
Joe, si tikus kecil, berjalan sendiri di pinggir trotoar jalan yang mulai sepi. Ia merasa telah dikhianati oleh istrinya yang main gila dengan tikus lain. Maka, jadilah ia sendiri malam itu. Padahal ia sangat cinta terhadap istrinya yang baru dua minggu ia nikahi dalam sebuah pesta perkawinan sederhana nan sakral. Tapi sekarang? Yah, this is live... Welcome to the jungle baby...
Rintik hujan yang pertama mulai turun. Joe merasakannya. Rintik kedua jatuh tepat di sudut mata, saat ia menengadah ke atas. Perih rasanya. Ia lantas buru-buru mengucek matanya. Hujan makin deras dan Joe membiarkan dirinya sendiri didera air hujan yang menambah kelamnya malam.
Pagi itu, ia sebagai tikus rumahan mulai aktif mencari remah-remah di dapur. Ia seketika mendengar suara tikus lain yang mencicit keras. Rupanya Bobby, kucing berbulu abu-abu itu mengejar seekor tikus. Tikus rumahan juga, sama seperti Joe. Hanya saja, Joe belum pernah melihatnya. Joe mengikuti dengan matanya bagaimana tikus yang ternyata perempuan itu berlari, berkelok dan melompat kecil demi lolos dari cengkeraman Bobby. Joe masih terpaku.... ia terpesona. Sampai akhirnya, sebuah goresan kuat kuku Bobby mengenai punggung tikus perempuan itu. Dengan cepat, Joe berlari menerjang dan mengabaikan keberadaan Bobby, kemudian ia menarik buntut si tikus dan mengajaknya menghindar. Sejak saat itu, Joe dan Na, begitu nama si tikus perempuan, selalu kemana-mana berdua. Sampai akhirnya menikah.
Terkesiap, Joe menyadari dirinya basah kuyup diguyur hujan. Ia melihat ke arah tikus got berlari melintasi jalan. Ia juga melihat tikus got lain masuk ke sela trotoar. Satu lagi, ia melihat sosok tikus yang baru saja terlindas mobil yang lewat. Bau amis menyergap udara lembab. Ia sedikit mengenali wajah si tikus yang hampir seluruhnya remuk itu. Joe terkejut sesaat. Tebak, apa yang dilihatnya? Ia mengenalinya lewat carut melintang di moncongnya yang kini penuh darah. Itu adalah tikus yang mencuri hatiku. Mampus...!!, ucap lirih Joe dalam riuh hujan. Dimana Na? Entahlah. Yang pasti Joe tidak akan kembali padanya. Sudah cukup. Cukup atas semua permintaan maaf Na yang selalu berbuah candu. Cukup atas semua kesabaran yang telah ia berikan.
And the night goes on....
Joe menggigil. Ia bergegas menuju sebuah lubang besar di dinding. Ia melihat sebuah mobil kembali lewat dan melindas sisa jasad si tikus malang yang menjadi hancur dan sebagian terbawa arus air hujan hingga masuk ke selokan.
And the night still goes on....
Jakarta, 10 Juni 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar