Sudah hampir dipastikan aku kurang menyukai anak kecil. Mungkin karena kenakalan mereka dan segala kemanjaan yang menurutku sangat tidak masuk akal.
Pernah suatu ketika aku sedang tiduran di atas ranjang kamarku di suatu hari libur, keponakanku yang baru berumur tujuh tahun, Dimas, datang dan menghambur ke arahku yang sedang menguap. Seketika dadaku menjadi sesak seiring dengan keterkejutanku. Maka, dengan gerakan refleks, aku menyingkirkan anak ingusan itu hingga ia terpental ke pintu keluar. Ia menangis. Ibuku memarahiku, tapi aku cuek dan berlalu. Ya, itulah balasan yang setimpal bagi anak kurang ajar.
Suatu ketika, kekasihku mengajakku bertandang ke rumahnya. Aku pun dikenalkan pada orangtua dan beberapa saudaranya. Seingatku, ada satu orang yang menggendong anak kecil.
“Winna, siapa nama cowokmu?” tanya kakak perempuan Winna yang sedang memangku anaknya.
“Restu”
“Hai restu...” katanya sambil menggerak-gerakkan tangan kanan anaknya yang masih balita. Akupun membalas lambaian itu dengan terpaksa dan sangat dibuat-buat.
Entah kenapa, tiba-tiba hanya tinggal aku satu-satunya lelaki yang ada di ruangan itu. Bayi itu menangis. Ibunya baru saja pergi mengambil makanan di dapur beberapa detik yang lalu.
“Coba Res, siapa tahu sama kamu mau diem...” ujar Winna.
Dengan perasaan bingung sekaligus gelisah aku mendekati si bayi. Ragu. Sampai ketika si ibu datang sambil membawa loyang panas berisi muffin. “Nah, tolong gendong sebentar ya Res.”
Tanganku bergerak perlahan sampai akhirnya menyentuh si bayi. Beberapa orang tampaknya tidak ada satupun yang memperhatikanku. Aku pun semakin cuek dan coba mengangkatnya. Tapi tangisnya makin keras dan tubuhnya mencoba berontak.
“Dinyanyiin aja,” kata ibu Winna.
“Nyanyi apa?”
“Apa aja, dia pasti suka.”
“Pelangi-pelangi, alangkah indah...”
Tangis bayi itu makin keras.
“Mungkin suara kamu agak fals kali,” ujar salah seorang saudara laki-laki yang baru saja masuk sambil terkekeh.
Aku menghentikan nyanyian bodohku. Bayi itu berusaha berontak, kemudian ia mengencingi kemejaku. Aku terpekik kesal dan tanpa sengaja melepas gendonganku. Kini giliran semua orang yang terpekik histeris.
Jakarta, 5 April 2007


Tidak ada komentar:
Posting Komentar