa dia ke pangkal permasalahan dari film ini. Ia membobol brankas bank. Dengan mudahnya, ia mengambil uang ke dalam karung dan kemudian menaruhnya di dalam kamar, begitu seterusnya hingga kamar itu penuh dengan dollar. David menjadi kaya mendadak. Ia pun bisa berwisata ke berbagai belahan dunia dengan sekejap mata.

Beberapa tahun kemudian, David (Hayden Christensen) dikunjungi Roland (Samuel L. Jackson) di apartemen mewahnya. Itulah awal konflik antara David dengan kaum Paladin, pemburu para jumper. Roland hendak menahannya, tapi David berhasil kabur. Di tengah pelariannya, David bertemu dengan Griffin (Jamie Bell) yang tengah berjuang keras seorang diri melawan Paladin. Awalnya, Griffin tidak mau 'ditebengi', tapi karena memaksa akhirnya David pun boleh ikutan. Peperangan diantara kedua belah pihak tak terelakkan, sampai membawa serta Emily Harris (Rachel Bilson), kekasih David.

Kisah mengenai teleport tentunya tidak asing, setelah kemunculan para teleporter di beberapa seri Star Trek, Nightcrawler di film X-Men dan Alicia Baker di Smallville, tampaknya ide tentang teleporting menjadi cepat populer. Siapa pula yang tidak mau punya kelebihan seperti itu? Anywhere is possible, is that something impossible?

Film yang diangkat dari novel karya Steven Gould ini cukup memanjakan mata dengan disuguhkannya gambar-gambar yang 'nakal', seperti ketika David berjemur di kepala Sphinx. Special efek yang ada juga tampak tidak berlebihan, semua sesuai porsinya. Satu hal yang membuat saya bingung adalah mengenai para jumper, kemana para jumper yang lainnya? Bukankah banyak jumlahnya? [heripurwoko]

18/03/08

ALVIN and THE CHIPMUNKS


Ingin sebuah tontonan yang lucu? Atau kangen sama karakter kartun tupai-tupai nakal tahun 80-an? Tonton aja Alvin and The Chipmunks. Menggelikan, tentu saja. Setelah ada karakter kucing di Garfield atau anjing di Scooby Doo, kini saatnya tupai yang beraksi di Alvin and The Chipmunks. Ada Alvin yang nakal namun pintar, Simon yang sifatnya lebih dewasa dan tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata, juga ada Theodore si tupai gemuk yang manja dan plin-plan.

Alvin, Simon dan Theodore adalah ketiga tupai yang mendatangi rumah Dave Seville (Jason Lee) dan membuat kekacauan. Alhasil, Dave pun berperang dan sukses dibuat pingsan dalam ‘peperangan’ tersebut. Ketika siuman, Dave mengetahui bahwa tupai-tupai itu ternyata bisa bicara. Karena sudah terlanjur kesal, akhirnya Dave mengusir mereka. Keputusan Dave segera berubah setelah mengetahui ketiga tupai itu jago bernyanyi. Dave pun mengajak mereka untuk bekerja sama, karena kebetulan Dave juga berkecimpung di bidang musik. Melalui rangkaian perjuangan menembus dapur rekaman, mereka akhirnya sukses. Dave yang mencipta lagu, Alvin-Simon-Theodore sebagai penyanyinya. Alvin and The Chipmunks pun menjelma menjadi artis yang layak diperhitungkan. Lagu-lagu mereka menjadi nomor satu dan show-show mereka selalu dinanti. Masalah mulai muncul tatkala bos perusahaan rekaman yang bernama Ian Hawk (David Cross) mulai mengintimidasi Dave dan menghasut Alvin, Simon, juga Theodore untuk meninggalkan Dave. Ketika ketiga tupai itu menanyakan kepada Dave mengapa tidak mengizinkan mereka untuk tur di luar negeri, Dave berkata bahwa mereka cuma anak-anak yang belum bisa untuk menjadi superstar. Alvin pun berang, ketiganya lalu meninggalkan Dave dan tinggal bersama Ian.

Keputusan para tupai itu membuat sontak hidup mereka berubah. Mereka kini benar-benar merasakan bagaimana menjadi superstar yang dielu-elukan. Hari-hari mereka dipenuhi oleh jadwal konser yang padat, syuting iklan, rekaman, launching ini, launching itu, dan lain sebagainya. Kalau mereka terlihat lelah, maka Ian akan segera memberinya dopping atau energi ekstra. Mereka dipaksa untuk terus bekerja. Kehidupan mereka praktis tanpa istirahat. Kehidupan anak-anak yang seharusnya mereka jalani menjadi hilang. Itulah sebenarnya yang Dave takutkan. Akhirnya, Dave dibantu oleh kekasihnya, Claire (Cameron Richardson), berusaha menyelamatkan Alvin dan kawan-kawan. Apakah bisa? Terlambatkah mereka?

Film berdurasi 91 menit ini merupakan adaptasi dari serial kartun era 1980-an. Secara keseluruhan, film ini sarat akan muatan pendidikan yang bagus. Pertama adalah, bahwa tidak seharusnya anak-anak dieksploitasi dan kedua adalah, menjalani hidup tanpa berlebihan. Tema pentingnya persahabatan dan keluarga juga menjadi issue berikutnya. Jon Vitti dan Will Mcrobb sebagai duet penulis skenario tampaknya berhasil mengangkat isue yang sedang marak di dunia ini. Animasi ketiga tupai-tupai cerdik itu juga sangat apik, detail dan hidup. Di film ini, selain tingkah-tingkah lucu, kita juga akan mendapatkan lagu-lagu bagus dan catchy. So, kalau kamu bingung mau nonton film apa minggu-minggu ini, Alvin and The Chipmunks bisa menjadi pilihan yang baik. Iya dong, daripada nonton film-film horor dan misteri yang nggak jelas juntrungannya. Iya, nggak? [hp]

FROM BANDUNG WITH LOVE

Perjalanan seseorang memang tidak bisa dengan mudah diprediksi. Tampaknya hal inilah yang menjadi topik utama yang saya dapat dari film arahan Henry Adianto. From Bandung With Love adalah film drama cinta remaja yang diharapkan akan mengisi kekosongan pada genre tersebut akhir-akhir ini.

Cerita dimulai ketika Vega (Marsha Timothy) memutuskan untuk membahas masalah perselingkuhan dan kesetiaan dalam siaran radionya minggu depan. Dia muncul dengan teori bahwa 11 dari 10 lelaki itu tidak setia. Usaha Vega pun dibawa ke kantor advertising yang mempekerjakan dia sebagai freelance copy writer. Dia mengamati lalu memilih Ryan (Kieran Sidhu), creative director yang terkenal playboy. Vega memanfaatkan waktu seminggu menjelang siaran untuk mendekati Ryan, untuk mencari tau dari sisi lelaki yang katanya ‘tidak setia’. Usaha Vega ini sempat diprotes oleh kekasihnya, Dion (Richard Kevin), yang mempunyai sifat pasif dan ‘pasrah’. Vega menenangkan Dion dan berjanji bahwa misinya akan berhasil dalam enam hari.

Tapi, ternyata memang apapun bisa terjadi dalam enam hari.Vega jatuh cinta pada Ryan karena Ryan memang tahu benar how to treat a woman, sebuah karakter yang berbeda dengan DION, pacar Vega yang sebenarnya. Hingga di satu titik Vega menyadari bahwa dia lah yang tidak setia. Tidak setia dengan misinya, dengan Dion, dengan sahabatnya, bahkan dengan dirinya sendiri. Akhirnya, siapakah yang Vega dapatkan setelah enam hari?

Kesan awal yang saya dapatkan di film ini adalah, terlalu banyaknya sponsor yang built in dan mengganggu mood saya ketika menonton. Seperti di scene awal, tampak Vega yang sedang siaran dengan backgorund sticker nama radio, begitu juga semua pemain yang merokok, menghisap merek rokok yang sama dan semua pemain yang melakukan kegiatan ketik-mengetik menggunakan satu merek komputer/notebook yang sama. Pertanyaannya adalah, is that possible? Karena bisa saja sponsor tersebut tidak divisualisasikan secara hard sell dan memenuhi setiap sequent. Sebenarnya itu tergantung bagaimana men-treat dan deal di awalnya saja, toh?

Alur cerita cukup menarik dan mampu membuat saya intens menonton, hanya saja –selain gangguan built in sponsor- beberapa pemain pendukung terlihat kaku dan saya gemas karenanya. Thus, tampaknya sutradara menginginkan treatment yang berbeda ketika tokoh mengalami konflik psikologis maupun dengan pemain lainnya, kamera dibuat hand held dan dibiarkan long take atau editingnya menggunakan jumpcut. Itu sebenarnya tidak masalah, asalkan ada planting untuk itu dan perubahannya juga tidak serta merta. Efek umum yang penonton rasakan akhirnya hanyalah sebuah ketergangguan, kecil atau besarnya tingkat ketergangguan tersebut memang tergantung pada penonton, tapi alangkah baiknya jika sutradara lebih memperhatikan detailnya.

Overall, From Bandung With Love adalah usaha positif yang juga patut dapat respon positif, meskipun kota Bandung sebagai setting utama tidak terlalu di-expose di sini. [hp]

04/12/07

Harry Potter and the Order of Phoenix


Kali ini, sekuel Harry Potter penuh dengan intrik-intrik politik. Ya, menginjak usia yang makin dewasa, Harry Potter dan teman-temannya pun makin menghadapi berbagai masalah yang senantiasa mendewasakan mereka. Mulai dari emosi yang meledak-ledak, kemampuan untuk berani memilih, sampai masalah hormon yang semakin meningkat.

Di sekuel kali ini, tidak dapat ditampik lagi kemunculan Lord Voldermort. Di awal film, Harry Potter dihadapkan ke kementrian sihir yang menuduh Harry telah menggunakan ilmu sihirnya di dunia muggle, dunia orang biasa. Bagaimana tidak, itu dikarenakan Death Eater yang muncul tiba-tiba menyerang Harry dan sepupunya. Kepala kementrian sihir akhirnya membebaskan Harry dari segala tuduhan, karena Dumbledore membela Harry. Tapi akhirnya dikirim Dolores Umbridge untuk mengawasi Hogwarts dari dalam. Dolores mendapat kecaman dari para siswa Hogwarts, terlebih karena ia didapuk menggantikan Dumbledore memimpin Hogwatrs. Sementara itu, Harry yang menyadari bahwa Voldermort telah kembali, membentuk pergerakan bawah tanah bernama Dumbledore’s Army.

Ada yang istimewa, Harry mencium bibir Cho Chang (Katie Leung). Keluguan Harry masih terlihat, terlebih saat ditanya rasanya oleh Ron dan Hermione. Tapi tidak dapat disangkal bahwa permainan Daniel Radcliffe dan teman-temannya main matang. Mereka seolah makin menunjukkan bakat mereka. Kejutan Dumbledore yang bertarung melawan Voldermort juga merupakan kejutan di menjelang akhir cerita. Spesial efek yang ditampilkan sungguh apik, halus dan cukup detail.

David Yates yang menyutradarai sekuel ini tampak sangat memperhatikan sisi drama dan psikologis tokoh, sementara Michael Goldenberg selaku penulis skenario memfokuskan pada sisi cerita yang terjalin. Buku setebal 870 halaman memang harus diringkas menjadi film sepanjang 2 jam 15 menit dan para fans Harry Potter memang harus rela atas pemenggalan tersebut. Tapi sekali lagi, film ini berhasil membius penonton yang akan setia menemani Harry yang sudah ditakdirkan untuk melawan kejahatan dunia. [hp]

29/11/07

Stardust; Petualangan Mencari Bintang Jatuh


Ini adalah sebuah film petualangan fantasi yang akan membawa anda merasakan hangatnya bintang-bintang. Bukan bintang dalam arti konotatif, tapi sebaliknya. Bintang di sini nyata. Bintang jatuh itu bernama Yvaine (Claire Danes). Berawal dari seorang pemuda bernama Tristian (Charlie Cox) yang jatuh cinta pada kekasihnya, Victoria (Sienna Miller). Tapi sang kekasih malah minta dibawakan bintang sebagai pembuktian cintanya. Jika anda berpikir bahwa ini adalah kisah romantis ala Shakespeare, tunggu dulu, karena ini belum berakhir.

Tristian melewati perbatasan kampungnya, melewati lembah dan bukit untuk mencari bintang jatuh. Takdir mempertemukan keduanya, Tristian dan Yvaine. Tristian takjub, ternyata bintang jatuh itu berwujud seorang gadis cantik. Yang mengincar bintang jatuh bukanlah Tristian seorang. Ada penyihir jahat bernama Lamia (Michelle Pfeiffer) yang menginginkan khasiat bintang jatuh untuk awet muda dan empat pangeran Stormhold yang berlomba untuk mendapatkan si bintang jatuh demi syarat mendapatkan tahta kerajaan, namun akhirnya berguguran satu persatu.

Perburuan menjadi semakin tegang, intens dan ajaib manakala Tristian yang membantu Yvaine lolos dari semua jebakan si penyihir, bertemu dengan kapal angkasa penangkap petir yang dikomandoi oleh Kapten Shakespeare (Robert de Niro). Kapten Shakespeare yang terkenal keras dan berpredikat buruk itu malah membantu Tristian dan Yvaine. Sifat kelelakian itu langsung runtuh di mata Tristian manakala ia mengetahui bahwa sang kapten adalah pria kesepian yang baik hati dan butuh perhatian.

Petualangan terus berlanjut sampai Tristian mengajak Yvaine menuju desanya. Niat hati Tristian untuk mempersembahkan bintang jatuh pada Victoria menjadi pudar, karena cinta sesungguhnya Tristian tertambat di hati Yvaine. Demi menolong Yvaine, Tristian mengalahkan pangeran yang ternyata adalah pamannya dan menghabisi penyihir jahat. Pertanyaan besarnya adalah, siapa Tristian sebenarnya?

Spesial efek menjadi kekuatan di film ini. Seperti halnya film ber-genre fantasi petualangan, nuansa gelap dan hujan bercampur dengan cahaya bintang dan keajaiban, dapat kita temui di sini. Yang menjadi nilai plus lain adalah sense of humour sutradara Matthew Vaughn yang cukup cerdas. Bumbu komedi berupa celetukan, karakter, ekspresi dan gestur para tokohnya mempermanis cerita. Segar dan tidak membosankan. Matthew Vaughn mampu membubuhkan porsi yang pas, sehingga memperkuat cerita asli yang berawal dari novel karya Neil Gaiman ini. “It’s totally fun and inspiring!”

Oh iya, kalau anda ada waktu luang, berkunjunglah ke www.stardustmovie.com dan namakanlah satu dari milyaran bintang yang ada di angkasa. [hp]