30/11/07

Surat Pertama Tentang Kerinduan


Rasanya aneh memang, jika aku dengan mudah begitu saja melupakanmu, melupakan orang yang pernah membuat hidupku terasa berwarna. Walaupun aku telah mencoba banyak cara untuk mengalihkan pikiranku terhadapmu, tetapi tetap saja selalu dirimu yang ada di hadapanku, tersenyum lirih menatap kepergianku.

Vebrika, aku akhirnya menulis surat untukmu setelah kepergianku setahun yang lalu. Kau tahu, waktu selalu begitu cepat berlalu dan membawa kabur segala kenangan yang tak mampu terserap rasa. Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu yang menyuruhku berhenti minum kopi dan soda. Penyebab penyakit jantung dan hati, katamu. Tapi seperti yang kau tahu, aku selalu tidak pernah mempercayai segala sesuatu yang berhubungan dengan ramalan atau perkiraan, walau yang mengatakannya seorang dokter atau orang pintar sekalipun.

Terakhir kudengar perihal tentang dirimu melalui teman kita, Jonru. Ia mengatakan bahwa kau baru saja ditinggalkan oleh tunanganmu, Yufo, yang katanya anak kota itu. Aku pernah sekali bertemu dengannya, dulu sebelum ia mengambil alih semua peranku, ia dengan bangga dan agak sedikit “tinggi” mengatakan kalau ia bekerja sebagai pilot di salah satu perusahaan penerbangan internasional. Keluar masuk negeri dan singgah di setiap perhentian yang menurutnya sangat menyenangkan, belum lagi dengan waktu yang dihabiskan selama persinggahan untuk belanja barang-barang dan tetek bengek serba luar negeri yang menurutnya lebih berkualitas. Tapi tentunya kau juga tahu, aku sangat tidak menyukai orang-orang bermulut besar seperti itu. Untung aku hanya menemuinya sekali saja, saat aku bertandang ke rumahmu di akhir pekan sebelum aku pergi. Kalau aku kembali melihatnya, tentu akan aku jahit mulutnya yang pintar bicara itu.

Tapi, kenapa akhirnya ia pergi meninggalkanmu? Bukankah waktu itu kau mengatakan bahwa memilihnya jauh lebih masuk akal daripada tetap denganku? Bukankah kau juga yang mengatakan bahwa pilihanmu kali itu sangat disetujui banyak pihak? Memang kenyataannya seperti itu bukan, aku tetaplah aku, dengan segala kekurangan yang hampir menutupi sedikit kelebihan yang ku punya. Aku sangat menyetujui keputusanmu saat itu, terlebih lagi kalian memang cocok dan kuharap dapat terus mencintai satu sama lain. Lantas kenapa ia pergi di saat kalian sudah bertunangan? Oh... aku tahu, mungkin jiwa terbangnya sebagai pilot tidak dapat terbendung lagi. Tenang saja, jika memang jodoh ia pasti akan kembali. Seperti kata pepatah, setinggi-tingginya bangau terbang, toh ia akan kembali ke sarangnya lagi.

Bagaimana kabar ayah dan ibumu? Masihkah rumah makan mereka laku keras seperti biasanya? Pastinya demikian, karena masakan mereka yang paling enak se-dunia. Aku tidak membual, buktinya hampir setiap hari aku makan di rumah makan mereka sewaktu masih di kota itu dan rasanya sungguh nikmat, apalagi ditambah dengan seorang gadis manis anak si pemilik rumah makan yang terus menatapku saat makan.

Lalu kabar Valerina, adikmu? Ia gadis kecil yang paling cerewet yang pernah aku temui. Seringkali ketika aku menanyakan kabarmu, dengan cerianya ia malah meminta sebatang cokelat sebagai imbalan atas jawaban yang akan ia berikan. Kau tahu akibatnya kalau aku tidak membawa cokelat, ia pasti akan minta aku menceritakan dongeng-dongeng dunia sebanyak yang aku tahu.

Beberapa bulan setelah perpisahan kita, aku sempat menuliskan lagu untukmu dan aku selalu menyanyikannya setiap malam sebelum aku tertidur, berharap malaikat mendengarnya dan menyampaikannya untukmu.

14021987

“Masih ingatkah kau tentangku, juga tentang hari kemarin saat bersama

Mencoba mencari makna, mengais semua arti tentang cinta

Berdua kita melangkah perlahan meniti arah dalam rimba

Sepenggal kisah pun terukir, kenangan pun tercipta tentang kita

Waktu yang berlalu cepat, seiring dan seirama dengan rasa

Pudarkan semua asa, larutkan segenap cerita retakkan jiwa

Entah siapa yang salah atau hanyalah keadaan yang tak tepat

Kita pun harus berpisah ikuti rencana waktu tanpa bisa membantah

Hanya dirimu yang masih melingkari hariku

Tanpa pernah bisa aku ingkari

Hanya lembutmu yang masih terasa

Usap hatiku, belai sifatku

Kau memang begitu indah, bahkan mungkin terlalu indah dalam kata

Tak sedikitpun darimu yang mampu buatku lelah dan kecewa

Sampai tiba akhir waktuku, ku tak ingin kau bersedih atas semua

Hingga nanti di suatu saat ku ‘kan datang bawa segenggam bintang ‘tuk cerahkan malammu”


Begitulah, mungkin terkesan picisan dan kampungan. Judulnya pun kuambil dari tanggal, bulan dan tahun kelahiranmu, bukan karena untuk gaya atau mengambil kesan misterius, tetapi karena aku sendiri bingung dalam memilih judul yang tepat. Kenyataannya, banyak juga yang menyukai lagu itu setiap kali aku menyanyikannya.

Saat ini aku sedang berada di sebuah kota yang cukup dingin, sampai-sampai aku mengenakan lima pakaian sekaligus untuk menghalau hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Kau masih ingat bukan, kalau aku benci sekali dengan dingin, bahkan kipas anginpun aku tidak suka. Ingin rasanya aku genggam bara api sebanyak mungkin untuk menghangatkan tubuhku, tapi ternyata cukup dengan mengenangmu aku juga bisa merasa hangat dan nyaman.

Aku baru dua minggu di kota ini dan merasa bahwa aku akan lama singgah di sini. Seperti pengembara pada umumnya, mencari pekerjaan sementara sebagai apapun lalu meninggalkannya ketika mulai terasa bosan. Tapi kali ini beda, aku bekerja di sebuah pabrik rokok dan aku menikmati aromanya. Agak aneh memang untuk seorang yang bukan perokok sepertiku dan memang aku benci dengan tembakau, tapi sekali lagi ini sungguh berbeda. Aku memang tidak tertarik untuk merokok, namun aku kini suka harumnya. Bukan pabrik besar, pekerja yang ramah, atau udara dingin yang membuatku merasa enggan meninggalkan ini semua begitu saja, namun ada sesuatu yang aku sendiri tidak tahu dan itu terus membuatku tinggal.

Di hari pertama aku tiba, aku mendapat semacam peringatan dari seseorang yang tidak aku kenal. Dia berkata bahwa kota ini akan segera mendapat suatu hal yang tidak dapat dilupakan oleh orang yang tinggal di dalamnya. Saat mengatakan itu, kedua matanya menyorot tajam ke dalam mataku dan setelah itu ia pergi menghilang di tikungan pertama. Aku tidak suka memikirkan hal-hal yang berbau ramalan seperti itu, tetapi entah mengapa aku kemudian berniat menanti apa yang dikatakannya.

Empat hari yang lalu, terjadi peristiwa menghebohkan di kota ini. Senja datang lebih cepat dan setelah itu matahari tergelincir perlahan sekali. Entah memang demikian atau hanya ilusiku saja, tetapi peristiwa itu memanglah nyata bagiku. Langit berubah menjadi merah keemasan, menyisakan warna-warna sunyi di setiap materi sejauh mata memandang. Semua orang terpana, terkesima dan takjub atas peristiwa itu, tapi juga sekaligus gelisah dan khawatir atas apa yang kemudian akan terjadi. Entah berapa jam senja itu tertambat, diakhiri dengan segaris jingga kebiruan di cakrawala dan semua berangsur menjadi gelap.

Mengapa masih saja ada peristiwa alam yang tidak kita mengerti? Bukankah pengetahuan dan teknologi sudah begitu maju? Kloning dan berbagai usaha manusia untuk bisa mewujudkan segalanya telah tampak gamblang di mana-mana, tetapi rupanya ada beberapa hal yang tetap tak bisa tersentuh oleh akal dan itu masih akan tetap menjadi misteri.

Ah, aku terlalu banyak berkisah. Mungkin saja kau tidak percaya dengan semua hal yang aku tulis ini, tetapi aku telah menceritakan yang memang aku ketahui. Ku harap kau tidak bosan atau mengantuk jika membaca ini semua, karena ini adalah surat pertama dari rangkaian kisah-kisah yang sedang dan akan aku alami selanjutnya yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan. Hanya padamu aku bisa dengan tenang dan nyaman bercerita, mungkin karena kesabaran dan senyummu yang tidak dapat aku ingkari keindahannya.

Kau tahu, setelah peristiwa “senja tertambat” itu semua orang seolah menunggu, termasuk juga aku. Sebagian ada yang berkata bahwa itu adalah pertanda buruk, walaupun sebagian lagi mengatakan akan datang suatu keajaiban yang akan menyelamatkan negeri ini. Aku sendiri tidak berani memihak pada salah satu dari mereka, karena aku takut kecewa jika menaruh harapan pada sesuatu yang tidak pasti.

Untuk sebuah misteri itulah aku tetap berada di kota ini. Baru dua minggu, pikirku, dan masih akan membutuhkan kesabaran dalam penungguan yang tidak terbatas ini. Mungkin saja benar akan terjadi bencana atau sesuatu yang benar-benar buruk dan akan menamatkan riwayat semua, tetapi mungkin juga akan datang suatu kebaikan atau perubahan yang akan membawa angin segar ke dalam tiap-tiap hati.

Rasanya cukup sekian untuk kali ini, karena aku juga harus beranjak tidur untuk bisa terjaga esok pagi dan kembali mencium aroma harum tembakau di sepanjang hariku. Aku harap kau masih terus di sana dengan kenyataan yang harus terus dijalani dengan tenang.

Jika saja aku masih diberi kesempatan untuk dapat melihatmu lagi, aku akan mengecup kelopak matamu dan memberikan setangkai anggrek bulan merah jambu seperti janjiku di awal mimpi.


***

Jakarta, 19 Januari 2005

Tidak ada komentar: