Malam semakin beranjak dewasa. Sang rembulan mulai tertatih menyelamatkan malam, terserang berkali-kali oleh barisan kabut kelabu. Sementara, bintang gemintang laksana glitter yang berkelap-kelip di hamparan beludru hitam. Nun jauh di ufuk, mulai terlihat semburat-semburat tipis cahaya fajar. Ya, segera saja malam akan semakin tergusur, berganti tugas dengan surya yang menyirami semesta dengan sinarnya.
Gandari masih terjaga, bahkan ia belum tidur semenjak kemarin. Rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai. Sementara, matanya tampak lelah dan kuyu. Ia menatap semburat fajar yang semakin meraja, dari jendela yang menghadap ke timur. Entah sudah berapa lama ia terduduk di sebuah kursi kayu berukir naga tersebut. Tidak ada apa-apa di ruang yang desebut sebagai ruang perenungan itu, ruang yang biasa dipakai untuk memutuskan masalah pelik yang sering menimpa keluarganya, kecuali dua kursi kayu silinder berukir naga tadi dan sebuah cermin besar di salah satu sudut ruangan.
Suram, begitulah kesan pertama yang ia rasakan ketika pertama kali memasuki ruang tersebut. Hanya ada satu pintu masuk yang juga terbuat dari kayu ukiran yang sangat berat untuk dibuka, juga sebuah jendela yang menghadap ke timur. Dinding merah bata yang tampak telah terselimuti sarang laba-laba di keempat sudutnya, membuat sedikit ciut nyalinya ketika awal ia memasukinya. Tetapi, Gandari memang tidak pernah dididik manja oleh orangtuanya. Sebaliknya, ia diajarkan bagaimana menjadi mandiri dengan kekuatan sendiri.
Akibat kekalahan Sangkuni, kakaknya, melawan Pandu Dewanata dalam sebuah duel adu kesaktian, Gandari pun harus rela diserahkan pada Pandu. Untuk itu, Gandari harus bersaing dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Jadi total, ada tiga calon yang akan menjadi istri Pandu. Sebetulnya, ia tidak keberatan menjadi pendamping Pandu, bahkan merasa peluang kekuasaan telah singgah di pelupuk matanya. Tetapi kemudian, Pandu mempersilahkan Destarastra untuk memilih satu dari tiga calonnya tersebut. Itu artinya, salah satu dari ketiga calon tersebut akan menjadi istri Destarastra, kakak Pandu yang buta.
“Ah, buat apa menjadi istri orang buta. Tidak bisa menjadi penguasa,” ucap Gandari pada Sangkuni.
Sakit kepalanya memikirkan semua ini. Ia bingung. Gelisah. Tujuannya hanya satu, sebagai perempuan cantik ia pastinya ingin mempunyai suami yang menjadi dambaan setiap perempuan; gagah, tinggi, rupawan dan mempunyai jabatan pentig di kerajaan. Seringkali ia berandai-andai menjadi permaisuri seorang raja dari negeri seberang, dengan segala kemewahan, perhiasan dan kehormatan. Ya, hal-hal itulah yang membuatnya selalu merasa sebagai perempuan penting.
Gandari semakin hanyut dalam perasaan rasa penyesalan yang terdalam. Ia lalu berdiri dan mengepalkan tinjunya pada tepian dinding, hingga membuat tengannya sedikit berdarah. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan itu, mungkin hanya saja rasa depresi dan kekesalan yang sudah memuncak. Ketika fajar sudah benar-benar menyala, Gandari pun berteriak dan seketika ruang tersebut tersapu angin, membuat sarang-sarang laba-laba itu terhempas berterbangan.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia benci dengan keadaan ini.
Jakarta, 26 September 2004


Tidak ada komentar:
Posting Komentar