07/12/07

Pelajaran Batu


Ketika pulang sekolah, kaki Rina tersandung batu. Ia meringis kesakitan. Lutut kanannya berdarah. Sisi dan Rayni mengantarnya pulang. Sisi dan Rayni memang teman sekelas Rina di sekolah dasar. Rina pulang dengan kaki terpincang-pincang. Sesampainya di rumah, ibu segera membasuh luka dan mengobati Rina.

“Uuh, kenapa sih harus kesandung?”

“Yah, itu namanya sudah qodar dari yang di atas, Rina,” jawab Ibu memberi pengertian.

“Tapi sakit, Bu,” tangis Rina kembali tumpah.

“Sabar, ya. Beberapa hari lagi juga sembuh.”

“Rina nggak mau sekolah besok!”

“Kenapa?”

“Kaki Rina sakit banget, Bu.”

Ibu Rina tersenyum dan mengusap kepala Rina sekali.

“Ibu dulu juga beberapa kali terluka. Waktu belajar naik sepeda, lutut ibu juga sempat berdarah. Tapi, itu nggak menjadikan ibu kapok belajar sepeda. Ibu malah makin semangat. Karena di dalam luka ada pelajaran. Nah, pengalaman seperti itulah yang membuat kita tahu dan tidak mengulangi kesalahan.”

Rina mengusap air matanya. “Tapi kan, sakit.”

“Buktinya sekarang ibu bisa naik sepeda, malah bisa mengantar kamu ke sekolah naik sepeda.”

Rina tersenyum, ibunya mengangkat sebelah alis sambil membalas senyum Rina.

“Umm, Qodar itu apa, sih, Bu?”

“Qodar itu ketentuan Allah yang harus kita jalani. Dari situ kita diuji apakah kita bisa melaluinya atau tidak.”

“Kalau tidak?”

Ibunya menggeleng ringan. “Kita pasti bisa melaluinya, sayang.”

Rina kini tersenyum.

“Nah, gitu, dong. Kalau anak ibu senyum gitu kan manis. Eh, ibu ada es krim di kulkas. Kamu mau?”

“Rasa coklat, Bu?”

Ibu mengangguk mengedipkan sebelah matanya.


***


Depok, 11 September ‘07

Tidak ada komentar: