
SMU Bintang Senja pada pagi hari, suasana sangatlah tenang. Sepasang kakek-nenek sedang mengajak anjing pudel mereka untuk jalan-jalan pagi dan berhenti sejenak. Mereka saling bergandeng tangan dan tersenyum, sambil menunggui anjing mereka yang buang air di tiang listrik depan sekolah. Sekolah teladan yang tiap tahunnya selalu menyeleksi angkatan terbaik itu, benar-benar menunjukkan kualitas yang sesungguhnya dari sekolah swasta terbaik seantero jagad, menurut pernyataan Pak Budi, sang kepala sekolah.
Dua detik kemudian, setelah tulisan di atas diturunkan, terdengarlah suara-suara tawa dan teriakan yang membahana. Otomatis sepasang kakek-nenek tadi pada semaput, sementara anjing kecil itu panik dan menjilati pipi majikannya untuk membuat mereka segera sadar.
Apa sebab? Ternyata suara pemecah keheningan itu berasal dari kelas 3 IPS 2. Ikki yang merupakan pencetus dan bersuara paling keras itu, kini memegangi perutnya menahan tawa. Penyebabnya satu, ada anak baru pindahan dari SMEA Pita Merah yang sedang memperkenalkan diri. Jamhari namanya, cupu tampangnya, plintat-plintut omongannya. Rambutnya disisir belah pinggir, pakai bedak di keningnya, baju yang digulung karena kebesaran dan celana yang menggantung di atas mata kaki.
“Heh, sudah-sudah... jangan pada ribut. Kasih kesempatan pada kawan baru kita ini, dong. Ayo Jamhari, silahkan teruskan,” kata Bu Siwi coba menguasai keadaan.
Jamhari yang terlanjur ditertawai teman-teman barunya tersebut, kini mulai tampak berkeringat dan membuat bedak di keningnya luntur. Anak-anak pun bertambah riuh, mereka tertawa sejadi-jadinya.
“N-na-nama saya Jamhari, anak sulung dari pasangan Tohari dan Lastri Aminudin, tinggal di Kampung Gabus Rt 7 Rw 12 No. 176 A, ...” ujar Jamhari sambil menyeka keringat di keningnya. Anak-anak pada sakit perut. Beberapa dari mereka kini keluar kelas, ada yang ke paturasan[1] karena tak kuasa menahan pipis, ada yang sekedar ke lapangan agar bisa tertawa sepuasnya, bahkan ada juga yang ke ruang PMR, minta obat penenang.
Begitulah awal perkenalan anak-anak dengan Jamhari. Awalnya memang lucu, karena dengan berdiri saja Jamhari sudah lucu, apalagi membuka mulut dengan menunjukkan behelnya yang berwarna-warni. “Itu behel apa sisa-sisa sarapan, Jam?” tanya Bambang iseng suatu ketika dan disambut dengan tawa anak-anak.
Jamhari memakai kacamata tebal yang entah minus berapa, ia juga terkenal kutu buku, walau kepintarannya belum teruji. Tetapi, kalau urusan pelajaran ekonomi dan akuntansi dia-lah jagonya. Konon, dia adalah siswa nomor satu di SMEA dulu. Lantas kenapa ia pindah?
“Kan enak, di sekolah lo dulu banyak ceweknya,” komentar Johan.
“Udah gitu, pasti kalo pelajaran olahraga ganti bajunya pada di kelas, kan?” timpal Indro.
“Saya nggak tertarik sama yang gitu-gituan,” jawab Jamhari suatu ketika.
“Wah, jangan-jangan lo homo, ya?”
“Hus! Lo jangan sembarangan ngatain orang homo gitu, dong. Lo kayak nggak pernah diajarin tata krama aja,” bentak Ikki membela Jamhari. Jamhari pun senang merasa ada yang membela. “Emang lo nggak liat tampang Jamhari yang macho gini? Ya, nggak mungkinlah dia homo. Palingan gay... Iya, nggak?” sergah Ikki sambil merangkul Jamhari. Anak-anak pun tertawa, sementara Jamhari yang kesal, juga tertawa walau tanpa nada.
Tapi belakangan ini, anak-anak akhirnya menyadari kalau Jamhari itu agak garing, setiap pembicaraan dia melulu soal akuntansi yang sesungguhnya sangat dijauhi anak-anak, terutama Ikki.
Seperti di suatu siang menjelang pulang sekolah. “Waduh, kalo pelajaran kosong gini, enaknya ngapain, ya?” tanya Bambang iseng pada teman-temannya.
“Gimana kalo kita belajar akuntansi aja. Kebetulan waktu di SMEA dulu, saya diajarin rumus menghitung cepat tentang kalkulasi budget yang harus dipersiapkan,” tukas Jamhari sambil mengeluarkan buku besarnya.
“???”
Ketika anak-anak sedang berkumpul sambil main tebak-tebakan atau cerita-cerita konyol di pojok ruangan saat jam kosong seperti biasa pun, Jamhari selalu nimbrung. Suasana menjadi garing.
“Eh, gua punya tebakan, nih!” tukas Johan membuat teman-temannya berkumpul.
“Alaah, paling-paling gampang ditebak lagi,” kata Ikki cuek.
“Enggak bakalan, deh. Kenapa rel kereta banyak kerikilnya?”
“Karena kalo dikasih permen, anak-anak pada ngerubungin!” jawab Bambang sukses.
“Kenapa Superman celana dalemnya merah?” tanya Johan lagi.
“Biar matching ama sepatunya!” jawab Ikki puas. Anak-anak tertawa.
“Keriput, lengket, cepet, bisa terbang. Apa hayo?” masih Johan keki.
“Nenek-nenek nempel di pesawat terbang!” jawab Ikki cepat.
“Tuh, kan. Ketebak. Payah, nih,” ucap Santi. Sementara Ikki mengangkat alisnya bangga.
“Kalo gitu biar gue sekarang. Daerah apa di Jakarta yang namanya terinspirasi dari artis terkenal luar negeri?” tantang Ikki.
“Apa, ya?”
“Duh, gue nggak tau, Ki.”
“Wah, nyerah deh, Ki.”
“Slipi.”
“Kok Slipi?”
“Iya, Slipi Wonder.”
Anak-anak pun terpaksa menyetujuinya.
Tiba-tiba, dengan gaya kalem dan cengengesan khasnya, Jamhari ikut nimbrung. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Sinta. Dengan sopan, Sinta pun pamit pergi. Diikuti Santi.
“Kenapa Jam?”
“Iya, kok cengengesan kayak gitu?”
“Tadi tebakannya lucu, hehe... ada lagi gak yang lainnya?”
Anak-anak saling melempar pandangan. Ikki melihat Bambang, Bambang melihat Johan, Johan melihat Ali, Ali melihat Bejo, Bejo melihat Indro, Indro melihat Jamhari. Nah, Jamhari bingung, ia harus melihat siapa, akhirnya ia melihat-lihat saja. Nggak jelas!
“Gue ada nih,” cetus Bejo dengan logat Jawa-nya yang sungguh kental dan sama sekali tidak pas mengucap kata ‘Gue’.
“Iya..iya, mau dong,” ucap Jamhari senang.
“Basah, asin, mbanyak disukai orang. Tahu ndak?”
“.....”
“Ancol!” serbu Jamhari.
Anak-anak menoleh ke Jamhari, terperangah karena mengira ternyata Jamhari cerdas juga.
“Kenapa Ancol?”
“Nggak tau, nebak aja. Emang salah, ya?”
Kontan anak-anak pun menghela nafas bersama-sama.
Atau ketika anak-anak sedang berkumpul di kantin seusai pulang sekolah. Ikki tiba-tiba punya usul untuk kemping.
“Sebentar lagi kan liburan nih. Masa setiap liburan cuma kita isi ama main PS atau main layangan, atau paling banter manggang-manggang. Kita harus cari alternatif lain. Maka itu, gue ngusulin gimana kalo kita kemping?” celoteh Ikki panjang lebar di depan anak-anak.
“Tapi, kita kemping kemana, Ki?”
“Gue udah nanya-nanya. Menurut orang-orang yang paling oke tuh ke Gunung Gede.”
“Kita pake tenda siapa?”
“Iya, kita pake tenda siapa?”
“Gue takut nggak boleh ma bonyok gue, nih.”
“Apa saja yang harus dipersiapkan?”
“Tapi, kata mbah gue. Ndak baik naik gunung pas malem Jum’at kliwon. Mbahaya katanya.”
“Gue ikut dong!” seru Jamhari yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
“Wah, kayaknya nggak jadi, deh. Mendingan kita belajar aja. Soalnya sebentar lagi kan mau ujian akhir. Kita juga harus mikirin SPMB. Yuk, mendingan kita pulang aja,” tukas Ikki kemudian.
Anak-anak pun pulang, karena mencium akan datangnya sedikit bahaya dan teror mental dari makhluk bernama Jamhari itu.
Jamhari itu benar-benar perusak suasana, begitu kesimpulan anak-anak. Tapi dibalik itu semua, tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Jamhari dalam kesehariannya. Bahwa bedak di keningnya adalah untuk mengatasi penyakit biang keringat yang tampaknya abadi semenjak ia kecil, tidak mampu untuk beli obat mahal seperti yang disarankan dokternya dulu. Bahwa penyebab Jamhari menjadi garing karena ia tidak bergaul dengan orang lain yang sebayanya. Televisi 14 inch itu sudah lama rusak, tidak ada gambar, cuma suaranya saja.
Jamhari selalu berusaha untuk masuk ke dalam lingkup pergaulan anak-anak, baik di sekolah yang dulu, maupun yang sekarang. Tapi, ia selalu gagal. Parahnya, ia tidak peka akan hal tersebut. Ia selalu dijauhi teman-temannya, kalaupun ada yang mendekati itu berarti ada yang salah dengan teman tersebut (lho?!).
Teman-temannya tidak tahu kalau Jamhari pindah ke sekolah itu karena sekolah yang lama men-drop out dirinya, lantaran bayaran sekolahnya menunggak selama enam bulan. Teman-temannya tidak ada yang tahu betapa sulitnya kehidupan ekonomi keluarga Jamhari. Kenyataan bahwa ibunya adalah seorang single parent setelah kematian ayahnya akibat tumor otak dua tahun yang lalu, membuatnya ikut prihatin luar dalam. Juga mengenai dirinya yang harus menjadi loper koran di pagi hari dan bekerja di tempat cuci motor dekat rumahnya pada sore harinya. Semua ia lakukan demi ibunya untuk membantu bayaran sekolahnya, juga adiknya, Miralda, yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP.
“Jamhari!! Anterin nih kue ke warungnya Mpok Hindun. Tar kalo udah itu, beli jeruk nipis di Bang Ro’up buat obat batuk Mira. Sekalian kalo ada Bu Haryati, minta daun jambu biji buat Emak, soalnya agak mencret, nih.”
Baru saja Jamhari hendak meninggalkan pintu rumah kontrakannya, ibunya teriak lagi. “Sekalian minta kecap sesendok buat temennya jeruk nipis. Jangan lupa, ya!”
“Iya, Mak.” Jamhari segera berlalu dan kembali terdengar ibunya yang berseru.
“Lho, kamu mau kemana?”
“Ya, kan tadi Emak suruh ke...”
“Itu, kuenya nggak dibawa?”
“Oh, iya. Maap lupa.”
“Dasar gemblung[2]!”
Jakarta,April 2005

Tidak ada komentar:
Posting Komentar