18/03/08

MATAHARI, TULIP dan LILY

I
Aku sangat mencintaimu
Sebisa mungkin membelai lekuk tubuhmu selalu
Juga mengecup segenap kelopakmu
Sanggupkah kau akan hasratku?

Aku sangat merindukanmu
Bahkan ketika peluhku bersemai benih cinta yang lain
Juga segenggam mahkota yang selalu memintaku kembali
Hingga mimpi yang teriris pelepah kesalahan

Satu hal, akankah kau mengerti?
Sampai sedalam mana ku terluka



II
Aku kini terjebak di tengah buih pasir
Di ujung karang yang menambah biru perihku
Kau melihatku
Ya, jelas kau melihatku

Dimana janjimu empat belas tahun lalu?
Berjalan dengan mata tertutup, hingga terjatuh dalam kubangan
Satu jejak disesapi dua langkah
Hingga memerah bulan di ujung kepala

Masihkah kau ingat?
Sampai habis desau nafas ini



III
Kuharap kau masih seputih dulu
Tanpa bercak dan jejak lain
Selain aku
Cukup, hanya aku

Aku kini berubah menjadi bayang semu
Yang menurutmu selalu mengikutimu
Padahal sumpah mati aku tidak melakukannya
Apalagi menyiakan waktu untuk itu

Sampai kapan kau di situ?
Hingga terbit matahari lagi?


***

Jakarta, 18 Februari 2008

Tidak ada komentar: