13/12/07

Suatu Siang di Perempatan Kota


Helios berdiri sendiri. Di tengah keriuhan kota dan kini menatap tajam ke arah puncak bangunan tertinggi yang dikaguminya. Saat itu pukul dua belas siang, sudah waktunya ia melakukan apa yang harus dilakukan. Hal itu sudah lama ia simpan, ia rahasiakan, ia jaga, dari siapapun atau apapun yang mencoba mencurinya.

Sudah waktunya, batin Helios mantap. Maka ia pun menghembuskan nafas kuat-kuat, lalu melangkah dalam riuh keseharian kota.

Ia bukannya tidak memiliki orang yang sanggup untuk berbagi rahasia, ia bahkan memiliki sahabat-sahabat terdekat yang tak terhitung jumlahnya. Terlebih lagi dengan Wulan, dara itu bahkan telah mengisi hati dan jiwanya selama lebih dari tiga masa terakhir. Ia banyak menggantungkan cita-cita serta beberapa keinginan, bahkan yang mustahil sekalipun padanya. Begitu berharganya, Helios tidak sampai hati untuk menyentuhnya sedikitpun. Sebuah asa serta jawaban atas do’anya selama ini dan ia tidak berani memberitahukan rahasianya.

Begitu berartinya rahasia itu, sampai paksaan dan derita ia alami untuk tetap mempertahankannya. Begitu besarnya rahasia tersebut, sampai ia sendiri merasa terbebani dan memutuskan untuk mengungkapkan pada semuanya siang ini. Sempat ia hampir mengurungkan niatnya, berulang-ulang kali sebelumnya bahkan, namun ia sudah merasa lelah terdesak musuh-musuhnya. Ia memilih pukul dua belas, sesuai dengan angka keberuntungan yang selama ini dipegangnya.

Helios tidak membawa apa-apa selain rahasia itu, polos dan utuh, tidak seperti yang terbayang mengenai figur seorang pembawa rahasia besar yang akan mengubah dunia.

Dan Helios akhirnya memberitahu rahasianya. Pernyataan dan kenyataan bahwa ia bukan lahir dari rahim ibunya, serta jumlah udara yang bisa bersamanya tak lama lagi. Maka, semua orang berpikir dan merenung tentangnya. Enam puluh kaki, Helios melihat ke bawahnya.

***

13 Juli 2005

Tidak ada komentar: