04/12/07

TPS 27


20 September 2004, terselenggaralah pesta demokrasi. Dimana setiap warga negara melaksanakan haknya sebagai pemilih untuk menentukan orang yang paling berhak memimpin bangsa ini. Amrin, salah seorang pemuda desa Giaru, mendatangi tempat pemungutan suaranya di TPS 27 pagi-pagi sekali. Bukan dengan maksud ia datang untuk menjadi urutan pertama pemilih, tetapi lebih sebagai petugas KPPS yang bertanggung jawab atas tempat tersebut.

“Belum juga jam enam, kok udah dateng, Rin?” tukas seorang tukang bubur ayam sambil menyiapkan dagangannya, ia memang biasa mangkal di persimpangan jalan, tepat di sebelah TPS tersebut.

“Iya, nih. Gua lagi males di rumah,” jawab Amrin lesu.

Tukang bubur itu tersenyum, sambil memotong ayam menjadi suwiran-suwiran kecil. “Berantem lagi ama adek lo?”

“Ya, begitulah. Tuh orang emang susah dibilanginnya,” kata Amrin sambil membenahi letak kursi-kursi di dalam TPS.

“Kenapa lagi?”

“Yah, kayak lo nggak tau aja. Kerjaannya cuma tidur ama makan doang. Disuruh kuliah nggak mau, disuruh kerja ogah, disuruh kesana kemari nolak. Apa gua nggak kesel? Kasihan emak gua, dimintain duit mulu. Cuma buat ngerokok. Padahal kerjanya cuma tukang cuci pakaian di komplek sebelah. Terus minta ama gua, iya kalo ada, lha kalo nggak ada? Tau sendiri kerjaan gua cuma tukang becak. Penghasilannya berapa sih?” kata Amrin meluapkan kejengkelannya.

Tukang bubur ayam cuma bisa angkat bahu.

“Nah, gitu dong. Petugas KPPS harus rajin kayak ente. Yang laennya mana?” ucap Pak RT yang datang sambil menepuk pundak Amrin.

“Belum pada datang, Pak. Mungkin sebentar lagi,” kata Amrin sambil tersenyum.

“Kamu emang rajin, Rin. Ya sudah, pesen bubur ayam sana. Kamu belum sarapan, kan?” tawar Pak RT.

“Waduh, nggak usah repot-repot, Pak.”

“Kamu yang nggak usah repot, pake nolak segala. Jadi nggak mau, nih?”

“Ya... ya mau, sih,” ucap Amrin malu-malu.

“Mas, bubur ayamnya dua,” seru Pak RT kepada penjual bubur ayam.

“Satu aja, Pak RT. Saya nggak habis kalo dua,” ucap Amrin sambil mengelus perutnya, seolah cukup kenyang dengan satu porsi.

“Huss, yang satu buat saya, tau.”

Ketika Amrin dan Pak RT sedang makan, satu-persatu petugas KPPS mendatangi tempat tersebut dan segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Hingga pukul sembilan, semua berjalan lancar dan tertib. Baik dari panitia maupun peserta pemilih, semua puas dengan pelayanan dan jalannya pemungutan suara. Sampai ketika Hussein, adik Amrin yang paling bungsu, berlari ke arah TPS dan berteriak memanggil nama Amrin berulang kali.

“Bang Amrin... Bang Amrin...!”

Amrin lalu mendatanginya sambil berbisik, “Ada apa, sih. Orang lagi....”

“Emak dipukul ama Bang Midun, gara-gara emak mergokin Bang Midun lagi nilep duit emak di lemari baju,” ucap Hussein sambil ngos-ngosan.

“Hah?!”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Amrin segera izin pada Pak RT dan ketua TPS untuk pulang ke rumahnya sebentar.

Tiba-tiba, terdengar orang-orang yang berteriak. Semua menyingkir dan sebagian masih berteriak histeris. Midun mendatangi TPS sambil membawa celurit berlumuran darah.

“Apa lo, Hussein? Bisanya cuma ngadu ama Bang Amrin doang. Nih, buat lo berdua, kalo mau nasib lo kayak emak,” ucap Midun sambil mengacungkan celurit ke arah Amrin dan Hussein.

“Jadi emak?” ucap Amrin mulai tidak percaya dan seketika menganggap Midun bukan saudara mereka lagi.

“Iye. Emak udah koit. Minta duit kagak dikasih, giliran gua ngembat dari lemari, diomelin, gua sikat aja batang lehernya.”

Semua orang sontak semakin histeris, beberapa ada yang langsung melarikan diri. Sementara itu, Amrin dengan penuh rasa amarah, menantang Midun dengan mendekatinya. Hussein, yang masih duduk di bangku kelas dua SMP itu, langsung terjatuh pingsan begitu mendengar kematian ibunya.

Segera, terjadilah perkelahian hebat antara dua kakak beradik Amrin dan Midun. Dengan tangan kosong, Amrin mengelak dan memberikan pukulan telak di tubuh Midun. Midun pun dengan lincah mengayunkan celurit ke arah wajah Amrin. Amrin berusaha mengelak, namun pelipisnya sedikit tersayat dan mengucurkan darah. Untuk beberapa saat, keduanya terlibat adu tinju dan tendangan. Satu tepisan, membuat celurit melayang dari genggaman Midun dan jatuh ke bawah kotak suara. Sebuah tinju lagi mendarat tepat di ulu hati Midun, membuatnya tersungkur ke belakang. Tak kalah akal, Midun mengambil segenggam pasir di tempat ia jatuh dan menebarkannya ke arah Amrin. Amrin terkejut dan seketika membuatnya tidak dapat melihat. Selagi Amrin mengusap-usap matanya, Midun meraih celurit dan mengayunkannya ke tubuh Amrin dengan membabi buta.

Semua orang dapat melihat cipratan-cipratan darah yang berasal dari tubuh Amrin. Tak ada yang mampu menghentikannya, tak ada yang sanggup melerai duel tersebut. Dan ketika Midun mengayunkan celuritnya yang terakhir dan menembus jantung kakaknya, Amrin pun roboh seketika.

Sesaat, TPS 27 sunyi senyap. Tak ada satu suara pun yang terdengar. Cipratan darah menodai kertas-kertas suara, membasahi meja dan juga kotak suara. Satu erangan lirih menyudahi riwayat Amrin. Semua terdiam dalam getir, termasuk Pak RT yang tidak dapat berbuat apa-apa. Midun pun masih berada di tempatnya, berdiri menghadap jenazah Amrin. Senyap. Sampai kerling lampu patroli polisi memenuhi ruang TPS 27.


***

Jakarta, 21 September 2004

Tidak ada komentar: