Perjalanan seseorang memang tidak bisa dengan mudah diprediksi. Tampaknya hal inilah yang menjadi topik utama yang saya dapat dari film arahan Henry Adianto. From Bandung With Love adalah film drama cinta remaja yang diharapkan akan mengisi kekosongan pada genre tersebut akhir-akhir ini.Cerita dimulai ketika Vega (Marsha Timothy) memutuskan untuk membahas masalah perselingkuhan dan kesetiaan dalam siaran radionya minggu depan. Dia muncul dengan teori bahwa 11 dari 10 lelaki itu tidak setia. Usaha Vega pun dibawa ke kantor advertising yang mempekerjakan dia sebagai freelance copy writer. Dia mengamati lalu memilih Ryan (Kieran Sidhu), creative director yang terkenal playboy. Vega memanfaatkan waktu seminggu menjelang siaran untuk mendekati Ryan, untuk mencari tau dari sisi lelaki yang katanya ‘tidak setia’. Usaha Vega ini sempat diprotes oleh kekasihnya, Dion (Richard Kevin), yang mempunyai sifat pasif dan ‘pasrah’. Vega menenangkan Dion dan berjanji bahwa misinya akan berhasil dalam enam hari.
Tapi, ternyata memang apapun bisa terjadi dalam enam hari.Vega jatuh cinta pada Ryan karena Ryan memang tahu benar how to treat a woman, sebuah karakter yang berbeda dengan DION, pacar Vega yang sebenarnya. Hingga di satu titik Vega menyadari bahwa dia lah yang tidak setia. Tidak setia dengan misinya, dengan Dion, dengan sahabatnya, bahkan dengan dirinya sendiri. Akhirnya, siapakah yang Vega dapatkan setelah enam hari?
Kesan awal yang saya dapatkan di film ini adalah, terlalu banyaknya sponsor yang built in dan mengganggu mood saya ketika menonton. Seperti di scene awal, tampak Vega yang sedang siaran dengan backgorund sticker nama radio, begitu juga semua pemain yang merokok, menghisap merek rokok yang sama dan semua pemain yang melakukan kegiatan ketik-mengetik menggunakan satu merek komputer/notebook yang sama. Pertanyaannya adalah, is that possible? Karena bisa saja sponsor tersebut tidak divisualisasikan secara hard sell dan memenuhi setiap sequent. Sebenarnya itu tergantung bagaimana men-treat dan deal di awalnya saja, toh?
Alur cerita cukup menarik dan mampu membuat saya intens menonton, hanya saja –selain gangguan built in sponsor- beberapa pemain pendukung terlihat kaku dan saya gemas karenanya. Thus, tampaknya sutradara menginginkan treatment yang berbeda ketika tokoh mengalami konflik psikologis maupun dengan pemain lainnya, kamera dibuat hand held dan dibiarkan long take atau editingnya menggunakan jumpcut. Itu sebenarnya tidak masalah, asalkan ada planting untuk itu dan perubahannya juga tidak serta merta. Efek umum yang penonton rasakan akhirnya hanyalah sebuah ketergangguan, kecil atau besarnya tingkat ketergangguan tersebut memang tergantung pada penonton, tapi alangkah baiknya jika sutradara lebih memperhatikan detailnya.
Overall, From Bandung With Love adalah usaha positif yang juga patut dapat respon positif, meskipun kota Bandung sebagai setting utama tidak terlalu di-expose di sini. [hp]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar