
-©-
Mungkin engkau tidak mendengar deru musik tambur itu
atau bagaimana dedaunan yang menepuk waktu.
(Jalaluddin Rumi)
Pukul 15.35 dan kereta yang kutunggu belum juga tiba. Berpuluh kali lipat orang yang menunggu sepanjang peron, mengharapkan hal yang sama denganku. Bersama seorang nenek dengan lima kantong plastik besar barang belanjaannya, seorang lelaki berkacamata tebal dengan koran yang diselipkan di ketiaknya ¾sementara matanya terus memandangi arah datang kereta, serta seorang perempuan dengan tank top, celana kargo dan rambut warna hijau, aku duduk di bangku besi yang telah berusia puluhan tahun. Stasiun Jakarta Kota memang telah makan asam garam kehidupan negeri ini, sejak pemerintahan Belanda, Jepang, hingga Indonesia. Namun, kekokohannya masih terlihat nyata, rangka-rangka bajanya seolah mengisyaratkan ia akan mampu bertahan lebih dari seribu tahun lagi, begitu monumentalnya.
Tiba-tiba, di tengah penantianku yang mulai melelahkan, seseorang menginjak kakiku. Ahh! Kemana matanya? Keterkejutanku mengalahkan segalanya, padahal mungkin aku tidak merasakan sakit karena diinjak. Tetapi aku terlanjur menggeram dan segera ku pelototi si penginjak. Seorang gadis berseragam putih abu-abu tertunduk dengan muka menyesal, sementara mulutnya mengucapkan maaf berkali-kali. Di sampingnya, seorang pemuda yang juga berseragam putih abu-abu turut mengutarakan permohonan maafnya padaku atas kesalahan gadis itu.
“Sudahlah, pergi sana,” ucapku kesal.
“Sekali lagi maaf ya, Bang.”
“Iya, sudah sana!”
Mereka pun meninggalkanku dengan rasa bersalah, kupikir. Aku memperhatikan kepergian mereka, yang berpegangan tangan erat! Mereka kembali menoleh ke arahku dengan bersamaan, tampaknya mereka takut aku berbuat macam-macam. Segera saja ku alihkan pandanganku. Ketika aku mencuri pandang ke arah mereka lagi, mereka telah kembali berjalan, masih berpegangan tangan.
Manis sekali. Kupikir ini adalah momen terindah mereka. Aku jadi teringat Evelyn. Ah, kemana gadis itu sekarang. Aku ingat ketika pertama kali memberikannya setangkai bunga mawar jingga, yang kemudian itu menjadi kesukaannya. Entah sekarang. Aku memberikannya seraya memintanya untuk menjadi kekasihku dan ia menerimanya, kala itu kami sama-sama kelas dua SMA. Untuk orang yang baru kali pertama merasakan cinta, itu membutuhkan keberanian yang besar. Picisan mungkin, tapi itulah.
Aku dan Evelyn suka kereta, kami sering memanfaatkan waktu liburan kami dengan kereta, bahkan tanpa tujuan yang jelas sekalipun. Ia begitu cantik, --bukan keretanya, tapi Evelyn¾ terlebih saat peluh membasahi dahinya ketika kami berdesakan di dalam gerbong yang penuh sesak. Dan ia memelukku erat. Lima tahun hanya terasa seperti sebuah kerlingan singkat bagiku. Semua berlalu begitu cepat, tanpa akhir.
Sebuah pertengkaran hebat terjadi, dua tahun yang lalu. Penyebabnya hanyalah masalah sepele, aku melupakan ulang-tahunnya yang jatuh pada hari itu. Entah kenapa, ia menjadi berang sekali, padahal aku sudah meminta maaf.
“Aku bingung sama kamu, kenapa bisa lupa ulang-tahunku? Sebelumnya tidak pernah. Ada apa dengan kamu sebenarnya?”
“Kamu yang ada apa? Kenapa hanya masalah sepele seperti ini lantas kamu jadi marah-marah?”
“Sepele kata kamu?! Kamu selalu menyepelekan hal-hal besar sekalipun. Kamu nggak pernah berpikir untuk coba melihat dari sisi lain, dari sisiku.”
“Terserah kamu, aku sudah minta maaf tadi.”
“Terserah kamu juga, aku mau pulang.”
“Silahkan, emang tau jalan pulang?”
“Aku benci kamu!”
Maka ia pun meninggalkan aku yang sendirian di bangku ini, menunggu kereta tujuan Bogor yang beberapa saat lagi tiba. Ia benar-benar pergi, meninggalkanku. Apa yang ada di pikiran gadis itu? Mengapa ia bisa menjadi begitu marah, toh aku sudah minta maaf.
Aku sempat melihat derai air matanya yang jatuh dari matanya saat ia hendak berbalik meninggalkanku. Aku juga sempat melihat ia mendorong petugas pengontrol karcis di pintu keluar, hingga lelaki tua itu terhuyung ke belakang dan akhirnya terjatuh. Kereta itu akhirnya tiba. Tapi, apakah aku harus menaikinya? Tanpa Evelyn?
Maka, aku membiarkan orang-orang itu berdesakan masuk dan sebagian lagi berusaha untuk keluar. Keriuhan itu begitu memenuhi rongga pendengaranku, hingga aku tidak sempat mendengar seruan-seruan tertahan itu, suara-suara histeria itu, suara jeritan memilukan itu dan suara ban yang berdecit mengilukan itu.
Evelyn tewas dalam hitungan menit. Sementara, pengemudi sepeda motor itu segera melarikan diri. Tidak ada yang berhasil mencegahnya, tidak ada yang sempat mencatat plat nomornya, tidak ada yang berbuat apa-apa. Entah bagaimana aku sudah berada di sisi tubuhnya yang berlumuran darah dan ia secara samar mengucapkan kata terakhirnya, “Aku benci kamu.” Lalu terkulai lemah. Entah bagaimana juga, aku kemudian berada di ruangan yang serba berwarna putih, di atas ranjang rumah sakit. Kepalaku pening, aku terlalu lelah untuk berpikir. Aku hanya bisa memikirkan satu, aku menyesal.
Mungkin tidak seharusnya aku mengkhianatinya. Aku seharusnya tidak tergoda dengan Mira, perempuan yang kutemui di acara bachelor party itu. Aku seharusnya melupakannya, bukan malah melanjutkan hubungan yang terlalu jauh dengannya. Aku seharusnya tahu, kalau Evelyn pasti bisa merasakan apa yang ku rasakan. Bahwa kami terlalu identik dalam hal perasaan, hingga ia bisa merasakan apa yang tersirat di dalam hati dan menyentuh emosi yang tidak terluapkan, begitu juga aku. Kami tidak tahu, kenapa bisa seperti itu. Dan pastinya, Evelyn pun merasakan perihal ketidaksetiaanku.
Kesalahanku memang terlalu berat, aku telah mereguk anggur terlalu jauh dengan Mira. Aku tahu kalau aku ini bajingan, cecunguk yang memanfaatkan kesempatan terkecil sekalipun. Aku telah memperburuk keadaan dan mengubah kehidupan yang harusnya bisa terus berdenyut. Aku menyesal sekali. Maka, aku tidak menemui Mira lagi atau yang berhubungan dengannya setelah itu. Sehingga, aku membiarkan jiwaku hampa tanpa peri kecilku. Haus akan kasih yang pernah ditawarkan Evelyn. Rindu akan rasa mabuk yang dulu memaksa peleburan jiwaku.
Aku juga masih ingat ketika rambutnya yang hitam panjang sebahu itu tergerai dan menari dibelai angin, bagaimana bulu matanya yang lentik itu mengikuti kelopaknya mengerjap-ngerjap saat manahan silau dan menyetubuhi bola matanya yang bening, juga bagaimana bibirnya yang mungil merekah dan selalu basah itu mengecupku perlahan dalam keremangan senja. Betapa banyak kenangan yang tercipta bersamanya, betapa tak terhingga waktu yang terlampaui oleh cinta dan semua itu hanyalah buah kisah di masa lalu. Sekarang kenyataannya adalah aku duduk di bangku yang sama ketika kami berpisah dan di sampingku bukanlah Evelyn lagi, tapi orang-orang aneh yang tidak aku kenali.
Pukul 16.10 dan kereta yang aku tunggu bersama lusinan kepala di peron ini belum juga tiba. Entah butuh kesabaran yang bagaimana lagi untuk membunuh rasa bosan. Entah butuh waktu yang berapa bilangan lagi untuk sebuah penungguan. Semua orang mulai letih dalam kegelisahan, menunduk pasrah atau mengumpat sekotor mungkin dalam stasiun yang penuh sesak manusia, barang dan binatang.
Tidak hanya kereta tujuanku yang terlambat, tujuan yang lainpun begitu. Ada apa ini? Ada apa dengan gerbong-gerbong harapan itu? Beberapa orang mulai meninggalkan stasiun, mencari alternatif angkutan lain. Apakah aku harus tetap menunggu? Tampaknya aku tak punya pilihan, selain menunggu dan menikmati penungguan ini.
Nenek dengan plastik-plastik penuh belanjaan di sampingku mulai beranjak pergi, begitu pula dengan lelaki berkacamata tebal itu. Pukul 16.20 dan terdengarlah pengumuman dari corong-corong itu, bahwa kereta akan segera bergiliran tiba. Ketika lokomotif kereta mulai tampak, aku bersiap bangkit. Tapi, perempuan serba hijau di sampingku itu belum beranjak. Rupanya ia tertidur. Aku menyentuh bahunya dan ia pun segera terbangun, menampik tanganku dengan refleks. Aku terkejut seketika.
Ia tampaknya menyadari bahwa aku tidak bermaksud lain kecuali hanya membangunkannya. “Maaf, terima kasih,” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, kemudian ia berlari menuju kereta dan bergabung dengan calon penumpang yang lain. Tubuhnya yang berbalut pakaian dan asesoris bernuansa hijau itu, tampak menyolok di antara penumpang lain. Sementara, aku masih terkejut, tidak mempercayai apa yang barui saja aku lihat dengan mata kepala sendiri. Evelyn.
Ia begitu mirip dengan Evelyn. Ketika ia mulai menghilang di tengah keramaian, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, mencoba mengalihkan pikiranku yang melulu Evelyn. Tapi tadi itu benar, aku tidak mungkin memungkiri penglihatanku sendiri, ia mirip sekali dengan Evelyn.
Corong pengumuman memberitahukan bahwa kereta tujuanku akan segera berangkat. Aku pun segera berlari mengejar kereta yang mulai beranjak pergi. Kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tidak untuk yang kedua kalinya.
***
Jakarta, 28 Oktober 2004

Tidak ada komentar:
Posting Komentar