
"Seharusnya hanya Tuhan yang punya kemampuan seperti kalian, berada di mana-mana dalam satu waktu," kata Roland sebelum membunuh salah seorang jumper di Asia.
Petikan kata-kata di atas menurut saya merupakan inti dari film Jumper, arahan sutradara Doug Liman. Jika anda tahu Doug Liman yang pernah membuat 'Bourne Identity' dan 'Mr & Mrs. Smith' ini, pasti sudah terbayang bagaimana style-nya dalam menyutradarai. Di film Jumper, permainan special efek dan teknik penceritaannya saya acungi jempol. Tidak berlebihan menurut saya, karena memang itu yang saya rasakan ketika menonton film berdurasi 88 menit ini.
Cerita berawal dari David Rice muda yang tenggelam di sungai, beberapa saat kemudian, ia sudah berada di perpustakaan dalam keadaan basah kuyup. David awalnya tidak mengerti hal tersebut, sampai kemudian ia mengalaminya lagi. Ayahnya yang berang mengejar David sampai ke kamarnya, seketika David sudah berada di tempat lain. Rupanya ia mengerti, ia bisa melakukan teleport, berpindah tempat dalam sekejap.
David muda lalu mempunyai pikiran nakal yang kenyataannya akan membawa dia ke pangkal permasalahan dari film ini. Ia membobol brankas bank. Dengan mudahnya, ia mengambil uang ke dalam karung dan kemudian menaruhnya di dalam kamar, begitu seterusnya hingga kamar itu penuh dengan dollar. David menjadi kaya mendadak. Ia pun bisa berwisata ke berbagai belahan dunia dengan sekejap mata.
Beberapa tahun kemudian, David (Hayden Christensen) dikunjungi Roland (Samuel L. Jackson) di apartemen mewahnya. Itulah awal konflik antara David dengan kaum Paladin, pemburu para jumper. Roland hendak menahannya, tapi David berhasil kabur. Di tengah pelariannya, David bertemu dengan Griffin (Jamie Bell) yang tengah berjuang keras seorang diri melawan Paladin. Awalnya, Griffin tidak mau 'ditebengi', tapi karena memaksa akhirnya David pun boleh ikutan. Peperangan diantara kedua belah pihak tak terelakkan, sampai membawa serta Emily Harris (Rachel Bilson), kekasih David.
Kisah mengenai teleport tentunya tidak asing, setelah kemunculan para teleporter di beberapa seri Star Trek, Nightcrawler di film X-Men dan Alicia Baker di Smallville, tampaknya ide tentang teleporting menjadi cepat populer. Siapa pula yang tidak mau punya kelebihan seperti itu? Anywhere is possible, is that something impossible?
Film yang diangkat dari novel karya Steven Gould ini cukup memanjakan mata dengan disuguhkannya gambar-gambar yang 'nakal', seperti ketika David berjemur di kepala Sphinx. Special efek yang ada juga tampak tidak berlebihan, semua sesuai porsinya. Satu hal yang membuat saya bingung adalah mengenai para jumper, kemana para jumper yang lainnya? Bukankah banyak jumlahnya? [heripurwoko]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar