04/12/07

Dongeng Sebelum Tidur



Dulu, ayahku selalu mendongeng sebelum aku tidur. Dengan sabar, ia menceritakan kisah kancil, putri tidur atau Abu Nawas padaku. Di tempat tidurku yang berwarna hijau itu, ayahku pun sering didongengkan oleh kakekku semasa ia kecil. Sekarang, umurku menginjak dua puluh tujuh, seminggu lagi aku akan menikah. Menikah dengan kekasihku yang sangat mencintaiku. Tapi, pertanyaanku adalah, apakah nanti suamiku akan mendongeng untuk anak kami? Ketakutan itu seringkali muncul belakangan ini, terlebih ketika aku menaiki tempat tidur seperti malam ini.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam dan aku masih belum juga merasakan kantuk. Aku mencoba menghitung domba, tapi setelah domba-domba itu melintasi kepalaku dan menyentuh angka hampir seratus, nyatanya aku masih terjaga. Aku tiba-tiba merasakan ingin didongengi. Aku rindu cerita-cerita ayah, kisah fabelnya, kisah nabi-nabi, dan terkadang diselipi cerita masa kecil ayah yang menurutku sempurna. Dimana ayah sekarang? Ibu bilang, ayah hanya pergi sebentar, mungkin untuk membeli rujak. Ya, kala itu ibuku sedang ngidam dibelikan rujak. Tapi, sampai hari ini ayahku belum juga kembali. Setiap aku tanya, ibu selalu menjawab hal yang sama, ayah pergi mencari rujak buat ibu.


Akhirnya, malam itu aku tertidur. Aku bermimpi bertemu ayah. Ayah tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Ayah menaiki seekor gajah yang besar. Wah, aku suka sekali gajah. Ayah memang pernah bilang kalau ia akan mendongeng tentang seekor gajah bernama Bima yang menjadi penyelamat para pengembara dan penebang kayu kalau mereka kesasar atau menemui masalah di hutan.


Ayah segera menghampiriku dan memintaku naik. Aku melihat wajah ayah semakin jelas. Wajahnya dipenuhi brewok. Ia tampak lama tidak bercukur. Tapi, senyum itu masih sama. Senyum termanis. Bahkan lebih indah dari ibuku. Maaf ya, Ibu.


“Bima, ini namanya Saras.”


Gajah itu segera mengeluarkan bunyi terompet kecil dari belalainya, disertai gemuruh riang dari perutnya. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan. Belalai itu lalu menyambut tanganku dan menyemburku dengan cairan kental, lengket serta bau. Aku bangun dengan tubuh berkeringat. Keningku diusap oleh ayah. Masih di dalam mimpikah? Aku melihat ayahku tersenyum. Wajahnya dipenuhi brewok. Ia tersenyum. Senyum termanis.


“Ayah, aku ingin didongengkan. Tapi tolong jangan bercerita tentang Bima. Aku tidak suka.”



* * *

8 Juli 2007

Tidak ada komentar: