19/12/07

Bulan Separuh


Nanda adalah anak tetanggaku. Tetanggaku yang bekerja sebagai tukang tambal ban. Ia seringkali merasa tidak pede dengan pekerjaan ayahnya. Berkali-kali aku melihat Nanda ribut dengan ayahnya. Entah itu karena minta dibelikan sepeda atau karena ingin minta tambah uang jajan sekolahnya.

Hmm, bisa sekolah saja sudah suatu keuntungan besar buat kamu, batinku suatu ketika.

Ayah Nanda yang paruh baya itu kondisi fisiknya makin lemah dari hari ke hari. Kemarin sore bahkan kulihat ia berpegangan pada pintu pagar ketika hendak berangkat menambal ban. Ia memegang gagang pagar itu cukup lama. Wajahnya tertunduk. Bahunya naik turun. Aku pun berusaha menghampirinya.

“Ada apa Pak Prawiro?”

“Ah, eh.. tidak apa-apa kok, Nak.”

“Bener, Pak?”

“Bener, Nak Friska. Cuma pusing sedikit saja, kok.”

Lantas, ia menegapkan badannya dan kembali melangkah. Ia tersenyum padaku, lalu menaiki sepeda tuanya. Aku masih memperhatikannya sampai tikungan pertama. Ia menghilang.

Sore itu, ketika aku baru saja pulang bermain dari rumah temanku. Aku melihat Nanda sedang marah-marah. Sampai keluar ke jalan. Siapa lagi yang dimarahi kalau bukan ayahnya. Walau ia cuma hidup berdua dengan ayahnya, tapi ia tak sedikitpun merasa sayang. Entah kenapa.

Para tetangga berusaha melerai. Namun Nanda berontak. Walaupun masih kelas lima SD, Nanda memang bertubuh gemuk. Tenaganya pun besar. Aku saja pernah melihatnya memukul ayahnya, hingga pipi sang ayah memar.

Pertengkaran sore itu berakhir dengan Nanda yang membanting pintu pagar bambu dan Pak Prawiro yang menangis tertunduk di mulut pintu rumah. Di dekat Pak Prawiro, ada raport Nanda. Raport dengan banyak angka merah. Rupanya, menurut tetangga, Pak Prawiro kecewa dengan hasil belajar anaknya. Tapi yang ada, mlah Nanda yang memarahi balik ayahnya karena kurang memperhatikan dan memberi uang jajan sedikit dan sebagainya... dan sebagainya.

Malam terang. Bulan hampir purnama. Aku duduk di loteng rumah sambil membayangkan bisa terbang ke bulan. Sayup-sayup aku mendengar seorang tetangga yang berteriak, “Pak Prawiro... Pak Prawiro!!”

Aku turun, aku melihat tetangga ramai. Pak Prawiro digotong masuk ke dalam rumah. Lelaki tua itu meninggal dunia. Entah dimana Nanda sekarang.


***

Jakarta, 3 Juli 2007

Tidak ada komentar: