Apa jadinya kalau kita terperangkap di tengah sebuah keadaan yang menjemukan, di mana kita tidak bisa merubah keadaan itu. Stuck. Bahkan, tidak jarang kita akan merasakan frustasi atau depresi. Hal inilah yang menjadi tema Lions For Lambs garapan Robert Redford. Redford yang juga duduk di kursi sutradara mengatakan bahwa inilah yang dapat ia lakukan untuk Amerika Serikat. Ia sangat mencintai negaranya tersebut. Ia ingin membuat perubahan dan melempar fakta bahwa ada sekelompok kecil orang di negara itu yang ingin merubah paradigma buruk Amerika di mata dunia. Namun sekali lagi, mereka terperangkap dalam sistem. Yup, selamat datang di lingkaran setan.Lions For Lambs bercerita tentang tiga peristiwa. Dua mahasiswa Universitas West Coast, Arian (Derek Luke) dan Ernest (Michael Pena) terjun ke medan perang di Afghanistan. Mereka tampaknya terinspirasi oleh dosen mereka, Dr. Malley (Robert Redford), yang dulu sempat berlaga di perang Vietnam. Arian dan Derek adalah mahasiswa cerdas dan bertekad ingin membuat perubahan. Setidaknya, menurut versi mereka, jika mereka bisa kembali dari Afghanistan, status mereka akan meningkat. Nah, kalau sudah begitu, omongan serta perlaku mereka bisa dihargai oleh bangsa Amerika. Mereka yakin hanya dengan cara itulah suara hati mereka bisa didengar.
Dr. Malley sendiri kini menghadapi seorang mahasiswa berandal bernama Todd (Andrew Garfield), yang dinilai cukup cerdas, pandai berbicara dan mengemukakan pendapat, tetapi tidak disiplin. Todd ditegur sekaligus diberi peringatan oleh Malley supaya melanjutkan kuliah atau ia akan mendapat nilai tanpa harus ikut kuliah lagi. Todd ber-argumen bahwa untuk apa ia belajar jika sistem pemerintahan yang ada sangat tidak patut dicontoh. Todd sangat tidak respect terhadap pemimpin di Amerika yang beranggapan bahwa Amerika adalah polisi dunia dan bertanggungjawab terhadap perdamaian dunia. Todd tidak menganggap itu sebagai tindakan seorang manusia dewasa, tidak lebih dari sekedar ego dan ambisi semata. Mahasiswa dan dosen itu terlibat perdebatan serius, mulai dari Plato-Socrates sampai George W. Bush.
Di sisi lain, seorang jurnalis senior televisi bernama Janine Roth (Meryl Streep) mendapatkan wawancara ekslusif dengan Senator Jasper Irving (Tom Cruise). Irving yang mengincar kursi yang lebih bagus di pemerintahan, ingin agar media meng-ekspose perkembangan Afghanistan. Karena Amerika telah mengirim tim kecil untuk menaklukkan negara (yang menurut mereka) teroris tersebut. Janine dan Irving beradu pandangan mengenai kondisi Amerika kini. Irving mengungkapkan betapa bangganya ia kalau bisa membentuk perdamaian, walaupun dengan cara perang dan dibenci sebagian orang. Irving selalu beranggapan bahwa yang Amerika lakukan untuk kebaikan. Namun Janine tidak melihat sisi tersebut, ia justru berpendapat bahwa pemerintah terlalu tergesa-gesa dan ceroboh dalam melakukan tindakan. Perang bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan pride. Janine sebagai perwakilan media diharap bisa membantu pemerintah dalam menentukan opini publik. Hal itulah yang menjadi dilema bagi Janine kini.
Film ini sangat kuat dari segi tema, namun terasa terlalu banyak dialog. Kita seperti menonton acara dialog yang penuh perdebatan. Redford tampaknya mengeluarkan energi yang sangat banyak untuk film ini. Terlihat dari intens dan semangatnya di lokasi syuting, juga fokusnya pada naskah. Overall, Lions For Lambs menjadi alternatif yang layak diperhitungkan, terlebih lagi tema yang diangkat sangat up to date. Tetapi masalahnya, saya merasa ini adalah sebuah sisi kesia-siaan, pesimistik dan hanya sekedar pelemparan masalah ke tengah-tengah audience. Tidak ada nilai patriotik atau setitik cahaya harapan bagi Amerika.
Lions For Lambs mungkin hanya sebuah potret mengenai sebuah negara besar bernama Amerika yang terjerat oleh rantai sistem masa lalu yang tidak mungkin mereka pecahkan. Konklusi ini dapat saya rasakan setelah mengetahui ending cerita. Kita akan melihat bagaimana akhir dari scene Todd, Janine dan Arian-Derek. Kita akan melihat bagaimana hasil akhir usaha mereka untuk sebuah perubahan. [hp]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar