
Sheila kecil memandangi pohon ek itu tepat dari bawahnya. Pohon ek yang berumur ratusan tahun itu telah ada di sana sejak ayahnya masih kecil, begitu kata ayah suatu ketika. Sheila memandang kagum dan tersenyum. Seekor burung gereja tiba di salah satu ranting. Burung itu membawa sebatang rumput kecil entah dari mana. Rupanya ia sedang membuat sarang. Senyum Sheila melebar. Ia bisa membayangkan anak-anak burung itu bercicit menunggu ibu mereka memberi makan.
Angin perlahan membelai wajahnya, membuat beberapa helai rambut Sheila menari-nari kecil. Sheila ingat bagaimana ayahnya sangat menginginkan agar pohon itu tetap berada di sana. Bahkan, ibunya juga sempat menghalangi seorang pembangun real estate untuk menebangnya. Dan ibunya berhasil. Nyatanya, pohon ek itu masih berdiri tegak hingga saat ini. Batang utamanya kuat dan diameternya selebar rentangan empat orang dewasa. Ranting-ranting di atasnya juga tumbuh kuat. Dua utas tali terpasang di salah satu rantingnya, berfungsi sebagai ayunan. Ya, sebuah ayunan dari ban bekas yang biasa Sheila naiki.
Beberapa dedaunan kering itu gugur. Perlahan melayang jatuh ke tanah. Satu lembar daun jatuh menuju wajahnya dan Sheila menangkap daun itu. Dalam hati ia berkata pada pohon ek tua itu, akankah ada hari esok untuknya?
Beberapa meter di belakangnya, ayah dan ibu Sheila memandangi putri mereka, mereka bisa merasakan kesedihannya. Tampak Sheila yang berdiri bersama pohon ek, dua buah traktor di kanan mereka, segunung tanah merah yang baru saja diturunkan dari truk besar dan beberapa pekerja yang membuat kolom pondasi dengan belasan pasak bumi tak jauh dari mereka.
***
Jakarta, Oktober 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar