
Masih ingatkah kau dengan sebaris kata itu? Sebuah kata yang pernah kita sepakati berdua ketika menunjuk satu bintang terang di langit bagian selatan. Kita memang sama-sama tidak mengetahui berada di rasi manakah bintang itu atau bagaimana orbitnya akan mempengaruhi alam, kita hanya tertarik dan memandangnya sebagai sesuatu yang indah. Bintang yang kita beri nama “Sadira” itu lalu mengerlingkan dirinya ketika kita memberinya nama. Sadira artinya bintang dalam bahasa Arab. Tidak sengaja aku menemukannya. Kata itu selalu mengingatkanku tentangmu, sekali lagi.
Saat aku menyusuri jalan kota yang lengang di tengah malam ini, sinar Sadira begitu mencuri perhatianku. Aku yakin itu Sadira, bukan bintang yang lain, karena ia memang berbeda dan yang pasti ia akan mengerling setiap kali aku memanggilnya “Sadira”.
Malam ini begitu dingin, butir-butir air selepas hujan menggelayut di ujung-ujung dedaunan dan ranting-ranting yang patah. Aku berjalan sendiri, mengatupkan kedua tanganku sambil sesekali meniupnya untuk sekedar menghangatkannya sesaat. Aku tahu angkutan kota yang biasa membawaku sepanjang perjalanan tiga kilometer ini habis beredar selepas pukul sepuluh malam, tetapi aku memang harus bekerja lembur malam ini.
Perutku mulai susah diajak kompromi akhir-akhir ini, selalu meraung-raung ketika aku telat memanjakannya dengan makanan. Dulu aku biasa tidak menghiraukannya, tetapi kali ini rupanya ia sudah benar-benar kesal denganku. Kemarin, ia protes berat dan aku harus membeli obat maag untuk menenangkannya. Setelah itu, ia mengancam akan lebih menyiksaku jika aku terlambat lagi memberinya makan. Ia mungkin tidak tahu, bahkan untuk makan pun aku kesulitan mengingat kecilnya gaji sebagai seorang pegawai percetakan.
Ini adalah pekerjaanku yang kesekian, setelah aku bosan bekerja di pabrik rokok, tukang parkir dan penjual tahu. Di percetakan ini, aku bebas memilih waktu kerja lembur, bisa sesuka hati.
Vebrika, kali ini aku akan menceritakan beberapa keluh kesahku yang akhir-akhir ini seolah membelenggu hariku. Kepalaku selalu saja terasa pening jika aku bangun di pagi hari. Aku tidak tahu sebabnya dan tidak mungkin hanya akibat dari tidur yang terlalu larut, karena biasanya memang tidak pernah demikian sebelumnya. Sakitnya terkadang menjadi luar biasa saat aku memaksa untuk terjaga dari tidur, sampai aku pernah berkeinginan untuk memenggalnya agar hilang nyeriku.
Dokter neurologi yang aku sempat kunjungi berkata bahwa itu akibat dari stress yang aku alami belakangan ini. Atasanku sering memanfaatkan keinginan lemburku, dengan membebani bermacam-macam pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan percetakan tempatku bekerja. Tumpukan kertas-kertas judi itupun masih menunggu untuk diambil olehnya ketika aku pulang.
Uang yang kudapatkan memang lumayan, tetapi hati kecilku selalu memberontak jika aku menggunakannya sendiri. Alhasil, aku hanya menghabiskan uang itu tanpa pernah aku rasakan manfaatnya. Kadang jika aku bertemu teman di jalan, aku traktir ia makan dan jika aku kesepian di akhir pekan, aku habiskan di rumah-rumah bordil atau minum minuman keras bersama teman yang entah selalu aku temui di mana saja.
Nista memang, tetapi aku tidak punya pilihan lain, mungkin punya tetapi aku selalu mengabaikannya. Perutku semakin tidak terurus karena gaji pokokku yang memang untuk biaya logistik selalu kurang dari keinginan. Tubuhku semakin kering, mataku cekung ke dalam dan rahangku semakin hadir kaku.
Selain dirimu, tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk makan, apalagi menjaga kesehatan. Di awal-awal perpisahan bahkan aku sempat tidak sadarkan diri di tempat kerja maupun di mana aku berdiam, karena jiwaku kosong dan hampa. Akupun menjadi lemah. Namun, terkadang aku masih bisa tersenyum, walau getir, saat menatap langit malam, terlebih jika kujumpai Sadira di sana. Di luar itu, aku hanyalah sebatang kering ranting tua yang kehilangan inti.
Aku benar-benar kehilanganmu, kau tahu itu?
Aku merasakan sepatuku basah, semakin basah saat tanpa sengaja kuinjak sebuah genangan air. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya aku mengeluh karenanya, sebab toh keadaan tidak akan berubah. Sekarang yang aku bisa lakukan hanya menatap langit malam yang berangsur-angsur semakin jernih setelah awan pembawa hujan itu menyingkir, membuka tabir purnama dan membiarkan gemintang turut mencerahkannya.
Sepi, kecuali desiran angin malam yang membelai wajahku dan suara-suara katak di hamparan rawa yang terbentang di sisi kanan jalan. Dingin ini menusuk-nusuk tubuhku, sampai ke persendian, membuatku menggigil ngilu dan tidak bisa menguasai bibirku yang terus bergetar.
Sial! Perutku kembali berteriak. Terakhir aku isi jam sepuluh tadi pagi dan sekarang... sudah pukul satu dini hari. Kukencangkan lagi ikat pinggangku, berharap ini untuk yang terakhir kalinya.
Ah, agak mendingan sekarang! Aku telah menambah tiga lubang untuk ikat pinggangku. Jika aku bercermin, aku selalu merasa terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Tapi, tidak apa, selama aku masih bisa berdiri dan terus bisa mengingat tentangmu.
Sadira kecil itu masih terus menamaniku. Menemani setiap langkahku yang berat. Ia mengerling lagi, betapa indahnya. Aku kembali tersenyum.
Kau tentu ingat, dulu kita pernah berbaring di sebuah lapangan luas berumput di sisi rel kereta api itu. Tangan kita berpegangan, saling menatap dan tersenyum. Walau pengetahuan kita tentang astronomi sangatlah minim, tapi kita sangat menikmati gugusan bintang-bintang itu.
“Indah.”
“Iya.”
Dan kau menatapku, sekali lagi.
“Aku ingin selalu dekat denganmu.”
“Aku juga ingin selalu ada untukmu.”
“Tidak dengan yang lain.”
“Tidak akan ada yang tersisa selain dirimu.”
“Sampai kapan?”
“Sampai nafasku berhenti berhembus.”
“Selama malam masih ada.”
“Kenapa harus malam?”
“... Karena bintang-bintang itu.”
Kau pun tersenyum. Senyuman terindah yang pernah aku lihat. Masih yang terindah, bahkan sampai saat ini sekalipun.
Satu bintang tampak mencuri perhatian di langit belahan selatan. Indah, berkelap-kelip. Seolah ingin menunjukkan dirinya berbeda dari yang lain. Seolah ingin memberitahu bahwa dirinya ‘ada’. Entah mengapa, tiba-tiba kita ingin menamainya dan menjadikannya milik kita. Semoga bintang itu menerima. Kita pun sepakat memberinya nama Sadira. Nama yang indah, jarang ditemui.
“Jika kita nanti kita terpisah jauh...”
“... sapa saja Sadira, biar rindu terredam.”
Lalu senyum. Begitulah kita. Banyak hal-hal yang tidak membutuhkan media verbal untuk mengungkapkannya, tapi kita memahaminya.
Apapun yang kita lakukan saat itu mungkin adalah sebuah bahasa cinta. Apapun yang kita ucapkan mungkin merupakan ungkapan kasih. Semua itu adalah sebuah kisah, cerita yang hanya dapat ditemui di masa lalu. Aku tidak tahu, apakah kau melihat Sadira juga malam ini atau kau memilih untuk mempunyai bintang yang lain. Aku juga tidak tahu apakah masih ada aku di setiap hembusan nafasmu. Ataukah masih ada aku di setiap mimpi indahmu. Sama seperti kata-katamu beberapa saat yang lalu, di saat semua masih nyata dan mimpiku bukanlah sekedar ilusi.
Jika surat ini sampai kepadamu, terimalah dengan tidak menaruh curiga kalau aku ingin kembali kepadamu. Aku hanya nyaman bercerita denganmu, tidak dengan yang lain. Jadi, ku harap kau tidak bosan membaca semua ini. Aku akan mematikan lampu, agar aku bisa tidur dengan sedikit nyenyak saat ini, ketika aku selesai menuliskan semua.
Berilah aku kabar, Vebrika. Setidaknya aku butuh itu. Aku hanya ingin tahu kau tersenyum di sana, bahagia dengan kehidupan yang kau pilih.
Jika saja aku masih diberi kesempatan untuk dapat melihatmu lagi, aku akan mengecup ujung jemarimu dan memberikan setangkai anggrek bulan merah jambu seperti janjiku di awal mimpi.
Jakarta, April 2005

1 komentar:
aluusss ^_^
kirim ke penerbit cuy, ato taro di koran.
Posting Komentar