13/12/07

Lembar Lembar Arti



“Rangga Aditya!”

Suara Pak Armantono, guru fisika, membangunkanku yang mulai berngantuk-ngantuk ria. Aku terpaksa kembali berkonsentrasi pada papan tulis dan mencoba kembali menyimak pelajaran guru yang terkenal killer itu.

Akibat hobi membacaku yang akhir-akhir ini sangat menyita banyak waktu istirahatku, membuatku sering kali tidur terlalu larut malam, bahkan menjelang subuh. Aku memang biasanya enggan menggantungkan bacaanku atau menaruhnya sejenak sebelum buku itu habis ku lahap. Semua keluargaku memang hobi membaca, baik dari keluarga ayah maupun ibu.

Dari kecil, aku sudah terbiasa membaca cerita-cerita Hans Christian Andersen dengan dongeng-dongengnya yang memukau, juga Sir Arthur Conan Doyle dengan seri Sherlock Holmes-nya yang rumit tapi menyenangkan. Di rumahku yang termasuk kecil, buku-buku menjadi satu-satunya penghias dan “barang berharga” yang dengan mudah ditemui. Ayahku lebih suka menghabiskan gajinya sebagai pustakawan untuk membeli buku daripada membeli guci mahal, kendaraan bermotor, alat pancing atau hewan peliharaan. Begitu juga dengan ibuku, sisa uang belanja dari ayah dan penghasilan dari warung masakan Padang-nya, lebih suka digunakan untuk membeli buku daripada membeli kalung, cincin, atau perhiasan lain.

Perhiasan-perhiasan tersebut menurutnya hanya akan menambah beban kita sebagai pemilik. Betapa tidak, sebuah kalung dua puluh gram yang mewah, akan membuat si pemilik merasa was-was dan selalu curiga pada setiap tamu yang datang ke rumahnya. “Hati kita tidak akan tenang, kan?” ucap Ibu memberi pengertian. “Coba kalau buku, siapapun boleh meminjamnya atau bahkan memintanya. Pikiran kita tetap tenang dan wawasan bertambah. Ilmu di dalamnya juga tidak akan habis jika dibaca oleh banyak orang,” tambah Ayah kemudian.

Tetapi, akhir-akhir ini buku-buku itu malah menyusahkanku. Betapa tidak, pelajaranku sering terbengkalai, gara-gara setumpuk buku seri filsafat yang baru dikirim oleh pamanku yang tinggal di luar negeri. Aku pun jadi kecanduan, terlebih lagi topik filsafat yang membutuhkan daya pikir dan analisis yang mendalam. Tinggal satu buku lagi yang aku belum baca dan aku berniat menghabiskannya malam ini. Meski belum begitu paham dengan pola pikir orang-orang macam Plato, Aristoteles, Freud, Jung, dan teman-teman sejenisnya itu, tapi setidaknya aku mengetahui ide dan gagasannya walau sedikit.

“Rangga, udah seminggu ini lo jadi agak aneh. Kenapa sih? Dinda yang lo taksir itu juga jadi kesel gara-gara lo cuekin mulu. Ada apa, sih, lo?” tegur Dedi, sahabat karibku, saat istirahat sekolah.

“Gue lagi serius belajar filsafat, nih,” jawabku seraya menunjukkan buku dengan gambar karikatur dan judul “Sartre”.

Diluar dugaanku, Dedi bukannya tertarik, malah menampar bukuku hingga jatuh ke tanah.

“Lo emang bener-bener gila! Baca buku sih boleh, tapi jangan jadi maniak gitu, dong. Sampe semua temen-temen lo dan semua waktu lo, elo sia-siain. Mikir, dong, nggak semua bisa dicapai dengan baca buku. Jadi konsumen terus!” ucap Dedi dengan keras kepadaku.

Aku yang kesal ketika melihat bukuku terhempas ke tanah, ditambah lagi dengan cara bicara Dedi yang kasar, membuatku naik pitam. Dengan berang, aku melayangkan tinjuku ke mukanya. Ia terkejut dan sedikit terdorong ke belakang. Tendangan kaki kananku menyusul kemudian, tepat mengenai ulu hatinya, hingga ia terjatuh berdebam. Aku membuatnya merasa kesakitan, seperti bukuku yang ia kasari tadi.

Beberapa teman menghampiri kami dan menahan gerak kami selanjutnya. Mereka tahu, Dedi hendak bangkit dan membalas seranganku. Aku pun juga berniat menghajarnya lagi. Teman-teman memisahkan dan melerai kami, beberapa ada yang menasehati dengan halus. Tapi aku tidak mau mendengarnya, Dedi pun pasti demikian. Aku tahu dari sorot matanya yang menghujam tajam ke dalam mataku. Dari sudut bibirnya, ku lihat darah yang mulai keluar, ia menyekanya sesaat dan juga membersihkan debu yang mengotori tubuhnya. Aku kasihan juga melihatnya, tapi dia yang telah memulai hal ini, pikirku.

Sesampainya dalam kelas, aku kembali membaca buku “Sartre”-ku. Tanpa kusadari, Dinda telah berdiri di hadapanku. Aku terkesiap ketika ia berdehem pelan.

“Kenapa tadi?” tanyanya padaku.

Antara terkejut dan tidak percaya, aku memandanginya. Dinda, gadis kelas sebelah yang aku taksir dan tampak dingin pada semua cowok-cowok di sekolah ini, berdiri dan berbicara di hadapanku. Ada apa ini?

Dengan gerakan-gerakan konyol dan salah tingkah, aku berusaha menyembunyikan bukuku dan berdiri sambil merapihkan seragamku.

“Nggak usah pake gugup gitu, dong. Jawab aja,” tukasnya singkat, penuh ketidakramahan. Tapi aku tetap suka.

Bagaimana tidak gugup, Non. Cewek yang selama ini aku taksir dan terkenal cuek pada semua cowok, sekarang menghampiriku, teriakku dalam hati.

“Hei, denger nggak, sih?”

“I-ya, saya. Eng... anu, tadi habis.. biasa...”

“Berantem, kan?” sergahnya.

Raut mukanya menampakkan ekspresi tidak suka terhadapku. Nyaliku sedikit agak ciut juga. Ternyata dia itu galak, ya? pikirku. Aku menunggu dan ngeri mendengar kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.

“Aku pikir kamu beda. Tapi ternyata kamu sama saja dengan mereka,” ucapnya sambil menatap tajam ke arahku.

Aku tidak mengerti yang ia katakan.

“Apa maksud ka...?”

“Aku benci cowok kasar! Aku tidak akan pernah suka dengan cowok yang hobi berantem!” katanya sambil berlalu.

Malam harinya, pikiranku bercampur aduk. Buku “Sartre” itu memang telah selesai kubaca, namun kurasakan pikiranku melayang. Bayangan-bayangan kejadian hari ini memenuhi pikiran dan pandanganku. Aku kesal melihat bukuku yang ditepis keras oleh Dedi. Aku coba mencerna dengan bijak ucapan-ucapannya. Aku juga menyesal telah berkelahi dengannya. Tapi yang paling membingungkan adalah kehadiran Dinda beserta kata-katanya yang menyisakan tanya di hatiku.

Sendiri, aku menyesal dengan ulahku di sekolah tadi. Aku sempat melihat derai air mata yang jatuh saat Dinda berpaling pergi dariku. Apa maksudnya semua ini?

Aku memandangi tumpukan buku yang memenuhi rak di kedua sisi dinding kamarku. Banyak buku yang telah aku baca, baik fiksi maupun realita, juga psikologi serta berbagai buku tentang kehidupan. Di antara sekian banyak buku yang telah ku baca tersebut, apakah menyisakan bekas padaku? Apakah buku-buku tersebut merubah sikapku serta perangai burukku? Apakah buku-buku tersebut telah total memberikan arti, walaupun hanya sedikit?

Tidak. Buku-buku itu hanya memberikanku kesenangan. Aku memang senang membaca buku. Semua buku aku baca dan mataku serasa gatal jika melihat buku baru. Rangkaian kata dan paragraf-paragraf yang lezat itu, membuatku selalu ingin melahapnya. Tapi aku tidak seperti kedua orang-tuaku. Sebagai anak tunggal, seyogyanya aku berhak mendapatkan kata “manja” dari mereka. Tetapi mereka tidak memperlakukanku seperti itu.

“Kalau ayah menuruti semua keinginanmu, kamu tidak akan pernah menjadi dewasa. Kamu tidak akan pernah merasakan betapa bahagianya ketika kamu memberi, bukannya merasa puas karena meminta. Umurmu sudah empat belas sekarang, kamu sudah bisa mulai berpikir,” kata ayah sambil tersenyum pada hari ulang-tahunku dua tahun lalu.

“Ayah dan ibu hanya mau kamu menjadi mandiri, tanpa tergantung pada sesuatu yang berifat sementara. Dari buku yang kamu baca, seharusnya kamu bisa memetik hikmah-nya. Kamu juga bisa mendapat banyak pengalaman berharga yang tidak akan tersentuh oleh pengalaman maupun pelajaran di sekolah yang sangat singkat tersebut. Sekarang kamu mengerti?” sambung ibu yang juga tersenyum.

Aku yang tidak begitu mengerti, hanya mengangguk untuk menyenangkan mereka. Tapi sekarang, aku baru mengerti maksud kata-kata kedua orangtuaku itu. Aku akan mengamalkan setiap kata yang tersirat dari buku-bukuku. Aku akan mencoba menjadi anak baik seperti yang mereka impikan.

“Maaf ya, Ded. Gue kemaren sempet kesel sama elo,” kataku sambil mengajak Dedi salaman keesokan harinya.

Dedi tersenyum, lantas memelukku. Aku yang tidak biasa di peluk, jelas gelagapan. Tanpa bermaksud menyinggungnya, aku melepaskan pelukannya.

“Tenang aja, gue bukan homo,” candanya seolah membaca pikiranku. Aku tersenyum.

“Gue juga minta maaf, udah bikin lo kesel. Eh, tadi pagi Dinda kasih gue ini. Dia bilang ini buat lo, kalo udah selesai baca dan paham isinya, lo diminta buat nelepon dia,” sambungnya sambil menyodorkan sebuah buku tentang pengalaman-pengalaman orang lain dalam cinta dan persahabatan.

“Wah, thanks berat nih.”

“Eh, jangan terima kasih ama gue. Tapi sama dia, tuh.”

Aku berpaling ke arah orang yang di tunjuk Dedi. Dinda! Dia berdiri di muka kelasnya. Setelah sadar aku melihatnya, ia berbalik dan kembali masuk kelas, tapi aku sempat melihat senyum kecilnya.

“Tuh, kan, dia senyum! Pertanda baik.” ujar Dedi penuh semangat.

Aku pun tersenyum dan memandangi cover indah buku tersebut. Sambil memegang erat buku pemberian Dinda, aku mengajak Dedi ke kantin.

“Dibayarin, nih? Ada angin apa?”

“Yah, itung-itung bayar kesalahanku kemarin.”

“Jangan gitu dong, kita kan udah baikan. Eh, ngomong-ngomong selama lo sekolah di sini, kalo nggak salah udah enam cewek yang lo taksir dan semua kandas. Tapi yang ini, kayaknya bakal jadian deh. Sifat kalian hampir cocok, hobi kalian kan juga sama...”

“Emang dia suka baca juga?” tanyaku semangat.

“Bukan, ngangon bebek! Ya, jelaslah. Dia juga terkenal baca buku-buku novel, tau. Liat aja rambutnya yang selalu dikuncir,” canda Dedi.

“Yee, emang ada hubungannya?” kami pun tertawa sambil menunggu bakso yang kemudian aku pesan.

***


Jakarta, 25 Juni 2004

Tidak ada komentar: