Bulir-bulir hujan tadi kini berubah menjadi derai-derai air mata langit yang turun deras menerpa kepalaku. Aku tahu benar bagaimana rasanya dibohongi, diperlakukan semena-mena dan diberi minum air sabun. Bahkan, aku tahu benar bagaimana caci maki menjadi menu utamaku setiap pagi. Aku mencoba sabar, berharap esok akan lebih baik dan semua ketakutanku akan terbayar dengan senyuman. Tapi kenyataannya, hari ini kau pergi. Aku sendiri kau tinggalkan tanpa secarik pesan kecil berisi kata-kata kasar di lemari pendingin seperti kemarin atau kemarinnya lagi.
“Ia akan baik-baik saja,” ujar seorang bertubuh gempal di sebelahku yang sama sekali tak kukenal. Ia menggunakan payung besar warna merah untuk menahan hujan. Aku menjadi teduh karenanya.
“Tidak, aku yang akan baik-baik saja, bukan?”
“Yah, itu juga,” ia tersenyum.
Aku memang akan baik-baik saja, tapi aku pasti akan sangat rindu denganmu nanti. Seorang perempuan di tandu tak berdaya menuju ambulance.
Tempat ini kemudian menjadi sangat ramai dan terdengar beberapa gunjingan tentang bagaimana ibu menganiaya aku. Ya, hanya aku. Itu dia yang membuatku tak habis pikir. Dan aku menjawabnya hari ini.
“Selamat tinggal ibu,” ucapku lirih.
***
Jakarta, 20 Maret 2008
25/03/08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar