Sejenak, di sela-sela batang rerumputan basah, seekor jangkrik bersembunyi dari kejaran beberapa anak manusia. Jantungnya berdegup kencang. Ia memang berhasil melarikan diri, tapi anak-anak manusia itu sudah terbiasa menangkap para jangkrik. Setelah ditangkap, biasanya jangkrik akan diadu dengan sesamanya. Atau paling beruntung, jangkrik-jangkrik itu dimasukkan ke dalam kandang bambu sekedar untuk dipelihara dan didengar suaranya, sampai mati. Namun jangkrik yang satu ini tidak mau menerimanya, ia tidak rela nyawanya disabung dengan cara seperti itu. Sekedar untuk meninggikan martabat? Atau karena ia merasa punya hak untuk hidup lebih lama? Tidak. Lalu apa alasannya? Jangkrik ini hanya tidak ingin harga dirinya diinjak-injak dan tunduk pada manusia yang katanya makhluk superior itu.
Seketika, jangkrik pemberani ini menemukan cara untuk lari, bukan dari masalah, tapi ke arah sebaliknya. Jangkrik ini berlari mencari perhatian anak-anak manusia itu. Ya, anak-anak manusia itu melihatnya, lalu mengejar dengan suara yang ramai. Jangkrik terus berlari, melompat dan melesat, ke arah semak berduri. Dari kejauhan, terdengar suara teriakan-teriakan mengaduh beberapa anak manusia.
***
Jakarta, 14 Februari 2008
18/03/08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar