04/12/07

Senja dan Kekasih


Sore yang cerah. Sebuah pementasan musik tradisional Mexico digelar di taman kota. Tiang-tiang lampu taman serta pepohonan dihias aneka kertas dan kain berwarna-warni. Burung-burung merpati tampak gembira mematuki jagung dan kacang-kacangan yang diberikan pengunjung, beberapa terbang menghiasi langit atau menuju ke atas kepala patung Daud di tengah kolam taman. Hangatnya sinar matahari dengan pesonanya yang menyemaikan taman hati, menambah semaraknya nuansa pesta akhir tahun tersebut.

Semua orang tersenyum, semua tampak gembira, terkecuali Frans. Pemuda itu hanya terduduk di pinggiran kolam dan terdiam memandangi pemain-pemain musik yang tampil dengan baju dan topi panjang khas Mexico serta pasangan-pasangan yang berdansa di bawah bendera-bendera segitiga kecil yang terhubung dari satu tiang ke tiang lain atau satu atap ke atap yang lain.

Frans mengamati sepasang lelaki dan perempuan yang telah berusia senja, berdansa seirama dengan musik yang menghentak semangat. Frans pastinya mengira mereka adalah pasangan yang bahagia. Betapa tidak, sudah hampir dua jam ia berada di tempat tersebut, selama itulah ia melihat pasangan itu berdansa, saling memandang mesra dan bergerak dengan lincah, seolah dulunya mereka adalah penari profesional yang tersatukan dalam cinta abadi.

Tiba-tiba ada sebersit perasaan iri dalam dirinya. Bukan iri dalam arti yang negatif, tetapi lebih kepada keinginan untuk merasakan hal yang sama seperti yang dilihatnya sore itu, menjadi pasangan yang langgeng sampai tua. Ia teringat dengan Lucy, kekasihnya yang sudah dua tahun ini ia pacari dan kini ia merasa semakin jauh dengannya. Terlalu sering mereka bertengkar, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Apalagi sejak satu bulan yang lalu, Lucy bekerja di Vera Crus sebagai apoteker, yang semakin membuat Frans merasa jauh.

“Buat apa sih, pakai terima pekerjaan itu?” tanya Frans saat malam sebelum Lucy berangkat.

“Maaf, Frans. Aku tidak tahu lagi bagaimana mencari biaya untuk sekolah adikku satu-satunya. Kau tentu juga tahu kalau beberapa bulan ini aku menganggur. Uang tabungan ibuku sudah habis. Bahkan semenjak kematian ayahku, ibu begitu keras bekerja, tetapi penyakit sklerosis begitu mendera, sehingga membuatnya tak urung hampir kehilangan mata pencahariannya. Aku tidak ingin adikku putus sekolah, tolong mengerti keadaanku, ya?” jelas Lucy.

“Tapi, Vera Cruz begitu jauh dari Leon,” ucap Frans perlahan.

Lucy mengelus rambut Frans sesaat, kemudian tersenyum. “Aku tahu, Sayang. Ini bukanlah tentang perpisahan, tapi tentang kesetiaan. Dan aku tidak mau kita bertengkar lagi gara-gara masalah ini,” ucapnya yang masih tersenyum, mencoba memberi pemikiran dewasa pada Frans.

Frans tertunduk, mengiyakan perkataan Lucy dalam hatinya. Kenyataan bahwa jodoh di tangan Tuhan adalah yang harus ia yakini. Tapi, entah kenapa hanya Lucy-lah yang selalu ada di hatinya, seolah ia yakin bahwa mereka tercipta untuk berpasangan. Ia terlalu takut kehilangan Lucy, bahkan untuk alasan yang sangat masuk akal sekalipun. Seperti kepergiannya ke Chihuahua tahun lalu, Frans selalu meneleponnya lima kali dalam sehari, selama seminggu. Padahal Lucy hanya menjenguk sepupunya yang melahirkan. Possesif? Mungkin saja. Tetapi, diluar perkara itupun selalu saja ada yang bisa memicu pertengkaran di antara mereka.

Lain Frans, lain pula Lucy. Jika Frans selalu menganggap dirinya sendiri possesif, maka Lucy merasa bahwa ia selalu melakukan hal-hal bodoh yang memancing kekesalan Frans. Seperti ketika makan malam di rumah makan Heaven di persimpangan jalan, tiga bulan yang lalu. Ada seorang lelaki teman lama Lucy, karena telah sekian lama tidak bertemu, ia langsung memeluk dan mencium pipi teman lelakinya tersebut. “Dia teman lamaku, Frans. Kenalkan, namanya Josh,” ucapnya dengan riang sambil memberi isyarat mereka berdua untuk saling bersalaman.

Tetapi, rupanya Josh tidak suka bersalaman. Josh kemudian izin pergi sambil memberi Lucy sebuah kartu nama dan mengecup pipi Lucy, sekali lagi. Seolah Frans, kekasih resmi Lucy, sedang melancong ke Alaska saat itu. Tentu saja, hal itu memicu kemarahan Frans. Dia mendiamkan Lucy selama beberapa hari dan baru reda setelah Lucy berjanji tidak akan sembarangan seperti itu di depan maupun di belakang Frans.

“Menjaga sebuah hubungan, tidak semudah kau membalik telapak tangan. Perlu ada ribuan rintangan untuk mencapai sebuah cinta sejati, tiba-tiba terdengar nyanyian dari pemusik di hadapan Frans, sekaligus membuatnya kembali terjaga dari lamunannya. Lagu yang indah, syahdu dan hanya diiringi sebuah gitar akustik.

Hari telah semakin gelap. Senja hampir habis, meninggalkan semburat-semburat cahayanya yang merah keemasan. Garis-garis sinar itu menyusup, bergerilya dan melindap melalui celah dedaunan serta ujung bangunan tua di sekitar taman kota. Beberapa pemain musik membereskan peralatan mereka. Yang tersisa hanya seorang pemain gitar, seorang penyanyi yang memainkan lagu tadi dan pasangan tua yang masih berdansa perlahan.

Selendang merah si perempuan menari dibelai angin, mengiringi tarian hati mereka berdua. Tiba-tiba, dalam ketenangan dan limpahan cahaya senja yang membanjiri taman dansa, si perempuan terjatuh. Musik terhenti. Semua orang terkejut, begitu pula dengan Frans. Pemuda kurus berkacamata minus itu pun berlari menghampirinya.

Segera saja, orang-orang mengerubungi si perempuan yang terjatuh. Frans melihat wajahnya, sehingga tampaklah ia benar-benar telah berusia senja. Terlihat kerut-kerut di wajah, namun Frans yakin bahwa perempuan itu pastilah sangat cantik beberapa tahun sebelumnya. Perempuan itu tersenyum dan menggenggam erat tangan si lelaki yang memangku tubuhnya, seolah mengajaknya untuk terus menari. Satu tetes air mata jatuh dari matanya yang sayu, tetapi si lelaki tampak tersenyum dan mengangguk, seolah ada suatu pembicaraan telepati di antara mereka. Frans tahu, perempuan tua itu menahan sakit yang teramat sangat di bagian jantungnya, terlihat dari tangannya yang terus memegangi dada kirinya. Ketika perempuan itu menutup mata sambil menggigit bibir bawahnya, si lelaki mengecup lembut keningnya.

Semua orang terkejut tertahan, mengira sesuatu yang buruk telah terjadi dan Frans mendengar sayup-sayup perintah dan seruan dari satu orang ke orang yang lain untuk segera menelepon rumah sakit, ambulans, keamanan setempat dan sebagainya. Begitu riuh di luar lingkaran tersebut, tetapi betapa sunyi dan haru kejadian yang ada di hadapan Frans saat itu.

Lelaki tua itu memeluk tubuh si perempuan yang masih memegangi dada kirinya, lama sekali. Tangannya menepuk-nepuk bahu si perempuan, seolah mengisyaratkan untuk tenang dan ia selalu ada di sampingnya. Tak lama kemudian, mobil ambulans pun datang. Si perempuan tua dibawa masuk ke dalam mobil dan lelaki tua itu menolak ketika diajak untuk turut serta.

Beberapa saat telah beranjak. Mobil itu telah pergi, begitu juga dengan semua orang. Hanya beberapa saja yang tinggal, menikmati udara senja dan hembusan angin pembawa malam. Sepasang remaja tampak duduk di bangku taman sambil saling menyuapi makanan ringan satu sama lain dengan canda, sekali lagi membuat Frans ingin segera bertemu Lucy.

Frans menghampiri si lelaki yang terduduk di bangku taman sambil memandang langit yang berangsur-angsur akan gelap.

“Saya turut bersedih atas apa yang terjadi pada istri Tuan,” kata Frans membuka pembicaraan.

“Bukan,” jawabnya singkat.

“Maksud Tuan?” ucap Frans ragu.

“Namanya Ester. Dia bukan istri saya. Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu dan sekarang penyakit jantung sedang menggerogoti nyawanya. Mungkin ini kali terakhir aku melihatnya, dokter pun bilang begitu beberapa bulan yang lalu, memprediksi waktu dia untuk dapat bertahan,” ucapnya seraya memandangi langit senja. “Kau pasti mengira dia istriku, kan?” tanya lelaki itu yang kemudian memandang wajah Frans.

Frans mengangguk, lalu mengubah posisi duduknya, menghadap ke arah lelaki tersebut.

“Kami memang sepasang kekasih, tapi itu dulu,” lelaki itu tersenyum, lalu menghela nafas. “Entahlah, mungkin karena sifat kami yang sama-sama keras kepala atau keegoisan kami yang membutakan semuanya, hingga kami merasa tidak cocok satu sama lain,” lelaki tua itu lalu menghentikan pembicaraannya, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Kenapa Anda tidak menemaninya di saat-saat terakhir seperti ini?” tanya Frans.

“Aku tidak ingin melihat kesakitannya, aku tidak ingin menangis dan terlihat cengeng di depannya,” jelas lelaki tua sambil tertunduk.

Frans tidak berani mendesak si lelaki untuk bercerita lebih lanjut. Ia hanya bisa menerka-nerka, mungkin saja ia telah merasa dikecewakan yang begitu sangat dan kini hatinya sedang berduka karena tahu akan segera kehilangan.

“Kau sendiri bagaimana, Nak... siapa namamu?” tanya si lelaki sambil tersenyum pada Frans.

“Frans, Fransedo Olivio.”

“Hmm, nama yang bagus. Aku David. Ayolah, kau pasti punya cerita yang menarik,” ucap lelaki yang ternyata bernama David tersebut sambil menepuk pundak Frans. Hmm, David senang menepuk pundak rupanya.

Lalu, Frans pun menceritakan kisah cintanya dengan Lucy. Betapa banyak cerita dan kisah cinta di antara mereka, tetapi pertengkaan-pertengkaran juga tidak dapat tertepiskan. Frans benar-benar menceritakan semuanya, seolah yang di hadapannya adalah seorang sahabat karib yang sudah berteman sangat lama.

“Kau cinta dia?” tanya David.

“Ya, aku sangat mencintai dia.”

“Kenapa?”

Frans berpikir sejenak, mencoba menemukan alasan mengapa ia begitu mencintai Lucy. Tetapi telah dua rombongan burung bangau yang melintas di atas mereka dan Frans masih memikirkan apa yang membuat ia mencintai Lucy. Senja pun makin merah.

“Aku tidak tahu, aku tidak punya alasan tepat mengapa aku mencintainya. Yang aku tahu hanya kenyataan bahwa aku memang mencintainya,” kata Frans kemudian.

“Sepenuh hati?”

“Sepenuh hatiku”

“Tepat! Itulah jawabannya,” David berseru dan kembali menepuk pundak Frans.

“Maksud Tuan?” ucap Frans bertanya-tanya.

“Cinta memang tidak butuh alasan, Nak, karena cinta adalah alasan itu sendiri,” kata David sambil tersenyum bijak.

Frans terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan David.

“Tak usah terlalu bingung, Nak.”

Tapi bagaimana Frans tidak bingung, David memberi kata-kata yang membingungkan, tetapi ia tidak ingin Frans merasa bingung.

“Mungkin orang menyangka bahwa kami tidak pernah bertengkar, bahwa kami tidak pernah saling melukai satu sama lain, bahwa kami menjalani setiap butir waktu yang terlewati dengan senyum dan cinta. Tapi, sebenarnya kami tidaklah sesempurna itu. Aku mengerti apa yang sedang kau rasakan, karena aku juga pernah melewati hal yang sama. Masalah maupun pertengkaran di antara kalian sungguh suatu hal yang wajar dan lumrah, selama tidak kau perbesar dengan sifat-sifat bodohmu itu,” kata David sambil menunjuk ke arah kening Frans.

“Maksud Anda?”

“Ya, apalagi selain keegoisan dan kepala batu itu?”

Keduanya lalu terdiam dan saling memandang. Mereka pun sama-sama tergelak.

“Tuan sendiri, kenapa menyerah di saat seperti ini?” tukas Frans yang seolah menghujam jantung si lelaki tua David.

Mereka saling memandang tajam, tepat ke arah mata mereka, David seolah memberikan jawaban melalui sorotan mata tuanya.

Keduanya memang menyadari ada banyak persamaan di antara mereka berdua dan si lelaki tua punya andil besar untuk menyelamatkan cinta Frans yang mulai berada di tepian jurang tersebut, begitu pula sebaliknya.

“Jangan sampai menyesal seperti aku,” pinta David.

“Kau juga belum terlambat untuk itu,” ujar Frans tiba-tiba yang kemudian disertai kerutan di dahi si lelaki.

“Esther pasti membutuhkanmu sekarang. Kenapa kau tidak menemuinya sekarang?” tambah Frans.

“Aku sudah bilang, dia pasti tidak ingin aku ada di sampingnya saat ini. Hanya akan menambah pilu hatinya. Dan dia pun pasti tidak ingin kami kembali ke masa puluhan tahun lalu, hanya akan membuka kenangan lama dari lembar album yang telah kami kubur dalam-dalam,” ucap David perlahan.

Lelaki tua itu lalu tertunduk dan sebutir air mata membasahi pelupuk matanya.

“Tidak Tuan David, Esther tidak akan seperti itu. Percayalah,” ujar Frans mantap.

Beberapa saat keduanya terdiam, senja seolah berhenti menggelincir. Frans tidak yakin apa yang baru saja ia katakan akan menambah semangat cinta David atau malah sebaliknya.

David lalu berdiri. Ia menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Lalu tersenyum pada Frans, sebelum akhirnya ia setengah berlari menuju jalan raya.

“Aku akan menyusulnya ke rumah sakit. Terima kasih, Nak.”

David lalu merapikan pakaiannya sesaat dan tersenyum ke arah Frans.

“Kembalilah ke Lucy-mu. Telepon dia dan bilang kau mencintainya!” kata si lelaki sambil bergegas menuju rumah sakit.

“Pasti, Tuan David,” balas Frans.

Keduanya lalu meninggalkan taman tersebut, menjemput harapan. Ketika surya telah benar-benar hanya meninggalkan segaris cahaya emasnya di cakrawala, dua pecinta itu menuju pasangan sayapnya.


***

Jakarta, 12 September 2004

Tidak ada komentar: