18/04/08
Kartunis
Awalnya sederhana, ia hanya mengejawentahkan apa yang ada di pikirannya mengenai sosok sebuah fenomena alam ke dalam sebuah gambar kartun. Memang agak terkesan mengejek. Bahkan hal itu bertentangan dengan kepercayaan yang telah ada. Ia menganggapnya itu sebuah kebebasan, namun khalayak umum memandangnya sebagai pelecehan. Pelecehan kepercayaan dan kebebasan itu sendiri. Kartunis itu lantas teringat bagaimana Galileo atau Socrates di akhir hidupnya. Sedikit gentar agaknya ia. Namun terlambat, karyanya dimuat di harian ibukota negeri itu. Sudah bisa ditebak, respon negatif muncul di mana-mana. Sekitar tujuh puluh persen penduduk dunia mengecamnya. Gerak kartunis itu kini tak lagi bebas. Ia bahkan membatasi ruang bagi istri dan anaknya untuk berhubungan dengan dunia luar. Apartemen mereka pun disegel, menyusul pembakaran poster dirinya dan bendera negerinya di berbagai belahan dunia. Kartunis itu lantas membawa keluarganya keluar kota, kemudian kembali pindah menuju area perbatasan. Istrinya sakit di tengah jalan, kondisi kedua anaknya pun tak kalah turunnya. Mereka kini menjadi bulan-bulanan di sepanjang jalan, diludahi dan dilempari tahi. Hanya gara-gara sebuah gambar kartun.
Pelarian mereka akhirnya terhenti di sebuah persimpangan negeri. Kabarnya, di desa kecil tersebut kebebasan sangat diagungkan. Kartunis itu mempercayai hal tersebut, terlebih ketika melihat beberapa anak muda berlarian telanjang menuju sebuah ayunan di bawah pohon besar, seorang paruh baya yang menempel simbol keagamaan secara terbalik di depan rumahnya, juga anak kecil yang memasukkan kemaluannya ke seorang pelacur. Maka, kartunis itu membangun rumah di sana, di atas sepetak tanah sewaan. Keluarganya pun berangsur-angsur membaik. Istrinya kini bahkan memberi semangat pada si kartunis untuk membuat gambar-gambar kontroversial. Walau awalnya takut karena masih trauma, tapi perlahan ia membuat gambar lagi. Kali ini, idenya lebih gila, ia menggambar tuhan dengan cara yang sangat ekstrim, berpelukan dengan pelacur. Gambar itu lantas dipajang di depan rumahnya. Ia tidak puas. Kartunis itu ingin agar karyanya dipublikasikan ke seluruh dunia. Beberapa orang di desa itupun mendukungnya.
Sampailah karya itu di media internet. Kini, tidak hanya ia dan keluarganya yang terancam, tapi bahkan seluruh penghuni desa. Beberapa orang yang panas dengan gambar tersebut memburu sang kartunis, begitu juga dengan kelompok yang dulu sempat ingin menghabisinya. Kekuatan lawan sang kartunis meningkat pesat. Maka ia kembali diburu. Seisi desa melarikan diri begitu mendengar hal tersebut. Akhirnya, semuanya berakhir ketika rumah sang kartunis terbakar dalam hujan. Jeritan dan raungan kesakitan terdengar dari dalam rumah tersebut. Bukan, bukan siapa-siapa yang membakar rumah itu, bahkan kejadian itu begitu cepat sebelum para pemburu tiba.
***
Jakarta, 18 April 2008
13/12/07
Lembar Lembar Arti

“Rangga Aditya!”
Suara Pak Armantono, guru fisika, membangunkanku yang mulai berngantuk-ngantuk ria. Aku terpaksa kembali berkonsentrasi pada papan tulis dan mencoba kembali menyimak pelajaran guru yang terkenal killer itu.
Akibat hobi membacaku yang akhir-akhir ini sangat menyita banyak waktu istirahatku, membuatku sering kali tidur terlalu larut malam, bahkan menjelang subuh. Aku memang biasanya enggan menggantungkan bacaanku atau menaruhnya sejenak sebelum buku itu habis ku lahap. Semua keluargaku memang hobi membaca, baik dari keluarga ayah maupun ibu.
Dari kecil, aku sudah terbiasa membaca cerita-cerita Hans Christian Andersen dengan dongeng-dongengnya yang memukau, juga Sir Arthur Conan Doyle dengan seri Sherlock Holmes-nya yang rumit tapi menyenangkan. Di rumahku yang termasuk kecil, buku-buku menjadi satu-satunya penghias dan “barang berharga” yang dengan mudah ditemui. Ayahku lebih suka menghabiskan gajinya sebagai pustakawan untuk membeli buku daripada membeli guci mahal, kendaraan bermotor, alat pancing atau hewan peliharaan. Begitu juga dengan ibuku, sisa uang belanja dari ayah dan penghasilan dari warung masakan Padang-nya, lebih suka digunakan untuk membeli buku daripada membeli kalung, cincin, atau perhiasan lain.
Perhiasan-perhiasan tersebut menurutnya hanya akan menambah beban kita sebagai pemilik. Betapa tidak, sebuah kalung dua puluh gram yang mewah, akan membuat si pemilik merasa was-was dan selalu curiga pada setiap tamu yang datang ke rumahnya. “Hati kita tidak akan tenang, kan?” ucap Ibu memberi pengertian. “Coba kalau buku, siapapun boleh meminjamnya atau bahkan memintanya. Pikiran kita tetap tenang dan wawasan bertambah. Ilmu di dalamnya juga tidak akan habis jika dibaca oleh banyak orang,” tambah Ayah kemudian.
Tetapi, akhir-akhir ini buku-buku itu malah menyusahkanku. Betapa tidak, pelajaranku sering terbengkalai, gara-gara setumpuk buku seri filsafat yang baru dikirim oleh pamanku yang tinggal di luar negeri. Aku pun jadi kecanduan, terlebih lagi topik filsafat yang membutuhkan daya pikir dan analisis yang mendalam. Tinggal satu buku lagi yang aku belum baca dan aku berniat menghabiskannya malam ini. Meski belum begitu paham dengan pola pikir orang-orang macam Plato, Aristoteles, Freud, Jung, dan teman-teman sejenisnya itu, tapi setidaknya aku mengetahui ide dan gagasannya walau sedikit.
“Rangga, udah seminggu ini lo jadi agak aneh. Kenapa sih? Dinda yang lo taksir itu juga jadi kesel gara-gara lo cuekin mulu. Ada apa, sih, lo?” tegur Dedi, sahabat karibku, saat istirahat sekolah.
“Gue lagi serius belajar filsafat, nih,” jawabku seraya menunjukkan buku dengan gambar karikatur dan judul “Sartre”.
Diluar dugaanku, Dedi bukannya tertarik, malah menampar bukuku hingga jatuh ke tanah.
“Lo emang bener-bener gila! Baca buku sih boleh, tapi jangan jadi maniak gitu, dong. Sampe semua temen-temen lo dan semua waktu lo, elo sia-siain. Mikir, dong, nggak semua bisa dicapai dengan baca buku. Jadi konsumen terus!” ucap Dedi dengan keras kepadaku.
Aku yang kesal ketika melihat bukuku terhempas ke tanah, ditambah lagi dengan cara bicara Dedi yang kasar, membuatku naik pitam. Dengan berang, aku melayangkan tinjuku ke mukanya. Ia terkejut dan sedikit terdorong ke belakang. Tendangan kaki kananku menyusul kemudian, tepat mengenai ulu hatinya, hingga ia terjatuh berdebam. Aku membuatnya merasa kesakitan, seperti bukuku yang ia kasari tadi.
Beberapa teman menghampiri kami dan menahan gerak kami selanjutnya. Mereka tahu, Dedi hendak bangkit dan membalas seranganku. Aku pun juga berniat menghajarnya lagi. Teman-teman memisahkan dan melerai kami, beberapa ada yang menasehati dengan halus. Tapi aku tidak mau mendengarnya, Dedi pun pasti demikian. Aku tahu dari sorot matanya yang menghujam tajam ke dalam mataku. Dari sudut bibirnya, ku lihat darah yang mulai keluar, ia menyekanya sesaat dan juga membersihkan debu yang mengotori tubuhnya. Aku kasihan juga melihatnya, tapi dia yang telah memulai hal ini, pikirku.
Sesampainya dalam kelas, aku kembali membaca buku “Sartre”-ku. Tanpa kusadari, Dinda telah berdiri di hadapanku. Aku terkesiap ketika ia berdehem pelan.
“Kenapa tadi?” tanyanya padaku.
Antara terkejut dan tidak percaya, aku memandanginya. Dinda, gadis kelas sebelah yang aku taksir dan tampak dingin pada semua cowok-cowok di sekolah ini, berdiri dan berbicara di hadapanku. Ada apa ini?
Dengan gerakan-gerakan konyol dan salah tingkah, aku berusaha menyembunyikan bukuku dan berdiri sambil merapihkan seragamku.
“Nggak usah pake gugup gitu, dong. Jawab aja,” tukasnya singkat, penuh ketidakramahan. Tapi aku tetap suka.
Bagaimana tidak gugup, Non. Cewek yang selama ini aku taksir dan terkenal cuek pada semua cowok, sekarang menghampiriku, teriakku dalam hati.
“Hei, denger nggak, sih?”
“I-ya, saya. Eng... anu, tadi habis.. biasa...”
“Berantem, kan?” sergahnya.
Raut mukanya menampakkan ekspresi tidak suka terhadapku. Nyaliku sedikit agak ciut juga. Ternyata dia itu galak, ya? pikirku. Aku menunggu dan ngeri mendengar kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.
“Aku pikir kamu beda. Tapi ternyata kamu sama saja dengan mereka,” ucapnya sambil menatap tajam ke arahku.
Aku tidak mengerti yang ia katakan.
“Apa maksud ka...?”
“Aku benci cowok kasar! Aku tidak akan pernah suka dengan cowok yang hobi berantem!” katanya sambil berlalu.
Malam harinya, pikiranku bercampur aduk. Buku “Sartre” itu memang telah selesai kubaca, namun kurasakan pikiranku melayang. Bayangan-bayangan kejadian hari ini memenuhi pikiran dan pandanganku. Aku kesal melihat bukuku yang ditepis keras oleh Dedi. Aku coba mencerna dengan bijak ucapan-ucapannya. Aku juga menyesal telah berkelahi dengannya. Tapi yang paling membingungkan adalah kehadiran Dinda beserta kata-katanya yang menyisakan tanya di hatiku.
Sendiri, aku menyesal dengan ulahku di sekolah tadi. Aku sempat melihat derai air mata yang jatuh saat Dinda berpaling pergi dariku. Apa maksudnya semua ini?
Aku memandangi tumpukan buku yang memenuhi rak di kedua sisi dinding kamarku. Banyak buku yang telah aku baca, baik fiksi maupun realita, juga psikologi serta berbagai buku tentang kehidupan. Di antara sekian banyak buku yang telah ku baca tersebut, apakah menyisakan bekas padaku? Apakah buku-buku tersebut merubah sikapku serta perangai burukku? Apakah buku-buku tersebut telah total memberikan arti, walaupun hanya sedikit?
Tidak. Buku-buku itu hanya memberikanku kesenangan. Aku memang senang membaca buku. Semua buku aku baca dan mataku serasa gatal jika melihat buku baru. Rangkaian kata dan paragraf-paragraf yang lezat itu, membuatku selalu ingin melahapnya. Tapi aku tidak seperti kedua orang-tuaku. Sebagai anak tunggal, seyogyanya aku berhak mendapatkan kata “manja” dari mereka. Tetapi mereka tidak memperlakukanku seperti itu.
“Kalau ayah menuruti semua keinginanmu, kamu tidak akan pernah menjadi dewasa. Kamu tidak akan pernah merasakan betapa bahagianya ketika kamu memberi, bukannya merasa puas karena meminta. Umurmu sudah empat belas sekarang, kamu sudah bisa mulai berpikir,” kata ayah sambil tersenyum pada hari ulang-tahunku dua tahun lalu.
“Ayah dan ibu hanya mau kamu menjadi mandiri, tanpa tergantung pada sesuatu yang berifat sementara. Dari buku yang kamu baca, seharusnya kamu bisa memetik hikmah-nya. Kamu juga bisa mendapat banyak pengalaman berharga yang tidak akan tersentuh oleh pengalaman maupun pelajaran di sekolah yang sangat singkat tersebut. Sekarang kamu mengerti?” sambung ibu yang juga tersenyum.
Aku yang tidak begitu mengerti, hanya mengangguk untuk menyenangkan mereka. Tapi sekarang, aku baru mengerti maksud kata-kata kedua orangtuaku itu. Aku akan mengamalkan setiap kata yang tersirat dari buku-bukuku. Aku akan mencoba menjadi anak baik seperti yang mereka impikan.
“Maaf ya, Ded. Gue kemaren sempet kesel sama elo,” kataku sambil mengajak Dedi salaman keesokan harinya.
Dedi tersenyum, lantas memelukku. Aku yang tidak biasa di peluk, jelas gelagapan. Tanpa bermaksud menyinggungnya, aku melepaskan pelukannya.
“Tenang aja, gue bukan homo,” candanya seolah membaca pikiranku. Aku tersenyum.
“Gue juga minta maaf, udah bikin lo kesel. Eh, tadi pagi Dinda kasih gue ini. Dia bilang ini buat lo, kalo udah selesai baca dan paham isinya, lo diminta buat nelepon dia,” sambungnya sambil menyodorkan sebuah buku tentang pengalaman-pengalaman orang lain dalam cinta dan persahabatan.
“Wah, thanks berat nih.”
“Eh, jangan terima kasih ama gue. Tapi sama dia, tuh.”
Aku berpaling ke arah orang yang di tunjuk Dedi. Dinda! Dia berdiri di muka kelasnya. Setelah sadar aku melihatnya, ia berbalik dan kembali masuk kelas, tapi aku sempat melihat senyum kecilnya.
“Tuh, kan, dia senyum! Pertanda baik.” ujar Dedi penuh semangat.
Aku pun tersenyum dan memandangi cover indah buku tersebut. Sambil memegang erat buku pemberian Dinda, aku mengajak Dedi ke kantin.
“Dibayarin, nih? Ada angin apa?”
“Yah, itung-itung bayar kesalahanku kemarin.”
“Jangan gitu dong, kita kan udah baikan. Eh, ngomong-ngomong selama lo sekolah di sini, kalo nggak salah udah enam cewek yang lo taksir dan semua kandas. Tapi yang ini, kayaknya bakal jadian deh. Sifat kalian hampir cocok, hobi kalian kan juga sama...”
“Emang dia suka baca juga?” tanyaku semangat.
“Bukan, ngangon bebek! Ya, jelaslah. Dia juga terkenal baca buku-buku novel, tau. Liat aja rambutnya yang selalu dikuncir,” canda Dedi.
“Yee, emang ada hubungannya?” kami pun tertawa sambil menunggu bakso yang kemudian aku pesan.
Jakarta, 25 Juni 2004
07/12/07
"Ini (Bukan) Yang Terakhir!"

-©-
I drove for miles and miles and wound up at your door
I've had you so many times but somehow I wantmore
[She Will be Loved – Maroon 5]
“Ini bukan yang terakhir!” ujar cowok itu setengah berseru.
Brakk!! Aku menutup pintu taksi yang baru kunaiki dengan kencang dan seolah tidak mempedulikan apa yang baru saja ia katakan. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Bahkan mungkin terlalu kalut untuk memikirkan apa yang terjadi saat ini.
“Ke Pondok Labu, Pak,” pintaku sambil menghela nafas. Supir taksi itu mulai memutar setir dengan perlahan, memasuki jalan yang basah.
Tak terasa, pipiku pun telah basah. Air mataku terasa pahit memasuki rongga nafasku. Aku masih terus terisak, sambil menempelkan tissue ke wajahku.
“Kenapa, Mbak?” suara supir taksi membuatku semakin sedih untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki paruh baya di depanku, sesekali menetapku dan kendaraan di belakang secara bergantian, melalui kaca spion di atasnya.
“Nggak, nggak kenapa-napa,” jawabku singkat, sambil mengangkat tissue dari wajahku dan sengaja untuk tidak memancing keingin-tahuan lebih lanjut pak supir.
Aku mengalihkan pandanganku keluar. Butir-butir hujan menerpa kaca jendela dan membuat garis-garis alur jalan airnya. Ingatanku kembali menghitung mundur waktu dua bulan yang lalu.
Pulang kuliah itu, aku lelah sekali. Jam di kamarku sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan aku bersiap untuk melompat ke tempat tidur, ketika handphone ku berdering keras. Aku melihat layarnya dan tidak ada nama, hanya deretan nomor panjang. Aku memperhatikannya sesaat untuk memastikan bahwa aku memang tidak mengenal nomor itu.
“Halo...?” bukaku dengan ragu-ragu. Kemudian terdengar nada yang diputuskan. Tak lama kemudian, berdering lagi. Masih dengan nomor yang sama dan aku pun kembali mengangkatnya dengan penasaran.
“Halo juga,” jawabnya singkat, setelah itu kembali mati. Seorang cowok.
“Siapa nih?” tanyaku ragu ketika handphone yang berada di tanganku ku kembali berdering dan mati, terus bergantian.
“Rinda, ya?”
“Ini siapa?”
“Bukan siapa-siapa.”
“Tau nomor gue dari mana?”
“Dia nggak mau disebut.”
Bla-bla-bla, sampai kupingku terasa panas dan tanganku terasa lelah untuk mengangkat. Tapi, aku menanggapinya.
Begitulah. Awal perkenalan yang aneh.
Keesokan harinya, dia menelpon lagi, masih dengan cara yang sama. Dasar cowok nggak mau modal, pikirku. Namanya Rico, ketika akhirnya ia memberitahu namanya. Dan dia terus menelpon seperti itu dengan cara itu, setiap hari.
Selama dua bulan itu, aku merasakan sesuatu yang unik tentang Rico. Dia banyak bercerita tentang dirinya, begitupun sebaliknya. Ternyata Rico itu orangnya asik, unik dan agak nyentrik, karena kesukaannya pada pernak-pernik asesoris etnik (??)
Aku merasa kami telah begitu dekat, mungkin terlalu dekat, walaupun kami belum pernah bertemu muka selama ini. Setiap SMS-nya, aku catat dalam buku harianku, sampai berpuluh-puluh halaman. Gila memang kedengarannya. Aku tak tahu kenapa selalu menuliskan setiap SMS darinya, mungkin karena isinya yang selalu melambungkan imaji dan menerbangkan khayalku.
“Jangan terlalu banyak berharap, Rin,” tukas Dini ketika aku menceritakan tentang Rico padanya.
“Tapi dia itu beda, Din. Cuma dia yang paling care ama gue, cuma dia yang bikin gue merasa istimewa,” bantahku ketika membela perasaan di hatiku.
“Lo nggak lagi jatuh cinta, kan?” selidiknya padaku.
“Itu masalahnya. Kayaknya aku bener-bener jatuh cinta, deh. Soalnya...”
“Rinda, lo tuh belom tau dia aslinya kayak apa. Mukanya aja belom pernah lo liat...”
“Gue gak peduli! Gue bakal tetap sayang sama dia, tanpa gue permasalahin tampangnya. Gue terima dia apa adanya, kok.”
“Ya udah, terserah lo. Toh hanya elo yang ngerasain,” ucapnya mengakhiri percakapan. Selanjutnya, ia langsung berdiri dan berjalan ke kantin.
Itulah. Aku selalu ribut dengan Dini, sahabatku satu kampus, ketika aku bicara tentang Rico.
* * *
Dua hari yang lalu, Rico menelpon dan mengatakan ingin agar kita ketemu. Ia berkata bahwa ia ingin tahu seperti apa wujud orang yang selalu diteleponnya, yang dekat di hatinya. Aku tidak bisa menuliskan perasaanku saat itu, antara bahagia dan bingung. Aku takut mengecewakannya. Aku mengatakan bahwa aku tidak seperti yang ia bayangkan selama ini, aku tidak secantik cewek-cewek lain. Tapi dia mengatakan kalau itu bukan masalah dan dia berjanji akan menerimaku apa adanya.
Setelah menerima telepon itu, aku tersenyum pada Tuhan, karena akhirnya aku diberi seseorang yang bisa menyayangiku. Akhirnya aku bisa memecah dan menghancurkan rasa iri yang timbul setiap saat aku berada satu mobil dengan Dini dan cowoknya, yang selalu bermesraan di depanku. Huh, menyebalkan. Sekarang aku pun bisa, batinku.
Aku melompat-lompat riang dan memeluk setiap orang yang kutemui di rumahku ketika aku keluar kamar. Bi Yani yang sedang mencuci piring, sempat latah untuk hendak menelan busa pencuci ketika aku memeluknya dari belakang. Ayah dan adikku sempat menghindar, namun mereka tahu bahwa mereka tidak dapat pergi jauh dariku, dan akhirnya pasrah menerima. Hmm, kebiasaan burukku kalau aku sedang senang berlebihan.
Aku kembali ke kamar dan tertawa-tawa sendiri. Aku memandangi cermin di sisi tempat tidurku. Tiba-tiba aku terdiam, lama sekali. Aku memandangi tubuhku yang memang agak overweight, bekas-bekas jerawat di pipiku meninggalkan lubang-lubang kecil yang membuatku tampak bodoh, bibirku bahkan terlalu tebal untuk seorang cewek, juga rambutku yang habis di rebonding, bukannya bagus, malah membuatku semakin mirip badut.
Aku benci diriku! Kenapa aku diciptakan dengan fisik seperti ini?! Tuhan terlalu kejam padaku, Ia bahkan sama sekali tidak mempedulikanku. Tapi, sepertinya kali ini beda. Sebentar lagi aku akan bersama Rico, memilikinya. Huh, kenapa ya, aku selalu menganggap dia pacarku? Aku kembali teringat setiap SMS-nya yang selalu bernada mesra, yang memang membuatku berkeyakinan kalau ia benar-benar cinta padaku. Wow, cinta! Aku tersenyum sendiri, tapi perlahan hilang. Berbagai pertanyaan singgah di kepalaku. Apakah ia akan menerimaku? Apakah ia akan menjadi milikku? Apakah ia benar-benar menulis setiap SMS-nya dari hati? Ataukah ia akan meninggalkanku ketika melihatku yang sesungguhnya?
Ah, gila. Aku terlalu terobsesi padanya. Tangan kananku secara reflek menepuk pipiku beberapa kali, mencoba menyadarkan aku untuk menerima segala kenyataan yang terjadi, seburuk apapun. Aku harus tegar, janjiku. Aku menghempaskan tubuhku ke belakang, menatap langit-langit kamarku yang dipenuhi poster Bill Clinton, presiden terganteng yang membuatku megap-megap setiap saat melihat beritanya di TV.
“Rinda mau kemana?” tanya Dini padaku ketika jam kuliah baru saja usai. Ia melihatku bergegas menuju keluar ruangan.
“Mau ketemu pacar gue,” jawabku begitu antusias. Aku terlalu gembira sore ini. Aku lalu berlari menuju ke luar kampus. Sempat terlihat oleh ekor mataku, Dini yang menggelengkan kepalanya memperhatikanku.
Aku dan Rico janjian di Blok M Plaza jam lima sore. Aku turun dari bus kota dan setengah berlari menuju Plaza, karena jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima kurang lima menit. Aku menuju ke tempat yang kami janjikan. Ku ambil saputangan dari tasku dan menggunakannya untuk menyeka keringat di leher dan keningku. Kepala dan mataku kompak melihat kesana-kemari, kiri dan kanan, atas dan bawah. Dia belum datang?
Aku menghubunginya melalui handphone-ku. Lama sekali, ia tidak mengangkatnya. Aku mencoba menghubunginya lagi, tapi tetap tidak diangkat, kecuali suara mailbox.
Dua jam aku menunggunya. Selama itu pula aku memperhatikan setiap orang yang lewat atau yang naik tangga-tangga eskalator. Mataku masih mencari sosok cowok gondrong, setidaknya itu katanya tentang rambutnya. Beberapa pasangan yang lewat di hadapanku, membuatku ingin menangis. Iri? Mungkin. Tiba-tiba, aku merasakan handphone-ku bergetar. Rico!.
“Rinda ada dimana?” tanyanya dengan suara terengah-engah. Lalu mematikan handphone-nya. Tuh anak, masih aja pelit pulsa.
“Di depan lift lantai lima?” jawabku ketika ia kembali menelpon, lalu kembali mati.
Perasaanku semakin tidak karuan. Aku memandang diriku sekali lagi pada sisi lift yang memang dapat memantulkan bayangan. Aku berkaca. Aku memastikan bahwa tidak ada yang salah yang lain dari diriku, selain yang memang sudah “salah”.
“Rinda, sori tadi telat,” sebuah suara mengagetkan ku dari belakang, suara yang tidak asing bagiku.
Aku membalikkan tubuhku dan melihat sosoknya, berbalut kemeja putih yang tak dikancing, t-shirt hitam dan celana jeans.
“Kenapa? Ini bener Rinda, kan?”
Aku terhentak. Baru kusadari bahwa aku melongo dari tadi.
“Eh, iya. Kenapa telat?” kataku perlahan.
“Sori, tadi macet banget. Aku juga nggak bisa ngangkat handphone, karena bisnya penuh, gak bisa gerak, kayak sarden,” ucapnya sambil tersenyum.
Oh Tuhan, terima kasih. Rico bukan hanya sekedar cowok romantis, tetapi dia jauh lebih keren dari bayanganku selama ini. Rambutnya memang gondrong sebahu, tetapi rapi, senyumnya lebih menawan dibandingkan Bill Clinton-ku dan gaya bicaranya masih tetap sama ketika di telepon, cuek tapi jujur. Tiba-tiba aku merasa bahwa aku cukup cantik, sehingga berani bertemu dengannya.
Dia mengajakku ke food court, kami terus berbicara dengan tergagap, karena memang seperti itulah setiap pertemuan pertama. Tak terasa sudah hampir dua jam lebih aku berhadapan dengan Rico di meja makan. Kami banyak mengobrol, sementara makanan di depan kami telah habis dari tadi. Ia berkali-kali melemparkan kata-kata dan humor padaku. Walaupun agak jayus, tapi aku selalu tertawa karenanya. Ku lihat di matanya, tidak ada rasa kecewa karena penampilan fisikku, ia seperti berhadapan dengan seorang perempuan cantik yang sesuai dengan bayangannya.
“Rico, kamu sebetulnya suka sama aku nggak, sih?” ucapku akhirnya. Kulihat sedikit raut wajahnya yang berubah.
Ia terdiam lama memperhatikanku. Lalu ia menghela nafas.
“Kenapa kamu berpikir aku suka sama kamu?” suaranya membuatku seperti terlempar jatuh ke jurang.
“SMS kamu itu?”
“Kenapa? Tapi itu bukan berarti aku suka sama kamu, terus jadi pacar kamu,” aku kembali merinding mendengarnya.
“Aku memang sayang sama kamu, karena kamu udah banyak buat perubahan banyak dalam diriku. Cuma sama kamu aku bisa jujur dalam segala hal, bahkan kita terlalu banyak mengenal pribadi satu sama lain. Aku nggak mau kita pacaran. Sempit sekali pikiran kamu kalau berharap kita bisa pacaran. Aku berharap, kita bisa tetap sahabatan selamanya, karena aku memang sayang kamu...sebagai sahabat dan kakak yang selalu jadi pengingat satu sama lain,” ucap Rico panjang lebar.
Aku tidak tahu perasaanku. Mungkin aku memang terlalu memikirkan yang tidak-tidak. Aku terlalu berharap dia menjadi pacarku.
“Aku pikir semua yang kamu tulis itu…,” aku tidak dapat meneruskan kata-kataku. Lidahku terlalu kelu untuk bicara.
“Aku udah bilang tadi dan udah jelasin semuanya. Pernah denger tentang sebuah mitos gak? Bahwa pacaran itu timbul karena emosi sesaat dan mudah dihancurkan oleh emosi sesaat pula. Udah jam setengah sepuluh nih. Rinda nggak mau pulang? Nanti kemalaman lho.”
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Memang tidak seburuk dugaanku. Yah, setidaknya Rico tidak meninggalkanku diam-diam saat pertama melihatku. Tetapi hal ini sungguh diluar dugaanku.
Kami keluar dari tempat makan dan berjalan perlahan menuju pintu keluar.
“Rinda pulang lewat mana?” tanyanya sambil tersenyum. Ya ampun, seandainya ia tidak tersenyum seperti itu.
Aku hanya menjawabnya dengan isyarat lirikan mataku ke arah kanan jalan. Ketika aku hendak berjalan meninggalkannya, Rico mengikuti di belakangku.
“Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja,” jelasnya ketika aku menoleh ke arahnya, seolah ia bisa mengetahui isi hatiku yang remuk redam.
Jadilah aku dan Rico berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi para pedagang kaki lima. Angin dingin dan udara lembab menerpaku. Kulihat ke arah langit, rembulan yang perlahan mulai tertutup awan hitam. Sesekali aku melirik ke arah Rico. Kasihan sekali cowok ini, pikirku. Seharusnya dia tidak bertemu dengan orang sepertiku. Seharusnya ia bertemu setidaknya yang jauh lebih baik daripada aku. Sedikit banyak, ia pasti menyesal telah mengetahui tampang asliku. Tapi ia pandai sekali menyembunyikannya, ia selalu berusaha tersenyum, walau aku tahu bibirnya tidak ingin seperti itu.
“Tuh kan, bisnya udah pada nggak ada. Tadi kenapa kita nggak ke terminalnya aja? Yuk, mendingan kita balik ke terminal. Siapa tau masih ada bisnya,” ujarnya.
Aku sekali lagi, tidak dapat berkata apa-apa. Aku mengikuti langkah-langkah kakinya, kini giliran aku yang mengekor. “Rico cowok baik, ya.” Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutku. Ia lagi-lagi tersenyum.
Sesampainya di terminal, ternyata bus yang hendak aku tumpangi memang sudah tidak ada. Rintik-rintik hujan mulai turun. Kulihat beberapa orang berlari dan mencari tempat teduh.
“Udah, kamu pulang aja duluan. Aku bisa naik taksi, kok,” harapku pada Rico. Rico menggeleng.
“Aku kan cowok, cuek aja. Kalo Rinda kan cewek, tar kalo ada apa-apa gimana?”
“Kayaknya aku nggak pulang deh, malam ini.”
“Cck, jangan ngomong macam-macam deh.”
“Nggak apa-apa. Kamu pulang duluan aja. Aku jadi nangis kalo liat kamu,” kataku sambil menghapus air mataku yang mulai meleleh dengan sapu tangan.
“Emangnya tampangku memelas, ya?” ucapnya sambil mengerutkan kening, lalu kembali tersenyum. Tapi aku yakin ia melihat air mataku.
Aku bukan menangisi sikapnya yang menolak untuk jadi cowokku tadi, tapi aku hanya menangisi diri sendiri. Aku mengasihani diriku sendiri, atas fisikku yang minus dan atas pikiran-pikiranku yang selama ini jauh di atas kenyataan sekarang. Benar kata dia, sempit.
Tadi aku begitu senang untuk menantinya, sekarang aku malah menangis di hadapannya. Bagus.
“Aku yang salah, Rico. Tadinya aku pikir kamu adalah harapanku, mimpiku, bahkan mungkin jodohku. Tapi aku sadar, aku ngaca, siapa aku. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya kita ketemu, aku nggak sanggup hadapin semua ini.”
Air mataku semakin mengalir deras, sederas hujan. Aku tahu Rico hendak angkat bicara, tetapi aku buru-buru menyambungnya.
“Kamu pulang, ya. Rumah kamu kan lebih jauh daripada aku. Hujan nih, nanti kamu sakit, lho,” ujarku pura-pura tabah.
Tampak sedikit rasa kecewa dan kasihan di wajah Rico. Ia terdiam dan menatapku. Aku kikuk. Ia hendak angkat bicara lagi. tapi aku melihat sebuah taksi yang kosong menuju ke arah kami.
“Udah, ya. Terima kasih, kamu udah mengisi hari-hariku terakhir ini. Aku sayang kamu, tolong jangan sakitin cewek lain kayak aku. Please... Ini yang terakhir kita ketemu. Bye!”
Rico berusaha mencegahku, tapi aku keburu masuk ke dalam taksi. “Ini bukan yang terakhir!” serunya kecewa dengan sikapku.
Aku menangis deras, sederas hujan. Rico nggak salah, aku yang terlalu pe-de. Aku sayang Rico, tapi aku juga sekaligus benci dia.
Sebuah persimpangan jalan. Taksi yang kini ku tumpangi melaju cepat, sesaat kulihat sebuah truk pengangkut sapi yang juga berlari cepat... tepat ke arahku.
Ya, ini yang terakhir….
***
Jakarta, 1 Desember 2003
Evelyn

-©-
Mungkin engkau tidak mendengar deru musik tambur itu
atau bagaimana dedaunan yang menepuk waktu.
(Jalaluddin Rumi)
Pukul 15.35 dan kereta yang kutunggu belum juga tiba. Berpuluh kali lipat orang yang menunggu sepanjang peron, mengharapkan hal yang sama denganku. Bersama seorang nenek dengan lima kantong plastik besar barang belanjaannya, seorang lelaki berkacamata tebal dengan koran yang diselipkan di ketiaknya ¾sementara matanya terus memandangi arah datang kereta, serta seorang perempuan dengan tank top, celana kargo dan rambut warna hijau, aku duduk di bangku besi yang telah berusia puluhan tahun. Stasiun Jakarta Kota memang telah makan asam garam kehidupan negeri ini, sejak pemerintahan Belanda, Jepang, hingga Indonesia. Namun, kekokohannya masih terlihat nyata, rangka-rangka bajanya seolah mengisyaratkan ia akan mampu bertahan lebih dari seribu tahun lagi, begitu monumentalnya.
Tiba-tiba, di tengah penantianku yang mulai melelahkan, seseorang menginjak kakiku. Ahh! Kemana matanya? Keterkejutanku mengalahkan segalanya, padahal mungkin aku tidak merasakan sakit karena diinjak. Tetapi aku terlanjur menggeram dan segera ku pelototi si penginjak. Seorang gadis berseragam putih abu-abu tertunduk dengan muka menyesal, sementara mulutnya mengucapkan maaf berkali-kali. Di sampingnya, seorang pemuda yang juga berseragam putih abu-abu turut mengutarakan permohonan maafnya padaku atas kesalahan gadis itu.
“Sudahlah, pergi sana,” ucapku kesal.
“Sekali lagi maaf ya, Bang.”
“Iya, sudah sana!”
Mereka pun meninggalkanku dengan rasa bersalah, kupikir. Aku memperhatikan kepergian mereka, yang berpegangan tangan erat! Mereka kembali menoleh ke arahku dengan bersamaan, tampaknya mereka takut aku berbuat macam-macam. Segera saja ku alihkan pandanganku. Ketika aku mencuri pandang ke arah mereka lagi, mereka telah kembali berjalan, masih berpegangan tangan.
Manis sekali. Kupikir ini adalah momen terindah mereka. Aku jadi teringat Evelyn. Ah, kemana gadis itu sekarang. Aku ingat ketika pertama kali memberikannya setangkai bunga mawar jingga, yang kemudian itu menjadi kesukaannya. Entah sekarang. Aku memberikannya seraya memintanya untuk menjadi kekasihku dan ia menerimanya, kala itu kami sama-sama kelas dua SMA. Untuk orang yang baru kali pertama merasakan cinta, itu membutuhkan keberanian yang besar. Picisan mungkin, tapi itulah.
Aku dan Evelyn suka kereta, kami sering memanfaatkan waktu liburan kami dengan kereta, bahkan tanpa tujuan yang jelas sekalipun. Ia begitu cantik, --bukan keretanya, tapi Evelyn¾ terlebih saat peluh membasahi dahinya ketika kami berdesakan di dalam gerbong yang penuh sesak. Dan ia memelukku erat. Lima tahun hanya terasa seperti sebuah kerlingan singkat bagiku. Semua berlalu begitu cepat, tanpa akhir.
Sebuah pertengkaran hebat terjadi, dua tahun yang lalu. Penyebabnya hanyalah masalah sepele, aku melupakan ulang-tahunnya yang jatuh pada hari itu. Entah kenapa, ia menjadi berang sekali, padahal aku sudah meminta maaf.
“Aku bingung sama kamu, kenapa bisa lupa ulang-tahunku? Sebelumnya tidak pernah. Ada apa dengan kamu sebenarnya?”
“Kamu yang ada apa? Kenapa hanya masalah sepele seperti ini lantas kamu jadi marah-marah?”
“Sepele kata kamu?! Kamu selalu menyepelekan hal-hal besar sekalipun. Kamu nggak pernah berpikir untuk coba melihat dari sisi lain, dari sisiku.”
“Terserah kamu, aku sudah minta maaf tadi.”
“Terserah kamu juga, aku mau pulang.”
“Silahkan, emang tau jalan pulang?”
“Aku benci kamu!”
Maka ia pun meninggalkan aku yang sendirian di bangku ini, menunggu kereta tujuan Bogor yang beberapa saat lagi tiba. Ia benar-benar pergi, meninggalkanku. Apa yang ada di pikiran gadis itu? Mengapa ia bisa menjadi begitu marah, toh aku sudah minta maaf.
Aku sempat melihat derai air matanya yang jatuh dari matanya saat ia hendak berbalik meninggalkanku. Aku juga sempat melihat ia mendorong petugas pengontrol karcis di pintu keluar, hingga lelaki tua itu terhuyung ke belakang dan akhirnya terjatuh. Kereta itu akhirnya tiba. Tapi, apakah aku harus menaikinya? Tanpa Evelyn?
Maka, aku membiarkan orang-orang itu berdesakan masuk dan sebagian lagi berusaha untuk keluar. Keriuhan itu begitu memenuhi rongga pendengaranku, hingga aku tidak sempat mendengar seruan-seruan tertahan itu, suara-suara histeria itu, suara jeritan memilukan itu dan suara ban yang berdecit mengilukan itu.
Evelyn tewas dalam hitungan menit. Sementara, pengemudi sepeda motor itu segera melarikan diri. Tidak ada yang berhasil mencegahnya, tidak ada yang sempat mencatat plat nomornya, tidak ada yang berbuat apa-apa. Entah bagaimana aku sudah berada di sisi tubuhnya yang berlumuran darah dan ia secara samar mengucapkan kata terakhirnya, “Aku benci kamu.” Lalu terkulai lemah. Entah bagaimana juga, aku kemudian berada di ruangan yang serba berwarna putih, di atas ranjang rumah sakit. Kepalaku pening, aku terlalu lelah untuk berpikir. Aku hanya bisa memikirkan satu, aku menyesal.
Mungkin tidak seharusnya aku mengkhianatinya. Aku seharusnya tidak tergoda dengan Mira, perempuan yang kutemui di acara bachelor party itu. Aku seharusnya melupakannya, bukan malah melanjutkan hubungan yang terlalu jauh dengannya. Aku seharusnya tahu, kalau Evelyn pasti bisa merasakan apa yang ku rasakan. Bahwa kami terlalu identik dalam hal perasaan, hingga ia bisa merasakan apa yang tersirat di dalam hati dan menyentuh emosi yang tidak terluapkan, begitu juga aku. Kami tidak tahu, kenapa bisa seperti itu. Dan pastinya, Evelyn pun merasakan perihal ketidaksetiaanku.
Kesalahanku memang terlalu berat, aku telah mereguk anggur terlalu jauh dengan Mira. Aku tahu kalau aku ini bajingan, cecunguk yang memanfaatkan kesempatan terkecil sekalipun. Aku telah memperburuk keadaan dan mengubah kehidupan yang harusnya bisa terus berdenyut. Aku menyesal sekali. Maka, aku tidak menemui Mira lagi atau yang berhubungan dengannya setelah itu. Sehingga, aku membiarkan jiwaku hampa tanpa peri kecilku. Haus akan kasih yang pernah ditawarkan Evelyn. Rindu akan rasa mabuk yang dulu memaksa peleburan jiwaku.
Aku juga masih ingat ketika rambutnya yang hitam panjang sebahu itu tergerai dan menari dibelai angin, bagaimana bulu matanya yang lentik itu mengikuti kelopaknya mengerjap-ngerjap saat manahan silau dan menyetubuhi bola matanya yang bening, juga bagaimana bibirnya yang mungil merekah dan selalu basah itu mengecupku perlahan dalam keremangan senja. Betapa banyak kenangan yang tercipta bersamanya, betapa tak terhingga waktu yang terlampaui oleh cinta dan semua itu hanyalah buah kisah di masa lalu. Sekarang kenyataannya adalah aku duduk di bangku yang sama ketika kami berpisah dan di sampingku bukanlah Evelyn lagi, tapi orang-orang aneh yang tidak aku kenali.
Pukul 16.10 dan kereta yang aku tunggu bersama lusinan kepala di peron ini belum juga tiba. Entah butuh kesabaran yang bagaimana lagi untuk membunuh rasa bosan. Entah butuh waktu yang berapa bilangan lagi untuk sebuah penungguan. Semua orang mulai letih dalam kegelisahan, menunduk pasrah atau mengumpat sekotor mungkin dalam stasiun yang penuh sesak manusia, barang dan binatang.
Tidak hanya kereta tujuanku yang terlambat, tujuan yang lainpun begitu. Ada apa ini? Ada apa dengan gerbong-gerbong harapan itu? Beberapa orang mulai meninggalkan stasiun, mencari alternatif angkutan lain. Apakah aku harus tetap menunggu? Tampaknya aku tak punya pilihan, selain menunggu dan menikmati penungguan ini.
Nenek dengan plastik-plastik penuh belanjaan di sampingku mulai beranjak pergi, begitu pula dengan lelaki berkacamata tebal itu. Pukul 16.20 dan terdengarlah pengumuman dari corong-corong itu, bahwa kereta akan segera bergiliran tiba. Ketika lokomotif kereta mulai tampak, aku bersiap bangkit. Tapi, perempuan serba hijau di sampingku itu belum beranjak. Rupanya ia tertidur. Aku menyentuh bahunya dan ia pun segera terbangun, menampik tanganku dengan refleks. Aku terkejut seketika.
Ia tampaknya menyadari bahwa aku tidak bermaksud lain kecuali hanya membangunkannya. “Maaf, terima kasih,” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, kemudian ia berlari menuju kereta dan bergabung dengan calon penumpang yang lain. Tubuhnya yang berbalut pakaian dan asesoris bernuansa hijau itu, tampak menyolok di antara penumpang lain. Sementara, aku masih terkejut, tidak mempercayai apa yang barui saja aku lihat dengan mata kepala sendiri. Evelyn.
Ia begitu mirip dengan Evelyn. Ketika ia mulai menghilang di tengah keramaian, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, mencoba mengalihkan pikiranku yang melulu Evelyn. Tapi tadi itu benar, aku tidak mungkin memungkiri penglihatanku sendiri, ia mirip sekali dengan Evelyn.
Corong pengumuman memberitahukan bahwa kereta tujuanku akan segera berangkat. Aku pun segera berlari mengejar kereta yang mulai beranjak pergi. Kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tidak untuk yang kedua kalinya.
***
Jakarta, 28 Oktober 2004
04/12/07
Kamu Kok Garing, Sih?

SMU Bintang Senja pada pagi hari, suasana sangatlah tenang. Sepasang kakek-nenek sedang mengajak anjing pudel mereka untuk jalan-jalan pagi dan berhenti sejenak. Mereka saling bergandeng tangan dan tersenyum, sambil menunggui anjing mereka yang buang air di tiang listrik depan sekolah. Sekolah teladan yang tiap tahunnya selalu menyeleksi angkatan terbaik itu, benar-benar menunjukkan kualitas yang sesungguhnya dari sekolah swasta terbaik seantero jagad, menurut pernyataan Pak Budi, sang kepala sekolah.
Dua detik kemudian, setelah tulisan di atas diturunkan, terdengarlah suara-suara tawa dan teriakan yang membahana. Otomatis sepasang kakek-nenek tadi pada semaput, sementara anjing kecil itu panik dan menjilati pipi majikannya untuk membuat mereka segera sadar.
Apa sebab? Ternyata suara pemecah keheningan itu berasal dari kelas 3 IPS 2. Ikki yang merupakan pencetus dan bersuara paling keras itu, kini memegangi perutnya menahan tawa. Penyebabnya satu, ada anak baru pindahan dari SMEA Pita Merah yang sedang memperkenalkan diri. Jamhari namanya, cupu tampangnya, plintat-plintut omongannya. Rambutnya disisir belah pinggir, pakai bedak di keningnya, baju yang digulung karena kebesaran dan celana yang menggantung di atas mata kaki.
“Heh, sudah-sudah... jangan pada ribut. Kasih kesempatan pada kawan baru kita ini, dong. Ayo Jamhari, silahkan teruskan,” kata Bu Siwi coba menguasai keadaan.
Jamhari yang terlanjur ditertawai teman-teman barunya tersebut, kini mulai tampak berkeringat dan membuat bedak di keningnya luntur. Anak-anak pun bertambah riuh, mereka tertawa sejadi-jadinya.
“N-na-nama saya Jamhari, anak sulung dari pasangan Tohari dan Lastri Aminudin, tinggal di Kampung Gabus Rt 7 Rw 12 No. 176 A, ...” ujar Jamhari sambil menyeka keringat di keningnya. Anak-anak pada sakit perut. Beberapa dari mereka kini keluar kelas, ada yang ke paturasan[1] karena tak kuasa menahan pipis, ada yang sekedar ke lapangan agar bisa tertawa sepuasnya, bahkan ada juga yang ke ruang PMR, minta obat penenang.
Begitulah awal perkenalan anak-anak dengan Jamhari. Awalnya memang lucu, karena dengan berdiri saja Jamhari sudah lucu, apalagi membuka mulut dengan menunjukkan behelnya yang berwarna-warni. “Itu behel apa sisa-sisa sarapan, Jam?” tanya Bambang iseng suatu ketika dan disambut dengan tawa anak-anak.
Jamhari memakai kacamata tebal yang entah minus berapa, ia juga terkenal kutu buku, walau kepintarannya belum teruji. Tetapi, kalau urusan pelajaran ekonomi dan akuntansi dia-lah jagonya. Konon, dia adalah siswa nomor satu di SMEA dulu. Lantas kenapa ia pindah?
“Kan enak, di sekolah lo dulu banyak ceweknya,” komentar Johan.
“Udah gitu, pasti kalo pelajaran olahraga ganti bajunya pada di kelas, kan?” timpal Indro.
“Saya nggak tertarik sama yang gitu-gituan,” jawab Jamhari suatu ketika.
“Wah, jangan-jangan lo homo, ya?”
“Hus! Lo jangan sembarangan ngatain orang homo gitu, dong. Lo kayak nggak pernah diajarin tata krama aja,” bentak Ikki membela Jamhari. Jamhari pun senang merasa ada yang membela. “Emang lo nggak liat tampang Jamhari yang macho gini? Ya, nggak mungkinlah dia homo. Palingan gay... Iya, nggak?” sergah Ikki sambil merangkul Jamhari. Anak-anak pun tertawa, sementara Jamhari yang kesal, juga tertawa walau tanpa nada.
Tapi belakangan ini, anak-anak akhirnya menyadari kalau Jamhari itu agak garing, setiap pembicaraan dia melulu soal akuntansi yang sesungguhnya sangat dijauhi anak-anak, terutama Ikki.
Seperti di suatu siang menjelang pulang sekolah. “Waduh, kalo pelajaran kosong gini, enaknya ngapain, ya?” tanya Bambang iseng pada teman-temannya.
“Gimana kalo kita belajar akuntansi aja. Kebetulan waktu di SMEA dulu, saya diajarin rumus menghitung cepat tentang kalkulasi budget yang harus dipersiapkan,” tukas Jamhari sambil mengeluarkan buku besarnya.
“???”
Ketika anak-anak sedang berkumpul sambil main tebak-tebakan atau cerita-cerita konyol di pojok ruangan saat jam kosong seperti biasa pun, Jamhari selalu nimbrung. Suasana menjadi garing.
“Eh, gua punya tebakan, nih!” tukas Johan membuat teman-temannya berkumpul.
“Alaah, paling-paling gampang ditebak lagi,” kata Ikki cuek.
“Enggak bakalan, deh. Kenapa rel kereta banyak kerikilnya?”
“Karena kalo dikasih permen, anak-anak pada ngerubungin!” jawab Bambang sukses.
“Kenapa Superman celana dalemnya merah?” tanya Johan lagi.
“Biar matching ama sepatunya!” jawab Ikki puas. Anak-anak tertawa.
“Keriput, lengket, cepet, bisa terbang. Apa hayo?” masih Johan keki.
“Nenek-nenek nempel di pesawat terbang!” jawab Ikki cepat.
“Tuh, kan. Ketebak. Payah, nih,” ucap Santi. Sementara Ikki mengangkat alisnya bangga.
“Kalo gitu biar gue sekarang. Daerah apa di Jakarta yang namanya terinspirasi dari artis terkenal luar negeri?” tantang Ikki.
“Apa, ya?”
“Duh, gue nggak tau, Ki.”
“Wah, nyerah deh, Ki.”
“Slipi.”
“Kok Slipi?”
“Iya, Slipi Wonder.”
Anak-anak pun terpaksa menyetujuinya.
Tiba-tiba, dengan gaya kalem dan cengengesan khasnya, Jamhari ikut nimbrung. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Sinta. Dengan sopan, Sinta pun pamit pergi. Diikuti Santi.
“Kenapa Jam?”
“Iya, kok cengengesan kayak gitu?”
“Tadi tebakannya lucu, hehe... ada lagi gak yang lainnya?”
Anak-anak saling melempar pandangan. Ikki melihat Bambang, Bambang melihat Johan, Johan melihat Ali, Ali melihat Bejo, Bejo melihat Indro, Indro melihat Jamhari. Nah, Jamhari bingung, ia harus melihat siapa, akhirnya ia melihat-lihat saja. Nggak jelas!
“Gue ada nih,” cetus Bejo dengan logat Jawa-nya yang sungguh kental dan sama sekali tidak pas mengucap kata ‘Gue’.
“Iya..iya, mau dong,” ucap Jamhari senang.
“Basah, asin, mbanyak disukai orang. Tahu ndak?”
“.....”
“Ancol!” serbu Jamhari.
Anak-anak menoleh ke Jamhari, terperangah karena mengira ternyata Jamhari cerdas juga.
“Kenapa Ancol?”
“Nggak tau, nebak aja. Emang salah, ya?”
Kontan anak-anak pun menghela nafas bersama-sama.
Atau ketika anak-anak sedang berkumpul di kantin seusai pulang sekolah. Ikki tiba-tiba punya usul untuk kemping.
“Sebentar lagi kan liburan nih. Masa setiap liburan cuma kita isi ama main PS atau main layangan, atau paling banter manggang-manggang. Kita harus cari alternatif lain. Maka itu, gue ngusulin gimana kalo kita kemping?” celoteh Ikki panjang lebar di depan anak-anak.
“Tapi, kita kemping kemana, Ki?”
“Gue udah nanya-nanya. Menurut orang-orang yang paling oke tuh ke Gunung Gede.”
“Kita pake tenda siapa?”
“Iya, kita pake tenda siapa?”
“Gue takut nggak boleh ma bonyok gue, nih.”
“Apa saja yang harus dipersiapkan?”
“Tapi, kata mbah gue. Ndak baik naik gunung pas malem Jum’at kliwon. Mbahaya katanya.”
“Gue ikut dong!” seru Jamhari yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
“Wah, kayaknya nggak jadi, deh. Mendingan kita belajar aja. Soalnya sebentar lagi kan mau ujian akhir. Kita juga harus mikirin SPMB. Yuk, mendingan kita pulang aja,” tukas Ikki kemudian.
Anak-anak pun pulang, karena mencium akan datangnya sedikit bahaya dan teror mental dari makhluk bernama Jamhari itu.
Jamhari itu benar-benar perusak suasana, begitu kesimpulan anak-anak. Tapi dibalik itu semua, tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Jamhari dalam kesehariannya. Bahwa bedak di keningnya adalah untuk mengatasi penyakit biang keringat yang tampaknya abadi semenjak ia kecil, tidak mampu untuk beli obat mahal seperti yang disarankan dokternya dulu. Bahwa penyebab Jamhari menjadi garing karena ia tidak bergaul dengan orang lain yang sebayanya. Televisi 14 inch itu sudah lama rusak, tidak ada gambar, cuma suaranya saja.
Jamhari selalu berusaha untuk masuk ke dalam lingkup pergaulan anak-anak, baik di sekolah yang dulu, maupun yang sekarang. Tapi, ia selalu gagal. Parahnya, ia tidak peka akan hal tersebut. Ia selalu dijauhi teman-temannya, kalaupun ada yang mendekati itu berarti ada yang salah dengan teman tersebut (lho?!).
Teman-temannya tidak tahu kalau Jamhari pindah ke sekolah itu karena sekolah yang lama men-drop out dirinya, lantaran bayaran sekolahnya menunggak selama enam bulan. Teman-temannya tidak ada yang tahu betapa sulitnya kehidupan ekonomi keluarga Jamhari. Kenyataan bahwa ibunya adalah seorang single parent setelah kematian ayahnya akibat tumor otak dua tahun yang lalu, membuatnya ikut prihatin luar dalam. Juga mengenai dirinya yang harus menjadi loper koran di pagi hari dan bekerja di tempat cuci motor dekat rumahnya pada sore harinya. Semua ia lakukan demi ibunya untuk membantu bayaran sekolahnya, juga adiknya, Miralda, yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP.
“Jamhari!! Anterin nih kue ke warungnya Mpok Hindun. Tar kalo udah itu, beli jeruk nipis di Bang Ro’up buat obat batuk Mira. Sekalian kalo ada Bu Haryati, minta daun jambu biji buat Emak, soalnya agak mencret, nih.”
Baru saja Jamhari hendak meninggalkan pintu rumah kontrakannya, ibunya teriak lagi. “Sekalian minta kecap sesendok buat temennya jeruk nipis. Jangan lupa, ya!”
“Iya, Mak.” Jamhari segera berlalu dan kembali terdengar ibunya yang berseru.
“Lho, kamu mau kemana?”
“Ya, kan tadi Emak suruh ke...”
“Itu, kuenya nggak dibawa?”
“Oh, iya. Maap lupa.”
“Dasar gemblung[2]!”
Jakarta,April 2005
Sadira

Masih ingatkah kau dengan sebaris kata itu? Sebuah kata yang pernah kita sepakati berdua ketika menunjuk satu bintang terang di langit bagian selatan. Kita memang sama-sama tidak mengetahui berada di rasi manakah bintang itu atau bagaimana orbitnya akan mempengaruhi alam, kita hanya tertarik dan memandangnya sebagai sesuatu yang indah. Bintang yang kita beri nama “Sadira” itu lalu mengerlingkan dirinya ketika kita memberinya nama. Sadira artinya bintang dalam bahasa Arab. Tidak sengaja aku menemukannya. Kata itu selalu mengingatkanku tentangmu, sekali lagi.
Saat aku menyusuri jalan kota yang lengang di tengah malam ini, sinar Sadira begitu mencuri perhatianku. Aku yakin itu Sadira, bukan bintang yang lain, karena ia memang berbeda dan yang pasti ia akan mengerling setiap kali aku memanggilnya “Sadira”.
Malam ini begitu dingin, butir-butir air selepas hujan menggelayut di ujung-ujung dedaunan dan ranting-ranting yang patah. Aku berjalan sendiri, mengatupkan kedua tanganku sambil sesekali meniupnya untuk sekedar menghangatkannya sesaat. Aku tahu angkutan kota yang biasa membawaku sepanjang perjalanan tiga kilometer ini habis beredar selepas pukul sepuluh malam, tetapi aku memang harus bekerja lembur malam ini.
Perutku mulai susah diajak kompromi akhir-akhir ini, selalu meraung-raung ketika aku telat memanjakannya dengan makanan. Dulu aku biasa tidak menghiraukannya, tetapi kali ini rupanya ia sudah benar-benar kesal denganku. Kemarin, ia protes berat dan aku harus membeli obat maag untuk menenangkannya. Setelah itu, ia mengancam akan lebih menyiksaku jika aku terlambat lagi memberinya makan. Ia mungkin tidak tahu, bahkan untuk makan pun aku kesulitan mengingat kecilnya gaji sebagai seorang pegawai percetakan.
Ini adalah pekerjaanku yang kesekian, setelah aku bosan bekerja di pabrik rokok, tukang parkir dan penjual tahu. Di percetakan ini, aku bebas memilih waktu kerja lembur, bisa sesuka hati.
Vebrika, kali ini aku akan menceritakan beberapa keluh kesahku yang akhir-akhir ini seolah membelenggu hariku. Kepalaku selalu saja terasa pening jika aku bangun di pagi hari. Aku tidak tahu sebabnya dan tidak mungkin hanya akibat dari tidur yang terlalu larut, karena biasanya memang tidak pernah demikian sebelumnya. Sakitnya terkadang menjadi luar biasa saat aku memaksa untuk terjaga dari tidur, sampai aku pernah berkeinginan untuk memenggalnya agar hilang nyeriku.
Dokter neurologi yang aku sempat kunjungi berkata bahwa itu akibat dari stress yang aku alami belakangan ini. Atasanku sering memanfaatkan keinginan lemburku, dengan membebani bermacam-macam pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan percetakan tempatku bekerja. Tumpukan kertas-kertas judi itupun masih menunggu untuk diambil olehnya ketika aku pulang.
Uang yang kudapatkan memang lumayan, tetapi hati kecilku selalu memberontak jika aku menggunakannya sendiri. Alhasil, aku hanya menghabiskan uang itu tanpa pernah aku rasakan manfaatnya. Kadang jika aku bertemu teman di jalan, aku traktir ia makan dan jika aku kesepian di akhir pekan, aku habiskan di rumah-rumah bordil atau minum minuman keras bersama teman yang entah selalu aku temui di mana saja.
Nista memang, tetapi aku tidak punya pilihan lain, mungkin punya tetapi aku selalu mengabaikannya. Perutku semakin tidak terurus karena gaji pokokku yang memang untuk biaya logistik selalu kurang dari keinginan. Tubuhku semakin kering, mataku cekung ke dalam dan rahangku semakin hadir kaku.
Selain dirimu, tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk makan, apalagi menjaga kesehatan. Di awal-awal perpisahan bahkan aku sempat tidak sadarkan diri di tempat kerja maupun di mana aku berdiam, karena jiwaku kosong dan hampa. Akupun menjadi lemah. Namun, terkadang aku masih bisa tersenyum, walau getir, saat menatap langit malam, terlebih jika kujumpai Sadira di sana. Di luar itu, aku hanyalah sebatang kering ranting tua yang kehilangan inti.
Aku benar-benar kehilanganmu, kau tahu itu?
Aku merasakan sepatuku basah, semakin basah saat tanpa sengaja kuinjak sebuah genangan air. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya aku mengeluh karenanya, sebab toh keadaan tidak akan berubah. Sekarang yang aku bisa lakukan hanya menatap langit malam yang berangsur-angsur semakin jernih setelah awan pembawa hujan itu menyingkir, membuka tabir purnama dan membiarkan gemintang turut mencerahkannya.
Sepi, kecuali desiran angin malam yang membelai wajahku dan suara-suara katak di hamparan rawa yang terbentang di sisi kanan jalan. Dingin ini menusuk-nusuk tubuhku, sampai ke persendian, membuatku menggigil ngilu dan tidak bisa menguasai bibirku yang terus bergetar.
Sial! Perutku kembali berteriak. Terakhir aku isi jam sepuluh tadi pagi dan sekarang... sudah pukul satu dini hari. Kukencangkan lagi ikat pinggangku, berharap ini untuk yang terakhir kalinya.
Ah, agak mendingan sekarang! Aku telah menambah tiga lubang untuk ikat pinggangku. Jika aku bercermin, aku selalu merasa terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Tapi, tidak apa, selama aku masih bisa berdiri dan terus bisa mengingat tentangmu.
Sadira kecil itu masih terus menamaniku. Menemani setiap langkahku yang berat. Ia mengerling lagi, betapa indahnya. Aku kembali tersenyum.
Kau tentu ingat, dulu kita pernah berbaring di sebuah lapangan luas berumput di sisi rel kereta api itu. Tangan kita berpegangan, saling menatap dan tersenyum. Walau pengetahuan kita tentang astronomi sangatlah minim, tapi kita sangat menikmati gugusan bintang-bintang itu.
“Indah.”
“Iya.”
Dan kau menatapku, sekali lagi.
“Aku ingin selalu dekat denganmu.”
“Aku juga ingin selalu ada untukmu.”
“Tidak dengan yang lain.”
“Tidak akan ada yang tersisa selain dirimu.”
“Sampai kapan?”
“Sampai nafasku berhenti berhembus.”
“Selama malam masih ada.”
“Kenapa harus malam?”
“... Karena bintang-bintang itu.”
Kau pun tersenyum. Senyuman terindah yang pernah aku lihat. Masih yang terindah, bahkan sampai saat ini sekalipun.
Satu bintang tampak mencuri perhatian di langit belahan selatan. Indah, berkelap-kelip. Seolah ingin menunjukkan dirinya berbeda dari yang lain. Seolah ingin memberitahu bahwa dirinya ‘ada’. Entah mengapa, tiba-tiba kita ingin menamainya dan menjadikannya milik kita. Semoga bintang itu menerima. Kita pun sepakat memberinya nama Sadira. Nama yang indah, jarang ditemui.
“Jika kita nanti kita terpisah jauh...”
“... sapa saja Sadira, biar rindu terredam.”
Lalu senyum. Begitulah kita. Banyak hal-hal yang tidak membutuhkan media verbal untuk mengungkapkannya, tapi kita memahaminya.
Apapun yang kita lakukan saat itu mungkin adalah sebuah bahasa cinta. Apapun yang kita ucapkan mungkin merupakan ungkapan kasih. Semua itu adalah sebuah kisah, cerita yang hanya dapat ditemui di masa lalu. Aku tidak tahu, apakah kau melihat Sadira juga malam ini atau kau memilih untuk mempunyai bintang yang lain. Aku juga tidak tahu apakah masih ada aku di setiap hembusan nafasmu. Ataukah masih ada aku di setiap mimpi indahmu. Sama seperti kata-katamu beberapa saat yang lalu, di saat semua masih nyata dan mimpiku bukanlah sekedar ilusi.
Jika surat ini sampai kepadamu, terimalah dengan tidak menaruh curiga kalau aku ingin kembali kepadamu. Aku hanya nyaman bercerita denganmu, tidak dengan yang lain. Jadi, ku harap kau tidak bosan membaca semua ini. Aku akan mematikan lampu, agar aku bisa tidur dengan sedikit nyenyak saat ini, ketika aku selesai menuliskan semua.
Berilah aku kabar, Vebrika. Setidaknya aku butuh itu. Aku hanya ingin tahu kau tersenyum di sana, bahagia dengan kehidupan yang kau pilih.
Jika saja aku masih diberi kesempatan untuk dapat melihatmu lagi, aku akan mengecup ujung jemarimu dan memberikan setangkai anggrek bulan merah jambu seperti janjiku di awal mimpi.
Jakarta, April 2005
