
I thought I could live in your world as years all went by
With all the voices I've heard something has died
And when you're in need of someone, my heart won't deny you
So many seem so lonely with no one left to cry to baby
[Dont’ Cry – Guns ‘N Roses]
Cahaya matahari senja mengiris celah jendela kamar, menimbulkan secercah garis dengan glitter kristal-kristal debu. Semburat cahaya keemasan itu jatuh ke atas kertas diary seorang perempuan. Sementara, sebuah tangan tampak lincah menggores pena, mengungkapkan isi hatinya sore itu. Sudah hampir dua hari, Rini tidak masuk sekolah. “Males, ah, ketemu temen-temen,” katanya ketika ditanya oleh Ibunya kemarin pagi.
Awal permasalahannya sebetulnya sederhana, sangat umum dan klise. Dimas, yang notabene telah menjadi sahabat Rini sejak kecil itu, menyatakan rasa cintanya pada Rini. Yang semakin membuat Rini malu, acara penembakan itu berlangsung saat upacara bendera. Dimas kebetulan menjadi pengibar bendera dan semuanya memang berlangsung normal, awalnya. Tetapi bukannya bendera merah putih, melainkan bendera berwarna merah muda dengan tulisan “I Luv U, Rini. Will u be mine?” yang berwarna warni.
Bener-bener norak, jayus, kampungan, sumpah! tulis Rini pada diary-nya. Lagipula, seharusnya Dimas pasti tahu kalau Rini tidak suka warna merah muda. Rini lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur, memandang poster-poster Sponge Bob Square Pants yang bertebaran di langit-langit kamarnya. Ia tersenyum sesaat, teringat betapa kisah-kisah kartun idolanya itu begitu lucu menghibur. Tapi, bukannya Dimas juga suka tokoh spons kuning itu? Ahh!
Setelah bendera berkibar dan semakin menuju ke puncak tiang, semakin keras pulalah teriakan dan tepuk tangan peserta upacara. Tetapi tidak demikian halnya dengan para guru. Pak Anwar, yang terkenal sebagai guru tersadis seantero jagad (duilee!), segera menarik telinga Dimas dan menggiringnya ke kantor guru. Rini yang wajahnya telah merah karena menanggung malu, masih dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perasaannya serta ucapan-ucapan selamat dari teman-temannya. Nasib Dimas, seperti sudah bisa ditebak, mendapat skorsing selama tiga hari dan terhitung sejak detik itu. Sementara, guru yang merasa simpati dan maklum, hanya mampu nyengir singkat ke arahnya.
Bukannya Rini ingin merasa senasib sepenanggungan dengan Dimas, apalagi karena merasa adanya ikatan tertentu dengannya. Tetapi, karena rasa malu yang masih menjadi halangannya untuk ke sekolah. Berapa tangan lagi yang akan menyalaminya? Berapa pasang mata lagi yang melirik atau mengamatinya dari setiap sudut sekolah? Bagaimana dengan tanggapan guru-guru? Sampai kapan semua ini akan berlanjut?
“Kamu nggak akan pernah tahu suatu hal yang baru, tanpa lepas dari resiko yang kamu hadapi nantinya,” ucap ibunya coba beri nasehat. Yeah, mungkin apa yang dikatakan ibu ada benarnya. Tapi masalahnya, kenapa harus Dimas? Pikir Rini dalam diamnya.
Tiba-tiba, ditengah lamunannya, terdengar dering telepon. Telepon rumah yang letaknya tepat berada di samping pintu kamarnya itu, memang telah sering diprotes Rini. Tetapi ayahnya memang menyatakan hanya itu satu-satunya tempat strategis di rumah, dekat dengan ruang tamu, ruang makan, dapur dan juga kamar orangtuanya. Rini lalu berpikir, kenapa harus kamarnya yang berada di simpang strategis?
Sekali, dua kali, tiga kali..., belum ada yang mengangkat. Kalau sampai satu kali lagi berdering, mau nggak mau gue yang harus keluar, begitu pikirnya. Dering yang ke-empat berbunyi. Dengan malas, Rini bangkit sambil merapikan rambut panjangnya.
“Halo... iya ada. Oh, sebentar ya,” suara Mamanya telah mendahului niat malas Rini untuk mengangkatnya.
Pintu kamar kemudian terbuka dan tampak Mama yang menggerakkan kepalanya, memberi isyarat agar Rini menerima telepon.
“Siapa, Ma?” tanya Rini sambil berdiri.
“Dimas,” jawab Mama singkat, lalu tersenyum tertahan.
Rini langsung merengut dan kembali duduk. “Bilang aja, Rini nggak ada.”
“Kalau ditanya kamu kemana, Mama jawab apa?”
“Bilang aja Rini lagi berenang ama Nanda.”
“Dia nggak akan percaya, lah. Bukannya Nanda udah pindah ke Solo minggu lalu.”
Rini menyadari kekeliruannya. “Ya udah, bilang aja Rini les piano”, katanya asal.
“Hei, Dimas pasti udah tau, kalau kamu les pianonya hari Jum’at.”
Rini hampir putus asa. “Ya udah, Mama... Mama bilang aja Rini nggak mau terima teleponnya, titik.”
Mama masuk dan menghampiri anak semata wayangnya tersebut. “Sayang, kamu nggak suka dibohongin, kan? Sekali kamu berbohong, kebohongan berikutnya akan terus mengalir secara otomatis,” ucap Mama mencoba memberi nasehat sambil mengelus rambut anaknya.
Rini lalu menghela nafas dan berjalan menuju pintu dengan berat hati.
“Ngomongnya yang sopan, ya, Nak,” kata Mama mengingatkan.
Rini menoleh dan mengangguk. Kemudian kembali melangkah.
“Kendalikan emosi,” ucap Mama.
Rini menoleh dan mengangguk, lalu kembali melangkah sambil mengangkat bahu.
“Jangan marah-marah...”
“Iya, Rini tau.” Rini lalu menutup pintu.
Jemari-jemari tangan kiri Rini yang gemulai memainkan kabel telepon, sementara tangan kanan Rini memegang gagang telepon. Beberapa saat kemudian, ia hanya menjepitnya di antara bahu dan telinganya. Sekilas terdengar suara seorang cowok bernama Dimas bicara halus dengan Rini. Tetapi, Rini terlihat cuek dan bersikap acuh tak acuh. Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Rini, “Iya”, “Nggak”, “Biasa aja”, “Biarin”, “Emangnya kenapa?”.
Dimas membicarakan hal-hal tidak penting seputar sekolah dan persahabatan mereka akhir-akhir ini, juga permohonan maafnya atas kejadian Senin kemarin. Tidak ada yang istimewa. Kalaupun ada yang istimewa, Rini sudah menyiapkan sejuta alasan untuk menolaknya.
Waktu telah terlewat lima belas menit dan Rini masih melayani Dimas, walau ia sudah berganti posisi dari duduk, berdiri, jongkok, nungging, sampai tiduran segala. Kelakuannya juga beragam, dari memainkan kabel telepon, makan cemilan, ngupil, mengecek tuts-tuts pianonya, apakah masih berdenting atau bertalu.
“Udah dulu ya. Gue mau buat pe-er dulu,” ucapnya kemudian.
“Pe-er buat besok, ya?”
“Iya.”
“Asyik, berarti besok elo juga masuk, dong?”, tukas Dimas kegirangan.
Celaka tiga belas. Bukan maksudnya besok tanggal tiga belas, tapi Rini keceplosan. “Ah, enggak kok. Sebetulnya itu pe-ernya Ni yang minta buatin sama gue.”
“Ah, elo bisa aja. Ya udah deh, kalau tau elo bakal masuk besok, kita terusin aja besok di kelas, face to face. Gue mau curhat banyak, nih”
“T-t-tapi,...”
“Oke deh, gue ngerti kalau elo emang terlalu sibuk akhir-akhir ini, bahkan cuma sekedar buat ngobrol ama gue. Tapi, gue emang bener-bener butuh lo saat ini. Eh... udah dulu, ya, duit recehan gue juga tinggal satu-satunya nih, sampai besok ya. Bye...”
Pembicaraan dua anak manusia sore itu kemudian terputus. Tetapi, Rini masih memegang gagang telepon sambil terlamun, bingung.
Mati aku, kenapa jadi begini? Rini kemudian mengilas balik kata-kata Dimas yang memang butuh dia akhir-akhir ini. Apa maksudnya? Pikir Rini bertambah tanda tanya.
“Ya udah, hadapi aja. Kamu takut?” tantang Mama seraya membuat Rini terlonjak kaget, sambil keluar dari kamar Rini. Rupanya sejak tadi Mama menguping pembicaraan Rini.
Pagi yang cerah di keesokan harinya. Burung-burung gereja berterbangan keluar dari celah-celah genting atap sekolah Rini. Matahari baru saja terjaga dari tidur lelapnya dan memberi kerlingan kecil pada bumi dengan sinar lembutnya. Rini masuk kelas dan langsung disambut oleh Ni, teman sebangkunya.
“Wah, pa kabar pasangan baru? Kompakan nggak masuk nih, ye,” sapa gadis mungil yang selalu ceria itu, sambil menarik kepang rambut Rini.
Rini menepis tangan jahil Ni, sambil terus berjalan menuju bangku tempat ia biasa duduk. Rupanya kelas masih sepi, hanya ia dan Ni.
“Duh, nona manis jangan marah dong.” Ni mengikutinya duduk, mengamati wajah Rini sesaat, kemudian bertopang dagu.
“Nggak, gue nggak marah.”
“Cuma sewot doang.”
Lantas keduanya tertawa.
“Cerita dong, kemana aja lo nggak masuk dua hari,” desak Ni.
“Nggak kemana-mana, di rumah aja. Daripada di sekolahan dikatain mulu.”
Tiba-tiba, dari arah pintu terlihat sebuah bayangan yang terbias oleh sinar mentari pagi dan membuat kedua gadis itu menghentikan cerita mereka. Rini dan Ni menunggu tindakan seseorang di muka pintu tersebut, sambil memastikan siapa gerangan. Mereka pun segera terkejut beberapa detik kemudian.
“Maaf Ni, bisa pinjem Rini sebentar nggak?” sapa Dimas tanpa basa-basi.
“Pinjem? Pulpen kali, ah, dipinjem-pinjemin segala,” canda Ni. Sementara Rini dalam hatinya berharap Ni tidak membiarkan dirinya sendirian dengan cowok ber-tahi lalat di ujung hidungnya tersebut.
“Boleh nggak? Kalo nggak boleh, ya udah,” ucap Dimas bersiap untuk melangkah pergi.
Ayo dong, Ni. Tetep di sini ama gue, batin Rini memohon.
“Sapa bilang nggak boleh? Ya udah, Rin, tuh dijemput cowok lo,” goda Ni semangat mendukung Dimas.
Rini menelan ludah dengan berat. “I—iya, gue tinggal dulu ya, Ni.” Rini bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Dimas. Tapi, ia sempat melotot pada Ni. Awas lo, ya. Ancam Rini dalam hatinya, berharap teman menjengkelkannya itu dapat mendengar melalui telepati.
Berdua, Dimas dan Rini duduk di bangku panjang di bawah pohon lamtoro. Pandangan Dimas tak lepas dari wajah manis Rini. Tatapan yang syahdu, namun tetap tegas. Sementara untuk mengalihkan perhatiannya, Rini terus mengamati Moko, si cleaning service, yang sedang menyapu lapangan basket dengan sapu Harry Potter-nya.
“Rin, bisa liat gue nggak, sebentar?” pinta Dimas.
Dengan kikuk dan perasaan yang bergejolak, Rini berusaha dan mencoba memandang Dimas. Sebetulnya, bukannya Rini tidak suka menjadi pacar Dimas, hanya saja ia terlalu takut untuk memulai sesuatu yang mengikat, seperti komitmen berpacaran. Ia masih ingin bebas. Ia masih ingin merasakan godaan-godaan cowok lain yang lebih kece dari Dimas.
“Sebenernya gue... ,” Dimas memulai topik pembicaraannya.
Jangan Dimas, jangan. Jangan sampai gue meleleh sekarang juga. Gue belum sanggup untuk menerima cinta lo, batin Rini, antara bersorak dan menutup muka.
“Sebelumnya gue mau minta maaf masalah Senin kemarin. Gue tahu elo jadi diperhatikan temen-temen dan guru setelah peristiwa itu. Bukannya gue mau merusak persahabatan kita...”
Rini semakin gelisah. Ia merasakan suhu tubuhnya yang berubah-ubah, terkadang panas, terkadang dingin.
“... bukan maksud gue juga untuk merubah pandangan elo terhadap gue...”
Butir-butir keringat mulai keluar dari pori-pori di seluruh tubuhnya. Ia benar-benar tidak kuasa menghadapi hal konyol semacam ini. Ini baru pertama kali seumur hidupnya.
“... bukan maksud gue juga ingin membuat tali persahabatan kita terputus,...”
Rini benar-benar tidak sanggup, bahkan untuk memandang lama-lama sepasang mata Dimas. Ia lalu kembali memperhatikan Moko yang kini mengelap ring basket dengan celemeknya (lho??!). Sekarang, Rini hanya pasrah dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“... Mungkin kita memang agak kaku sekarang dan mungkin setelah ini. Tapi kita akan tetap sahabatan kok. Percaya deh...,”
Hah, apa maksudnya? Rini mulai bertanya-tanya dalam hati. Sementara pembicaraan Dimas terputus, sepertinya perhatian Dimas telah tersita tiba-tiba.
Dimas kemudian menjadi gugup, ia menggoyang-goyangkan bahu Rini dengan keras. “Itu, Rin. Lihat cewek yang pake bandana merah jambu, nggak? Itu, lho, yang baru naek tangga.”
Dengan cepat Rini menoleh ke arah yang ditunjuk Dimas. Seorang gadis cantik berbandana merah muda yang menghiasi rambut hitam panjang tergerainya., berjalan anggun menaiki tapak-tapak tangga sambil menenteng sebuah kamus bahasa Inggris yang berwarna-warni. Ia mengapit tas yang juga berwarna merah muda. Seperti sadar kalau sedang diperhatikan, ia kemudian menoleh ke arah Rini, gadis itu tersenyum. Manis, menampakkan deret rapi gigi putih indah yang menghiasi wajah mungilnya yang juga putih bersih. Ternyata Rini sadar, Dimas tengah tersenyum dan melambaikan tangan ke arah gadis itu.
“Itu, Rin, yang gue maksud. Itu namanya Rini juga, Rin. Sama kayak elo. Nama lengkapnya Rini Trias Putri”, ucap Dimas yang tampaknya masih berbunga-bunga.
“Jadi, cewek yang elo maksud pas upacara...”
“Iya, itu dia. Kesan awal pas kenalan udah meyakinkan, Rin. Bayangin aja, kemarin habis gue telepon elo, gue telepon dia juga dan tanggapannya... wuih, tawanya yang renyah itu, senyumnya yang indah itu, aduh, bikin aku...” Dimas terus bicara dengan berapi-api tersulut asmara. Wajahnya tampak sumringah, begitu bahagianya.
Sialan!! Ternyata cewek itu, toh, batin Rini mengumpat. Ia kemudian dengan kesal beranjak pergi dan menuju paturasan, meninggalkan Dimas seorang diri. Rini membasuh wajahnya dengan air kran dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Jakarta, 16 September 2004

Tidak ada komentar:
Posting Komentar